Ilustrasi: Kolaborasi BTS dengan Tokopedia | Sumber: tokopedia.net/blog

Belakangan ini, banyak brand lokal menggaet para selebriti Korea untuk mempromosikan produknya. Tidak main-main, artis yang diajak berkolaborasi adalah artis dengan nama yang sudah besar, seperti Siwon Super Junior, Song Joong Ki, hingga boygrup seperti BTS atau NCT. Mengajak promosi bintang-bintang Korea seperti mereka tentu menelan biaya yang sangat besar. Belum lagi biaya lainnya, seperti membayar peralatan untuk syuting iklan yang tentu tidak bisa sembarangan. Apakah mengajak bintang Korea untuk promosi produk adalah hal yang bisa dibilang terbayarkan dengan harga mahal atau hanya sekadar untuk gimmick agar menjadi atensi dan banyak dibicarakan khalayak? 

Sudah banyak sekali brand lokal Indonesia yang menggandeng para artis Korea dari industri manapun, mulai dari food and beverage, e-commerce, hingga produk perawatan kulit seperti Scarlett Whitening. Meski dari industri yang berbeda-beda, iklan dengan wajah bintang Korea rupanya sangat populer dan mampu menimbulkan atensi pada masyarakat. Banyaknya brand yang menggandeng artis Korea tentunya tidak terlepas dari adanya persaingan pasar yang ketat dan kompetitif, mengingat meluasnya area pasar. Tidak hanya nasional, namun juga ASEAN hingga mancanegara. Apalagi demam K-pop sedang naik-naiknya. Terutama di media sosial seperti Twitter yang hampir setiap hari pasti ada trending dari topik Korea. Maka tidak salah, jika marketing dari brand-brand tersebut rela ‘bakar uang’ terlebih dahulu untuk mendapatkan jangkauan dan penjualan yang besar. Bahkan Tokopedia juga menggelar acara Tokopedia Awards yang berisi banyak idol grup Korea terkenal seperti BTS, Twice, Aespa, Treasure, dan lainnya. Dalam artikel Bisnis.com, pakar marketing, Yuswohady, mengatakan bahwa strategi untuk menggaet bintang Korea bukanlah suatu hal yang baru lagi. Strategi ini merupakan golongan dari celebrity endorser. Biasanya artis yang digandeng adalah artis yang mampu menarik coverage dan awareness yang tinggi, meskipun engagement mereka tidak sebanyak influencer yang mengandalkan konten dan menjaga engagement agar tetap naik. Korea juga dinilai memiliki kebudayaan yang lebih mudah diterima pasar Asia daripada kebudayaan Barat. Maka tak heran, jika kolaborasi antara artis Korea lebih dipilih daripada dengan artis Barat. 

Tidak hanya untuk pasar dalam negeri, brand Indonesia juga menggandeng industri sinema Korea untuk mempromosikan produknya. Salah satunya adalah Kopiko. Penggemar drama Korea pasti familiar dengan judul drama Vicenzo dan Hometown Cha Cha. Kedua drama tersebut, menyelipkan iklan Kopiko di dalam adegan dramanya. Sontak, munculnya iklan Kopiko menjadi perbincangan masyarakat, tidak hanya di Indonesia, namun juga masyarakat Korea yang sepertinya penasaran dengan permen rasa kopi tersebut. Dalam Investor.id, Global Marketing Director Mayora Group Ricky Afrianto menjelaskan bahwa pihak mereka tahu bahwa campaign ini akan menghasilkan hal yang bagus. “Kombinasi dari riset yang kami lakukan, dengan superstar drama Korea, dan institusi sebagai pengusaha jadi kombinasi yang baik, lantas kita putuskan untuk lakukan campaign-nya” Ujarnya pada ASEAN Marketing Summint 2021. 

Lalu apakah menggandeng artis Korea dengan harga yang fantastis merupakan harga yang pantas untuk dilakukan? 

Jika melihat dari berbagai kasus yang ada, seperti antrian BTS Meal yang panjang hingga membuat pro-kontra sana-sini, padahal produknya tidak lebih dari makanan dengan bungkus warna ungu dengan logo BTS atau NU Green Tea yang diborong habis-habisan dan Lemonilo yang disobek karena banyak yang mengincar photocard (PC) yang ada di dalamnya. Rasanya masuk akal jika pihak marketing melakukan riset terhadap pasar dan menemukan potensi yang bagus jika membuat campaign dengan menggandeng artis Korea. Tidak hanya mendapatkan awareness dari perbincangan di media massa, produk-produk tersebut juga mendapatkan sales berkali-kali lipat, terutama jika menyisipkan merchandise limited edition dari artis tersebut. Harga yang diberikan untuk menggaet bintang Kpop rasanya setara dengan semua hal seperti engagement, awareness, dan sales yang diberikan dari paparan bintang Korea tersebut. 

Baru-baru ini, akun Tik Tok official_NCT juga membuat publik heboh karena mengunggah video Tik Tok berisi jogetan dari lagu Ndarboy Genk ‘Mendung Tanpo Udan’. Pada akhir Januari, terpantau video ini sudah ditonton lebih dari 7 juta. Hal ini tentu menjadi banyak perbincangan, tidak hanya di kalangan Kpopers namun juga pada kalangan non-Kpopers. Bahkan sejumlah publik figur juga turut memberikan respon terhadap video yang beredar. Sebut saja, Pak Sandiaga Uno selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengunggah video tersebut ke dalam reels Instagramnya. Di dalam caption-nya, Pak Menteri menulis sektor ekonomi kreatif sudah semakin mendunia. Ia juga menyebutkan bahwa ia bangga dan memberikan apresiasi pada Lemonilo yang berhasil memadukan apa yang sedang trending dan apa yang menjadi buah bibir di tanah air. 

Meski begitu, tentu ada beberapa dampak buruk dari adanya marketing seperti ini. Pihak marketing juga harus jeli dalam membuat segmentasi pasarnya, apakah idola yang akan digandeng adalah idola remaja atau idola dari orang-orang yang sudah lebih dewasa. Tentunya karena hal ini akan sangat berdampak pada respon yang timbul. Misalnya, penggemar remaja lebih impulsif dan mudah untuk mengeluarkan uang, terlebih jika ada merchandise dari idolanya yang ada di dalam produk atau penggemar yang lebih dewasa tentu akan mempertimbangkan dalam membeli produk. 

Dengan begitu, meski iklan dengan wajah bintang Korea kerap menuai kontra karena terkesan cari sensasi dan membuat gimmick, terbukti cara ini sangat efektif untuk membuat awareness terhadap produk dan membuat orang-orang non-penggemar juga melirik akibat para penggemar Korea yang aktif memperbincangkan idolanya ketika menjadi bintang iklan produk lokal.