
[Ditulis oleh: Hadjar Chanissa Nur Malika, Mahasiswa FIKOM Angkatan 2020]
Seringkali dalam membangun hubungan komunikasi, kita hanya ingin menjadi seorang yang dominan. Lebih sering ingin didengar dan berbicara banyak hal tentang diri kita ketimbang mendengarkan lawan bicara dengan baik. Padahal salah satu kunci keberhasilan komunikasi ada pada seni mendengarkan dengan baik. Dalam bagian ini, Oh Su Hyang menjelaskan bagaimana cara agar menjadi seorang yang pintar mendengar namun juga pandai dalam berbicara.
“Teknik terpenting adalah dalam komunikasi adalah mendengar.”
Pada bagian sebelumya, sempat dituliskan ada rumus berkomunikasi yang sangat penting yaitu:
Communication= Question x Praise x Reaction (C=Q X P X R)
Sebelum masuk ke bagian ke-2, silakan baca terlebih dulu BAGIAN 1. Dalam bagian kedua ini lebih rinci membahas lpoin dan maksud dari rumus di atas. Rumus di atas terdiri dari tiga komponen yang sangat penting dalam komunikasi, yaitu tanya, pujian, dan reaksi. Komunikasi akan berjalan dengan baik dan lancar jika memuat ketiga hal tersebut.
- Pertanyaan
Ketika kita mengobrol dengan lawan bicara, melontarkan pertanyaan adalah salah satu bentuk ketertarikan kita terhadap orang tersebut. Orang lain tentu akan antusias dan merasa dihargai jika diberi pertanyaan yang sesuai dengan minat orang tersebut. Tentunya tidak semua pertanyaan bisa ditanyakan, apalagi kepada orang yang jarak kedekatannya masih kurang dengan kita. Pertanyaan seputar privasi dan hal yang sensitif, lebih baik dihindari.
Misalnya, ketika kita berkenalan dengan teman baru di kampus. Dia adalah orang yang suka dengan hal berbau Jepang dan animasi. Terlepas kita tidak tahu dan tidak terlalu tertarik dengan pembahasan seputar manga, kita bisa coba menanyakan “Kenapa kamu suka dengan manga?” atau “Sejak kapan kamu mulai belajar menggambar animasi?” Hal ini jelas akan membangkitkan antusiasnya dan merasa senang hati untuk menjelaskan ketertarikannya kepada kita. Komunikasi seperti ini akan membuatnya nyaman dan membuat jarak kedekatan dengan kita semakin rapat. Pun dalam suatu pertemuan, adanya pertanyaan basa-basi seperti “Rumahmu di mana?”, “Jalan ke sini naik apa?”, “Di jalan situ macet tidak?”, akan membuat suasana tidak menjadi canggung dan lebih hangat.
- Pujian
Melakukan pujian ketika mengobrol dengan seseorang juga menjadi bagian penting dalam berkomunikasi. Dalam buku ini dituliskan bahwa pujian mempunyai efek yang instan dan kuat. Contoh mudahnya seringkali kita temui di sekitar kita. Ketika ada seorang anak yang sangat lambat dalam belajar, daripada kita mengucapkan “Bodoh, gitu aja gak bisa” akan lebih baik jika kita mengucapkan “Kamu semangat belajarnya tinggi ya!” Kedua ucapan tersebut tentu akan menghasilkan efek yang berbeda ketika diucapkan ke anak. Jika ucapan pertama yang kita lontarkan, maka si anak akan semakin malas belajar karena merasa bodoh dan sekeras apapun dia mencoba tidak akan pernah bisa mengerjakan soalnya. Sementara, jika kita lontarkan pujian seperti kalimat kedua, maka dia akan merasa tersipu dan menjaga semangat belajarnya.
Pujian akan lebih baik jika dilakukan secara mendetail seperti “Kamu cocok pakai baju warna coklat”, “Rambutmu halus, pakai shampoo apa?” Pujian yang detail membuat orang lain merasa diperhatikan dan senang. Tentunya dalam melontarkan pujian, juga perlu ada seninya dan harus dilatih. Tidak semua hal bisa kita berikan sebagai pujian. Jika kita hanya asal saja dalam melontarkan pujian, orang lain bisa mengira bahwa kita hanya menjilat dan menginginkan sesuatu dari mereka.
