Aksesibilitas Tuli dalam Layanan Kesehatan:
Wujudkan Inklusi Medis Bersama UC

Aksesibilitas Tuli dalam Layanan Kesehatan

Membicarakan Aksesibilitas Tuli dalam Layanan Kesehatan membuka mata kita betapa pentingnya rasa empati bagi calon tenaga medis masa depan. Kamu pasti setuju bahwa dokter yang hebat tidak cuma mengandalkan hafalan buku tebal, tetapi juga wajib memiliki kepedulian tinggi saat melayani pasien. Sayangnya, hambatan komunikasi sering kali membuat teman-teman Tuli merasa ragu saat mengunjungi rumah sakit umum. Kalau kamu bercita-cita menjadi tenaga medis profesional yang revolusioner, kamu wajib memahami isu sosial ini sejak bangku kuliah.

Mengapa Aksesibilitas Tuli dalam Layanan Kesehatan Sangat Penting?

Ketika kamu membayangkan suasana klinik, kamu mungkin melihat antrean panjang dan dokter yang sibuk memeriksa pasien. Namun, pernahkah kamu memikirkan bagaimana seorang pasien Tuli menjelaskan keluhan sakitnya? Berdasarkan laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai urgensi penanganan gangguan pendengaran global, jutaan individu membutuhkan fasilitas komunikasi yang setara di ranah fasilitas medis setiap tahunnya.

Masalah inilah yang mendasari kolaborasi strategis antara Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra (UC) Surabaya dan Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) Jawa Timur lewat Kuliah Tamu Blok Pediatri. Kak Adhien Fadhli Rochmad, S.Pd., selaku Koordinator Pusbisindo Jatim, menyoroti urgensi kolaborasi ini.

“Tujuan kami adalah mendorong layanan kesehatan yang lebih inklusif bagi teman-teman tuli,” jelas Kak Adhien. Beliau sangat berharap mahasiswa kedokteran bisa memahami dasar bahasa isyarat dan komunikasi pasien tuli, sehingga ke depannya pelayanan masyarakat bisa menjadi lebih ramah, setara, dan tanpa hambatan.

Visi Fakultas Kedokteran UC:
Cetak Dokter yang Peka dan Inovatif

Aksesibilitas Tuli dalam Layanan Kesehatan

Sebagai kampus yang menanamkan semangat entrepreneurship, Universitas Ciputra selalu melatih mahasiswanya melihat celah masalah sosial dan merumuskan solusi cerdas. dr. Areta Idarto, Sp.A., M.A.R.S., M.M., selaku moderator dan dosen, memaparkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen kampus.

“Di Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya, kita ingin mempersiapkan mahasiswa yang nantinya menjadi dokter-dokter yang melayani masyarakat, memiliki rasa empati, kepedulian, dan juga wawasan yang terbuka,” tegas dr. Areta. Beliau menuturkan bahwa mahasiswa akan melayani masyarakat luas tanpa memandang latar belakang.

Lebih lanjut, dr. Areta menekankan bahwa interaksi langsung dengan teman-teman Tuli membantu mahasiswa memahami serta menghormati budaya Tuli. “Ini adalah bagian dari social accountability kami untuk menciptakan dokter-dokter yang tidak hanya kompeten dalam bidang klinis, tapi juga dokter yang peka, peduli, dan menjadi pembawa perubahan,” tambahnya. Pada akhirnya, dr. Areta menutup pesannya dengan kalimat tajam, “Karena apalah artinya pelayanan kesehatan apabila tidak bisa menjangkau setiap orang?”

Suara Mahasiswa Gen Z:
Buka Perspektif Baru Lewat Bahasa Isyarat

Aksesibilitas Tuli dalam Layanan Kesehatan

Lalu, bagaimana tanggapan mahasiswa Gen Z yang mengikuti sesi ini? Ternyata antusiasme mereka sangat luar biasa! Eklesia, salah satu mahasiswa Kedokteran angkatan 2023, merasa mendapatkan pengalaman belajar yang menyegarkan. “Kalo buat aku banyak banget belajar hal baru hari ini. Menurut aku ini sangat kreatif juga karena dari visual mereka bisa membahasakan itu,” ungkapnya.

Hal senada juga Emil sampaikan. Sebagai calon dokter, ia merasa wawasan ini akan sangat berguna. “Ini luar biasa ya, karena kita bisa melihat perspektif baru dari teman-teman Tuli. Ini penting banget terutama bagi kami ke depannya saat menjadi dokter,” tutur Emil.

Tentu saja, mempelajari hal baru butuh proses. Claudine, yang juga mahasiswa angkatan 2023, menyadari tantangan komunikasi tersebut. “Bahasa yang teman-teman Tuli gunakan mungkin buat kita ‘teman dengar’ yang baru pertama kali belajar terasa susah dan sangat kompleks. Jadi memang perlu waktu belajar supaya kita bisa ngobrol langsung sama teman-teman Tuli,” kata Claudine dengan penuh semangat.

Membangun karir medis yang berdampak luas harus kamu mulai dari lingkungan yang mendukung inovasi. Seorang dokter berjiwa entrepreneur akan menjadikan fasilitas ramah disabilitas sebagai keunggulan utama (Unique Value Proposition) saat kelak mendirikan klinik atau rumah sakit. Sekarang adalah momen paling tepat bagi kamu mengambil keputusan. Jadikan dirimu bagian dari agen perubahan medis yang inklusif dengan bergabung melalui portal pendaftaran mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra. Bersama-sama, mari kita ciptakan standar kesehatan yang merangkul semua pihak!

Wujudkan impian kuliahmu di Universitas Ciputra!

Klik tombol di bawah untuk tahu lebih banyak tentang beasiswa & promo pendaftaran terbaru.

Artikel lain
WhatsApp