[Ditulis oleh Hadjar Chanissa Nur Malika, FIKOM 2020]

Baca juga Bagian 1, Bagian 2, dan Bagian 3 untuk melengkapi serial tulisan ini.

Ilustrasi: Menjadi Komunikator Handal (Credit: Moose Photo/Pexels

Pada bagian terakhir cara berkomunikasi dengan baik oleh Oh Su Hyang akan dijelaskan bagaimana agar bisa membawa diri dengan baik saat menjadi komunikator. Di bagian ke 4 dan 5 buku ini, lebih banyak menjelaskan bahwa kemampuan berkomunikasi dapat dilatih dengan baik, tentunya dengan adanya praktik tersendiri juga di bagian suara, artikulasi, nada, dan lainnya. Di awal bab 4, kita akan dibuka dengan sepuluh aturan komunikasi, antara lain:

  1. Kata-kata yang tidak bisa diucapkan di “depan”, jangan diucapkan di “belakang” karena gunjingan adalah hal yang buruk.

Ketika kita tidak bisa mengucapkan sesuatu kepada seseorang, lebih baik diam daripada menggunjingnya dengan orang lain. Hal ini tentunya akan bisa menjadi bumerang bagi diri kita sendiri ketika orang yang kita gunjingkan mengetahui kita membicarakan hal jelek ke mereka. Dengan begini, selain komunikasi yang terjalin menjadi tidak lancar, juga akan membuat relasi menjadi merenggang.

  1. Memonopoli pembicaraan akan memperbanyak musuh. Sedikit berbicara dan banyak mendengar. Semakin banyak mendengar semakin baik.

Berbicara seperlunya dan lebih banyak mendengar. Ketika kita lebih banyak mendengarkan orang lain dengan baik, maka orang lain akan merasa lebih dihargai.

  1. Semakin tinggi intonasi suara, makna dari ucapan akan semakin terdistorsi. Jangan menggebu-gebu. Suara yang rendah juga memiliki daya.

Ketika kita mengucapkan kalimat dengan intonasi dan nada yang tinggi, makna yang kita maksud tidak akan tersampaikan, bahkan komunikan kita bisa jadi menerima pesan yang berbeda dari apa yang kita utarakan.

  1. Berkata yang menenangkan hati, bukan sekadar enak didengar. Ucapkanlah sesuatu dengan baik.

Percuma saja jika kita memiliki suara yang enak untuk didengarkan bak penyiar, namun kata-kata yang kita keluarkan dari mulut akan menyinggung seseorang.

  1. Katakan yang ingin didengar lawan bicara, bukan yang ingin diutarakan. Berbicara yang mudah dimengerti, bukan yang mudah diucapkan.

Ketika berkomunikasi dengan seseorang pastikan kita mencoba untuk menyesuaikan dengan lawan bicara. Jika kita hanya membicarakan hal-hal yang kita sukai, namun lawan bicara tidak menyukainya, maka ia hanya akan bosan dan kehilangan ketertarikan untuk berkomunikasi secara lanjut dengan diri kita. Pastikan apa yang kita ucapkan mudah untuk dimengerti, bukan mudah untuk diucapkan. Misalnya, pastikan kita berbicara dengan bahasa yang benar-benar dimengerti oleh kedua belah pihak antara komunikator dan komunikan. Contoh, ada orang Sunda dan Jawa yang saling berkomunikasi. Orang Sunda Jawa berkata: “Minta tolong cakotin apel itu dong!” Orang Jawa kebingungan dengan pesan yang disampaikan oleh Si Orang Sunda dan akhirnya menggigit apel yang ada di depannya. Dari contoh di atas selain perbedaan bahasa, ada juga hal yang terkadang mudah untuk diucapkan namun sulit untuk dipahami seperti “anu”, “nganu”, dan lainnya.

  1. Berbicara dengan menutupi aib dan sering memuji.

Mengobrol dengan seseorang baiknya hindari untuk membuka aib diri kita maupun orang lain. Selain akan membuat diri kita terlihat ‘julid’ , berbicara hal yang negatif juga akan mempengaruhi kualitas obrolan kita.

  1. Berbicara hal yang menyenangkan, bukan menyebalkan.

Obrolan yang menyenangkan pastinya akan memberikan energi yang positif dibandingkan ketika kita membicarakan hal yang menyebalkan. Energi positif yang timbul dari obrolan yang menyenangkan akan membuat lawan bicara lebih nyaman dan mempererat relasi satu sama lain.