- Reaksi
Ketika mendengarkan orang lain berbicara, yang tidak kalah penting adalah reaksi atau umpan balik yang kita berikan. Bayangkan betapa dongkolnya seseorang jika ia berbicara dengan antusias lalu kita hanya menimpali dengan “Oh, iya”, “Ohhh”, “Terus?” Memberikan reaksi yang baik tidak perlu menanggapi setiap ucapannya hingga berlebihan. Memberikan reaksi dengan menyimak obrolan tanpa bermain handphone, atau menimpali dengan pertanyaan ringan sudah cukup untuk membuat orang lain merasa obrolannya dihargai.
Dalam sub-bab “Dasar dari perdebatan, dengarkan!”. Bagian ini menjelaskan bahwa dasar dari debat bukanlah pembicaraan panas hingga timbul konflik, namun lebih menekankan pada mendengarkan pendapat lawan dan menjelaskan argumen kita dengan alasan yang logis dan rasional. Bagian ini juga mengutip pendapat dari Arthur Schopenhaurer:
“Jangan berdebat dengan siapa pun dan apa pun yang Anda temui. Jangan pernah memberikan argumen yang tidak berdasar. Namun, jika sudah terlanjur maka berdebatlah dengan orang yang cukup rasional. Jangan menekan dan berdebat hanya dengan orang yang mau mendengarkan alasan logis lawan bicara dan menerimanya. Orang yang adil dan tidak berpihak serta bisa menerima dengan lapang dada alasan yang tepat meskipun keluar dari mulut lawan bicara, orang tersebut harus rela mengakui kesalahan argumennya jika pendapat lawan dinilai benar”
Adapun cara untuk memenangkan suatu perkelahian, adalah mendengarkan. Dalam perdebatan, ketika lawan memberikan alasan dan argumennya, hal terpenting yang harus kita lakukan adalah menyimak, mendengarkan dengan baik, dan berusaha memahami sudut pandang lawan. Daripada kita selalu menyerang dan menyela yang dibicarakan, lebih baik kita memahami apa yang ingin disampaikan oleh lawan. Ketika berdebat, kita juga tidak boleh bersikeras dengan pendapat sendiri, namun juga mempertimbangakan argumen yang diberikan lawan. Ketika kita sudah memahami apa maksud dibalik argumen lawan, kita menjadi lebih mudah untuk memberikan alasan yang lebih logis dan rasional. Dengan begini, kita jauh lebih mudah untuk menang dengan cara mendengarkan.
Di akhir bagian bab ini, dijelaskan mengenai empat teknik mendengarkan:
- Respon: Anggukan kepala dengan ringan dan memberikan respon kecil.
- Mendengarkan hingga selesai: Jangan pernah memotong pembicaraaan orang lain, namun jika ia mulai melenceng dari topik dan melebar kemana-mana, segera tanggapi dan sangkal ucapannya agar kembali ke dalam topik.
- Menyimpulkan: Jika lawan bicara kita berbicara terlalu panjang, lebih baik kita simpulkan terlebih dahulu sebelum kita mengajukan pertanyaan.
- Mengikuti: Ulangi beberapa poin dari yang lawan bicara ucapkan sebelumnya. Dengan begini, lawan bicara akan merasa kita tertarik padanya dan merasa dihargai.
Begitulah pentingnya seni mendengar. Terkadang, kita hanya berfokus pada mempelajari bagaimana berkomunikasi yang baik hanya seputar cara untuk menjadi seorang pembicara. Padahal dalam komunikasi terdapat dua arah, jika kita hanya mahir di dalam satu arah sebagai pembicara, dan buruk dalam hal mendengar. Maka komunikasi yang ingin kita bangun akan gagal. Orang lain juga akan bosan dan enggan berkomunikasi dengan kita karena terlalu banyak membicarakan diri sendiri dan tidak mau mendengar pembicaraan orang lain.
