Ditulis oleh Hadjar Chanissa Nur Malika, mahasiswa FIKOM 2020.

Pemandangan saat senja di Kampung Inggris. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Mungkin hampir sebagian dari kita sudah pernah mendengar nama Kampung Inggris. Kampung Inggris ini terletak di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Lebih tepatnya berlokasi di Jalan Anyelir, Brawijaya, dan Jalan Kemuning di Desa Tulungrejo dan Desa Pelem. Mitosnya, masyarakat di kampung ini menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari, apakah benar?

Sejarah Singkat

Pada awalnya, hanya berdiri satu lembaga kurusu Bahasa Inggris yang menjadi cikal bakal Kampung Inggris saat ini, yaitu Basic English Course (BEC). BEC berdiri pada 15 Juni 1977 yang didirikan oleh Kalend Osein. Kalend Osein sendiri adalah seorang santri asal Kalimantan yang belajar di Pondok Modern Darussalaam, Gontor Ponorogo, Jawa Timur. Di pertengahan masa studinya, Kalend terpaksa putus sekolah karena tidak mampu menanggung biaya pendidikan. Pada masa itu, temannya memberi tahu bahwa ada seorang pengajar di Pare yang menguasai bahasa asing, yaitu KH Ahmad Yazid. Kalend akhirnya berguru di Ustadz Yazid dengan tinggal di Pesantren Darul Falah, Desa Pelem, Kecamatan Pare milik Ustadz Yazid.

Singkat cerita, ada dua mahasiswa IAN Sunan Ampel dari Surabaya yang ingin belajar untuk menghadapi ujian di kampusnya. Pada saat itu, Ustadz Yazid sedang pergi ke Majalengka, Jawa Barat. Dari arahan istri Ustadz Yazid, akhirnya Kalend yang mengajari kedua mahasiwa tersebut.

Pembelajaran yang dilakukan oleh Kalend berlangsung sangat singkat, yaitu hanya lima hari namun sangat efektif dan intens. Hal ini membuat mahasiswa IAN Sunan Ampel menjadi lulus ujian dan berita ini menjadi tersebar di kampusnya. Sejak saat itu, Kalend mendirikan lembaga kursus dengan nama Basic English Course (BEC) di Dusun Singgahan, Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kediri. Perlahan BEC mulai dikenal luas dan akibat meningkatnya minat masyarakat untuk belajar Bahasa Inggris membuat kuota lembaga menjadi membludak. Lalu, BEC pun membuka beberapa cabang yaitu Happy English Course (HEC 2) dan Effective English Conversation (EECC). Pada awal tahun 1990-an, Kalend mendorong para alumni BEC agar membuat lembaga kursus untuk menampung pelajar yang tidak mendapat kuota akibat banyaknya peminat yang ingin belajar di BEC. Perlahan-lahan lembaga kursus di Pare semakin bertambah jumlahnya dan membentuk suatu perkampungan. Saat ini, tercatat lebih dari 250 lembaga kursus yang ada di Kampung Inggris.

Kampung Inggris

Pengajar dan para peserta berkumpul di suatu kesempatan sebelum pandemi COVID-19 terjadi. Sumber: Kampung Inggris Pare.

Kampung Inggris sebetulnya kurang tepat jika dinamakan sebagai “Kampung Inggris” tapi lebih cocok untuk disebut “Kampung Bahasa”. Memang pada awalnya, lembaga yang dirintis adalah lembaga untuk belajar berbahasa Inggris, namun seiring perkembangan zaman, lembaga yang menjamur tidak hanya lembaga untuk belajar Bahasa Inggris, namun juga bahasa lain, seperti Bahasa Arab, Mandarin, Jepang, dan lainnya.

Umumnya orang awam, termasuk saya pertama kali mengira bahwa Kampung Inggris hanya memiliki satu lembaga besar, nyatanya ada banyak sekali lembaga yang ada di sini. Jadi ketika akan mencoba pengalaman berbahasa di sini, pastikan cari tahu dulu lembaga mana yang akan dipilih. Karena ada banyak sekali lembaga yang sudah besar dan lembaga rintisan yang masih kecil, namun memiliki kualitas pengajar yang tidak kalah dengan lembaga yang sudah besar.

Berbagai lembaga juga memiliki keunggulan dan spesialisasi masing-masing. Jika tujuan untuk datang ke Kampung Inggris hanya untuk liburan dan melepas penat, bisa mengambil kelas biasa yang berisi speaking, vocabularies, grammar, atau lainnya. Hal ini karena kita belajar Bahasa Inggris hanya untuk mengasah dan mengajak kita untuk berani berbicara Bahasa Inggris di depan umum. Biasanya, yang mengambil program ini adalah mahasiswa yang sedang libur atau lulusan sma yang ingin mengisi waktu sebelum masuk ke perkuliahan. Namun, ada juga yang bertujuan untuk belajar tes TOEFL atau IELTS untuk persiapan melamar beasiswa dan kerja. Di sini juga ada lembaga yang khusus mengajarkan Bahasa Inggris untuk orang-orang yang akan bekerja di pelayaran atau di pesawat. Biasanya materinya berupa Bahasa Inggris untuk interview kerja, speaking dan vocabularies yang manyangkut pekerjaan tersebut.

