Bijak Bersosmed: Ambil Alih Kendali Digital Anda!

Oleh: Clara Angela

Saat membuka media sosial pernahkah anda tanpa sadar telah menghabiskan waktu lama hanya untuk scrolling? Kita sering merasa sedang mengoperasikan media sosial, namun kenyataannya kitalah yang sedang “dioperasikan” oleh algoritma. Tahun 2025, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyatakan bahwa 93% remaja berusia 13–19 tahun aktif di media sosial setiap hari, dengan rata-rata time screen 5,8 jam per hari. Maka, menjadi bijak dalam bermedia sosial di era ini bukan lagi sekedar soal etika, melainkan bagaimana kita mengambil alih kendali atas perhatian dan kesehatan mental kita yang terus terdistraksi.

1. Clean Your Feed

Didik Algoritma Anda Jangan biarkan halaman explore dipenuhi oleh konten yang memicu rasa insecure, amarah, atau kesedihan. Ketika anda mengkonsumsi sebuah konten, maka konten serupa akan terus disajikan secara otomatis oleh algoritma, akibatnya banyak pengguna yang terjebak dalam lingkaran emosional yang sulit dihindari. Pilih konten yang membangun, agar media sosial kembali menjadi tempat yang mendukung perkembangan diri.

2. No Opini, No Drama

Memutus Rantai Toxic Di dalam media sosial setiap hari selalu ada isu viral yang memicu perdebatan. Namun, kita tidak perlu ikut campur pada setiap hal yang terjadi. Karena tidak semua informasi sudah terbukti kebenarannya, menahan diri dari berkomentar dan asal membagikan konten adalah cara paling bijak untuk memutus rantai toxic sekaligus menjaga ketenangan mental.

3. Melepas Jerat Validasi

Jaga Kesehatan Mental Tanpa kita sadar kita sering terjebak dalam siklus kecemasan digital seperti saat mengunggah konten kita berulang kali memeriksa jumlah likes atau penonton. Ini adalah jebakan validasi yang menguras energi mental secara perlahan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan bahwa di tahun 2025 ada 3,4 juta remaja Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. 28% nya disebabkan akibat tekanan sosial di dunia maya. Salah satu cara paling sehat untuk menggunakan media sosial adalah dengan menerapkan prinsip “Jangan jadikan jumlah likes sebagai penentu kebahagiaan Anda, karena hidup Anda jauh lebih luas daripada apa yang tampil di layar”.

 

Pada akhirnya, bijak dalam bermedia sosial adalah tentang kesadaran bahwa kitalah yang bertugas untuk mengoperasikan media sosial, bukan sebaliknya. Jangan biarkan media sosial menjadi pembatas antara diri sendiri dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Create your peaceful digital life, don’t just scroll through it.