Pada bulan Maret lalu, CEO Facebook, Mark Zuckerberg mengumumkan akan melakukan perubahan sistem komunikasi pada akun Facebook. Diharapkan, dengan sistem yang baru, Facebook bisa menjaga privasi pengguna dalam berkomunikasi. Di saat konferensi developer tahunan, Facebook menunjukkan perbedaan desain pada aplikasi seluler dan website. Terdapat fitur baru pada newsfeed, di mana pengguna bisa melakukan pengaturan apabila hanya ingin berbagi status dan konten pada grup tertentu daripada secara publik.

Hal ini akan memudahkan pengguna untuk berbagi informasi yang dirasa perlu untuk beberapa teman saja. Facebook berbenah pula di pengaturan encryption agar terintegrasi dengan aplikasi pesan miliknya, Whatsapp dan Messenger. Sepertinya Facebook menanggapi cukup serius beberapa kritik selama tiga tahun terakhir, bahwa mereka tidak bisa menjaga data dan informasi penggunanya. Dilansir dari www.nytimes.com, Federal Trade Commision Amerika Serikat akan mengenakan denda sebesar US$ 5 Milliar bagi perusahaan teknologi yang melanggar hak privasi konsumen.

Tentu saja, Facebook sebisa mungkin akan menghindari hal itu terjadi pada mereka, namun ada kelemahan untuk sistem privasi yang baru ini. Di saat konsep ‘privat’ tadi diimplementasikan, akan berdampak pada kemampuan supervisi Facebook, termasuk identifikasi perilaku yang membahayakan pengguna. Perjalanan untuk mewujudkan hal ini masih panjang, tim pengembangan aplikasi pun mengakui perlu bekerja keras untuk merubah sistem otomatisasi. Dari sisi pengguna, perlu atau tidaknya menjaga privasi data yang kita unggah di akun Facebook, bergantung pada si empunya akun. Sejauh mana informasi dibagikan, sudah sebaiknya memang dikendalikan oleh masing-masing pengguna. Bukankah apabila sudah memutuskan untuk menggunakan Facebook untuk berjejaring sosial, seharusnya kita sudah tahu resiko eksistensi di dunia maya? [Ari Priambada]