  1. Jangan hanya berkata dengan lidah, namun juga mata dan ekspressi. Unsur nonverbal lebih kuat daripada unsur verbal.

Berbicara tanpa menggunakan bahasa tubuh hanya akan membuat obrolan monoton dan membosankan. Bahasa tubuh juga membantu pendengar fokus kepada diri kita dan mudah memahami apa yang kita ucapkan.

  1. Tiga puluh detik di bibir sama dengan tiga puluh tahun di hati. Sepatah kata saja yang kita ucapkan mungkin saja mempengaruhi kehidupan seseorang.

Selalu berhati-hati dengan apa yang kita ucapkan. Ucapan yang menyinggung bisa berbekas di hati seseorang hingga bertahun-tahun lamanya.

  1. Kita mengendalikan lidah, tapi ucapan yang keluar, akan mengendalikan kita. Jangan berbicara sembarangan dan bertanggung jawablah dengan apa yang sudah Anda ucapkan.

Lebih banyak berhati-hati ketika berbicara. Jika merasa menyinggung orang lain dengan perkataan yang muncul dari mulut kita, sesegera mungkin minta maaf kepada orang yang bersangkutan.

Selain aturan komunikasi di atas, tentunya kita perlu memperhatikan berbagai hal berikut ketika berkomunikasi, seperti: 1) volume 2) kecepatan berbicara 3) intonasi bicara, dan 4) jeda. Keempat unsur tersebut akan sangat berpengaruh ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, entah di forum kecil seperti grup obrolan biasa atau di forum besar seperti presentasi dan pidato.

Pada bagian terakhir bab ini, dijelaskan bagaimana cara kita untuk tidak sekadar mengucapkan, melainkan juga kemampuan untuk mengolah suara yang kita ucapkan. Gema suara, hal kecil yang mungkin tidak kita sadari rupanya juga sangat berpengaruh untuk menarik orang. Adanya gema suara sangat berpengaruh pada suara yang kita hasilkan. Misalnya, untuk meyakinkan klien dalam berbisnis. Kita perlu memberikan tekanan suara dengan jelas. Jika kita menjelaskan produk kepada klien dengan suara yang lirih dan tidak ada semangat, jangankan untuk membeli, untuk mendengarkan penjelasan lebih lanjut mengenai produk saja bisa jadi enggan.

Tiga cara melatih suara yang dijelaskan di bab terakhir:

  1. Vokalisasi

Teknik vokalisasi disini mengajarkan tiga hal mudah yaitu mengucapkan m, a, dan o. Ketiga pengucapan ini memiliki efek yang berbeda dan ketiganya mempunyai dampak terhadap suara yang kita keluarkan. Suara ‘m’ membuat suara lebih dalam, suara ‘a’ membuat suara bergema, dan suara ‘o’ membuat suara lebih fleksibel.

  1. Melenturkan Organ Artikulasi

Banyak orang yang salah dalam melafalkan suatu kalimat, maka dari itu pentin melatih kelenturan artikulasi di setiap organ. Untuk bibir: mengucapkan ma, ba, dan ta. Untuk rahang: mengucapkan ta, na, dan da. Untuk lidah: mengucapkan la, li, dan lu. Untuk hidung: mengucapkan hong, kong, dan song

  1. Bernafas ala Choi Bool Am

Salah satu aktor Korea Choi Bool Am melatih suaranya dengan mengucapkan “pha” sambil tersenyum. Dengan rutin berlatih seperti ini, membuat suara kita lebih dalam dengan diafragma terbuka lebih lebar.

Untuk latihan selanjutnya, kita bisa mempraktikan hal yang ada di internet untuk lebih mempermudah dalam berkomunikasi. Buku Bicara Itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang adalah buku yang benar-benar harus dibaca setiap orang setidaknya satu kali seumur hidup. Ringkasan yang terdapat dalam artikel ini hanya memuat 10% dari keseluruhan isi buku ini. Buku ini lumayan lengkap karena tidak hanya membicarakan antara komunikan dan komunikator, namun lebih dalam hingga ke teknis berbicara dan beberapa trik psikologis komunikasi lainnya.