[Ditulis oleh: Hadjar Chanissa Nur Malika, FIKOM 2020]

Kompetisi debat yang biasanya dilangsungkan secara tatap muka dan tersaji dengan suara keras oleh masing-masing peserta atau hentakan bulpoin di meja, kini bisa dinikmati secara virtual. Namun, hal itu tidak mengurangi esensi dan rasa semangat yang tersirat dari para peserta maupun panitia. Lucunya, suasana malah sempat memanas saat sedang berlangsung technical meeting, hal itu dimulai saat mulai berlangsung sesi tanya jawab. Salah satu peserta dari Universitas Sumatera Utara (USU), melontarkan pertanyaan sekaligus masukan yang lebih terdengar seperti protes karena tutur bahasanya yang terkesan “nge-gas” . Dia menyatakan bahwa sistem untuk bertanding yang ditetapkan panitia tidak seperti sistem pada kompetisi debat kebanyakan. Begitu pula dengan peserta lain yang menyetujui dan sependapat dengan peserta dari USU. Akhirnya setelah panitia berunding, sistem akhirnya diubah seperti sistem yang diminta peserta.
Kompetisi ini diikuti oleh 27 tim dari 21 universitas yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Mulai dari universitas yang ada di Surabaya seperti UBAYA, ITS, UNAIR, hingga universitas yang ada di luar pulau seperti USU, UNMUL, dan UNAND. Di hari pertama kompetisi, 27 tim bertanding di babak penyisihan. Ada tiga sesi dalam babak penyisihan ini, nantinya akan diambil 12 besar untuk melanjutkan ke babak selanjutnya yang dilaksanakan di hari kedua. Empat tim dengan nilai tertinggi memiliki kesempatan untuk langsung bertanding di babak semifinal, sedangkan untuk delapan tim lainnya akan bertanding lagi untuk bisa menuju babak semifinal.
Tiap sesi sebelum bertanding, peserta diberi waktu 30 menit untuk mendiskusikan case building atau penyusunan arguman setelah mendapat mosi dan kedudukan mereka sebagai tim pro atau kontra yang telah diberikan sambil diawasi oleh para panitia LO melalui media yang telah disepakati sebelumnya seperti WA video call, LINE video call, atau Google Meet. Adjudicator yang ada di UCDC di antaranya adalah Ramadhe Rossy S.P., Rizal Kuddah, dan Chantique Putri, ketiganya sudah memiliki pengalaman dan track record yang bagus dalam kompetisi debat di Indonesia maupun di luar negeri. Selain adjudicator, juga ada 18 juri panel yang turut menilai, termasuk di antaranya dosen dari Universitas Ciputra Surabaya.
Saat pertandingan sedang berlangsung, peserta tetap terlihat antusias dan semangat. Ada peserta yang bahkan terlihat mengetukkan bulpen ke meja. Setiap sesi interupsi juga menambah suasana yang panas karena peraduan argumen dari kedua tim yang seolah tidak ingin kalah satu sama lain. Peserta diberi waktu selama tujuh menit dua puluh detik untuk menyampaikan argumennya, sedangkan untuk pembicara penyimpul diberikan waktu selama empat menit dua puluh detik. Peserta juga bisa melihat nilai yang sudah mereka dapat melalui Tabbr.com melalui link yang diberikan panitia di awal acara. Tiap sesi, nilai tim mereka bisa mereka akses untuk menjaga transparasi nilai.
Setelah tiba di babak semifinal di hari kedua, di awal acara panitia dan peserta saling mendukung dan memberi semangat satu sama lain. Sebelum bertanding ada sesi ice breaking yang mampu mencairkan suasana tegang dan panas yang dihasilkan dari pertandingan hari pertama. Di sesi babak final, semakin terlihat panasnya suasana debat. Peserta terlihat semakin bergairah dibanding di hari pertama. Saat sesi final, pertandingan dapat dilihat melalui streaming Youtube. Komentar positif pun dilayangkan oleh para penonton Youtube. Saling menyemangati satu sama lain dan juga memberikan pandangan mengenai mosi yang sedang diperdebatkan oleh para peserta.
Akhirnya, Universitas Indonesia keluar sebagai juara 1, Universitas Andalas sebagai juara 2, dan Universitas Surabaya sebagai juara 3. Panitia juga membuat juara lain seperti peserta “ter-receh”, peserta “ter-sosialita” untuk memeriahkan acara penutup. Di akhir acara, para peserta dan panitia saling menyemangati dan bertukar Instagram. “Dari sekian banyak lomba yang pernah saya ikuti, ini lomba yang paling positive vibes, saling support antar panitia maupun peserta,” ucap salah satu peserta dari Universitas Indonesia.
