Ilustrasi: Sastra Indonesia

[Ditulis oleh Kirana Ratu Sekar Kedaton, mahasiswa FIKOM 2020]

Karya sastra merupakan suatu ciptaan yang disampaikan dengan komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Namun ternyata di balik estetika tersebut, terkandung makna mendalam yang dapat kita ambil sebagai pelajaran hidup. Lantas apa sajakah yang dapat digolongkan sebagai suatu karya sastra Indonesia?

Menurut penuturan Prof. Budi Darma Ph.D, seorang akademisi penulis sastrawan Indonesia, suatu karya sastra dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu karya sastra nonfiksi dan fiksi. Karya sastra bertajuk nonfiksi yang dapat kita temui di Indonesia di antaranya, yaitu karya tulis ilmiah (KTI), laporan, feature, skripsi, tesis, disertasi, dan makalah; sedangkan karya yang tergolong fiksi yaitu puisi, drama, cerpen, dan novel. Dalam webinar kali ini, narasumber menjelaskan mengenai karya sastra fiksi dan berikut adalah paparan yang dijelaskan oleh beliau.

Puisi adalah suatu karya yang telah ada sejak zaman purbakala yaitu sebelum manusia mampu berkata-kata dengan artikulasi yang baik. Puisi dalam zaman tersebut hanya tampak seperti gumaman seseorang yang terlihat seperti mantra. Namun seiring berjalannya waktu, puisi berkembang dengan pesat dan mamopu dijadikan sebagai media hiburan, penyampai sebuah pesan penting, dan hal-hal lain di mana dapat disajikan dengan ekspresi pembacaan yang kuat dan diiringi oleh sebuah lagu untuk menambah pendalaman makna bagi pembaca maupun penonton. Puisi memiliki arti kata yang mendalam dan singkat sehingga sangat mudah untuk disajikan sebagai media efektif penyampai sebuah pesan.

Drama muncul ketika manusia menyadari kemampuan untuk menirukan sesuatu. Hal ini muncul ketika masyarakat zaman purbakala menirukan manusia lain dalam mempertahankan hidup yaitu dengan menirukan mereka berburu. Jadi terdapat dua tokoh yang dihadirkan yaitu si pemburu dan binatang buruannya. Mereka memberikan ekspresi kegembiraan dan tarian ketika berhasil mendapatkan buruan tersebut. Dari situlah terilhami adanya pembuatan drama pada saat ini. Drama akan selalu memperhatikan dua konsep tersebut yaitu konsep dan ekspresi yang dibawakan dalam alur ceritanya.

Novel muncul pada abad ke-17 an dibawa oleh John Bunayan, novelis pertama, dengan karyanya yang berjudul Pilgrim’s Progress. Novel pertama kali datang di Indonesia pada tahun 1920-an dimana memuat sebuah kisah yang sesuai dengan tren pada zaman tersebut yaitu percintaan dimana dibuat oleh Marah Rusli dengan novelnya yang berjudul Sitti Nurbaya.

Cerpen atau cerita pendek ini muncu ketika manusia telah mengenal alfabet dan memiliki artikuasi berbicara yang baik. Cerita pendek pada awal mulanya adalah sebuah cerita lisan yang dilontarkan masyarakat dari muut ke mulut kemudian dibukukan dan dituangkan dalam kata-kata sastra yang dalam agar mampu diresapi secara mendalam oleh pembaca. Oleh sebab inilah, sastrawan mengungkapkan bahwa cerita pendek adalah sebuah puisi yang berirama sebab dengan irama inilah pembaca mampu mengingat keseluruhan kejadia yang terjadi dalam sebuah cerpen. Cerpen datang di Indonesia karena adanya sebuah pelopor sastrawan besar bernama Soeman HS (1904-1999) di mana ia memperkenalkan karya sastra ini dengan meluncurkan cerpen pertama dan terlaris berjudul “Air yang Berlaga”. Cerpen ini mengambil sudut pandang masyarakat pegunungan  di mana diceritakan terdapat seorang pemuda desa yang memiliki sifat buruk yaitu suka membual. Ia membohongi masyarakat pegunungan ini mengenai apa-apa yang ada di sebuah lautan, mengingat masyarakat ini tidak pernah pergi ke laut sama sekali. Di sini amanat, karakter, latar, dan alur yang dijelaskan sangat jelas dan terperinci membawa cerpen ini laris di pasaran. Hal ini dikarenakan komposisi dalam mengiramakan seluruh unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam cerpen mampu dibawakan dengan baik oleh pengarang. Hal inilah yang dijadikan kunci bagi pengarang cerpen Indonesia agar karya yang dihasilkan mampu dipahami dan diterima oleh masyarakat dengan baik.

Menurut penuturan narasumber, untuk menghasilkan suatu karya sastra fiksi khusunya cerpen kita memerlukan atensi besar pada penekanan alur yang akan kita tonjolkan. Selain itu, diperlukan kontinuitas untuk membuat karya agar kita mampu menghasilkan suatu karya yang baik. Sebab kunci dalam sebuah cerpen adalah permainan kosakata dan irama dalam plot cerita. Selain itu, karena cerpen memiliki unsur bernama “amanat”, maka alangkah baiknya kita membawakan cerita itu dengan bijaksana. Sebab, bisa saja ketika kita tidak mampu menuliskan sebuah cerita tersebut dengan baik, tidak menutup kemungkiann pembaca akan salah fokus dalam menangkap cerita kita dan menyalahartikan amanat yang akan kita tunjukkan. Oleh sebab itu, saya pribadi menyimpulkan bahwa ketika kita ingin membuat sebuah cerita pendek, kunci utama yang harus kita perhatikan adalah unsur intrinsik, ekstrinsik, amanat dan kata-kata yang seperti apakah agar pembaca tidak memiliki kesalahan persepsi. Dari sinilah latihan menulis dan intensitas membaca memiliki peranan penting untuk menghasilkan karya sastra fiksi yang sangat indah.