Untuk harganya bisa bervariasi, mulai dari Rp 200.000 hingga lima juta rupiah, tergantung di lembaga mana dan program apa yang akan diambil. Harga ini biasanya sudah termasuk camp atau tempat untuk tinggal, namun belum termasuk sewa sepeda yang biasa digunakan untuk transportasi murid di Kampung Inggris.

Pembelajaran

Salah satu kelas pembelajaran di Kampung Inggris. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Dari segi pembelajaran, tiap lembaga memang berbeda. Namun, ada persamaaan cara belajar dari setiap lembaga yang ada di Kampung Inggris. Yaitu, menerapkan semua muridnya untuk berbicara Bahasa Inggris di mana pun berada, entah di kelas, di dalam kamar, maupun berinteraksi dengan murid dari lembaga lain. Di sini ada beberapa penjual makanan, tukang tambal ban, dan penjaga warung toko yang berbicara bahasa Inggris untuk membantu murid dari lembaga mengasah keberaniannya berbicara Bahasa Inggris.

Dalam pembelajarannya, murid-murid tidak hanya melulu belajar di dalam kelas, namun juga pergi keluar kelas seperti ke café, warung, maupun lapangan untuk mengobrol dengan murid dari lembaga lain. Bahkan, salah satu lembaga juga ada yang mengajari untuk berjualan dengan Bahasa Inggris. Ada juga acara outing atau bepergian ke tempat wisata seperti Bromo bahkan Bali untuk mengajak murid-murid mempraktikkan ilmu speaking mereka yang sudah mereka pelajari sebelumnya.

Untuk murid yang sudah menetap beberapa waktu di Kampung Inggris, biasanya lembaga kursus akan mengadakan program micro teaching. Program ini adalah program mengajar selama dua minggu ke sekolah dasar, menengah, hingga atas. Untuk sekolahnya sendiri, bisa ditentukan dari lembaga akan ditempatkan dimana. Bisa ditempatkan di dalam kota seperti Kecamatan Pare atau Kabupaten Kediri, bahkan bisa keluar pulau seperti Lombok, Makassar, hingga Madura. Tentunya, sebelum diberangkatkan, murid-murid akan dibekali dengan materi yang akan membantu mereka dalam menyalurkan ilmunya di sekolah-sekolah tersebut, seperti materi micro teaching, grammar, belajar lagu yang akan memudahkan pembelajaran dan materi lainnya.

Berkumpul sesua kompetisis. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Selain itu, juga ada berbagai kompetisi yang diadakan secara internal di dalam lembaga, seperti speech competition, singing, story telling, tounge twister, dan lainnya agar murid-murid berani unjuk kebolehan dengan temannya yang lain. Kompetisi seperti ini biasanya diadakan seminggu sekali. Ada juga lembaga yang mengadakan kompetisi TOEFL simulation, dan hadiahnya berupa beasiswa untuk mengambil program TOEFL. Tentu hal ini menjadi hal yang menarik, mengingat biasanya program kelas TOEFL adalah program kelas yang biayanya lebih mahal daripada kelas yang lain. Tentunya, dengan adanya kompetisi seperti ini diharapkan murid-murid menjadi tertantang untuk belajar Bahasa Inggris lebih dalam, tidak hanya sekadar berbicara, namun juga pada pengetahuan akademisnya.

Hal yang menjadi keberhasilan Kampung Inggris dalam memberikan pengajaran terhadap muridnya, ada pada efektifitas dan intensitas pembelajaran. Seperti halnya pada saat Kalend mengajari mahasiswa IAN Sunan Ampel. Mengapa belajar disini bisa seefektif itu, bahkan juga ada yang memberikan embel-embel promosi uang kembali jika tidak berhasil.

Selain memberikan materi yang mudah diserap oleh berbagai tingakatan, seperti pemula hingga ahli, lembaga di Kampung Inggris selalu mendorong setiap muridnya untuk berani berbicara bahasa Inggris. Urusan itu benar atau salah adalah urusan belakang, namun yang diperhatikan adalah bagaimana agar kita bisa berani dan percaya diri dengan kemampuan kita. Entah itu pemula yang sama sekali belum bisa maupun yang sudah terbiasa dengan Bahasa Inggris. Nantinya, jika ada murid yang ketahuan tidak menggunakan Bahasa Inggris, maka akan diberi hukuman yang memberatkan si murid. Hukumannnya bermacam-macam, tergantung dari si tutor. Ada yang memberikan hukuman ringan seperti mencari kosakata dan menghafalkannya, ada juga yang cukup membuat malu seperti harus berkenalan dan menggombal dengan murid dari lembaga lain, yang tentunya akan membuat malu serta jera dan tidak akan mengulangi berbicara Bahasa Indonesia agar tidak melakukan hukuman tersebut.

Belajar di Kampung Inggris sangat cocok bagi pemula yang sama sekali kemampuannya kurang dalam berbahasa Inggris. Karena belajar disini semuanya berawal dari dasar yang nantinya akan berkembang seiring materi yang akan diajarkan nantinya.