Tidak semudah membalikkan tangan apabila kita berbincang mengenai kebersihan lingkungan. Dalam suatu daerah yang sudah berpenduduk padat dengan kebiasaan yang nyaman dalam melakukan kegiatannya sehari-hari, tidak akan merasa bahwa yang dilakukan sudah benar atau tidak. Terutama kebiasaan dalam hal kebersihan, meskipun berada di Kota Surabaya yang terkenal dengan “kota nomor dua” di Indonesia, ternyata tidak semua daerah bisa menjaga kebersihan.
Pemerintah memang tidak tinggal diam, pemerintah selalu melakukan berbagai hal untuk memerangi daerah kumuh atau kurang terjaga kebersihannya di Surabaya. Termasuk juga dalam kebersihan daerah ex-redline yang terkenal, yaitu Dolly. Keinginan untuk membuat citra kawasan Dolly ini menjadi kawasan yang positif terus dilakukan. Mulai dari UKM-UKM yang didukung sampai mengeluarkan produk keripik khas Dolly. Sayangnya, karena berada di daerah yang padat penduduk, membuat beberapa lingkungan tertentu tidak tersentuh penyuluhan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Dolly Gang III yang mempunyai sentra bisnis pembuatan papan billiard berada di gang yang tidak terlalu besar dengan warga yang padat. Proses pembuatan ini dilakukan begitu saja di jalan di gang yang padat penduduk tersebut. Debu beterbangan bebas saat pegawai memotong papan billiard ini bisa setiap saat dihirup oleh warga yang lewat terutama anak-anak. Sisa pembuatan meja billiard juga ditumpuk saja dan tidak dibersihkan secara rutin.
Warga yang memiliki usaha warung pun seringkali membuang sampah bekas kotorannya di depan rumah begitu saja. Warga ini memiliki dapur di dalam rumah, tapi tetap membuat dapur tidak permanen di depan rumah di gang sempit tersebut. Selain menutup sebagian jalan, selesai menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk warung, potongan sayur dan bahan lain yang tidak terpakai langsung saja dibuang di bawahnya dan menunggu tukang sampah yang jadwalnya belum jelas untuk membersihkan.
Salah satu penduduk apabila ada sisa nasi atau lauk yang tidak dimakan, dengan santainya langsung dibuang di pembuangan air yang ada di depan rumahnya. Dinding yang ada di sepanjang gang tersebut pun dipenuhi dengan lumut yang tidak pernah dibersihkan bertahun-tahun, yang tentunya membuat lingkungan sekitar menjadi lembab dan seringkali banjir.
Dengan adanya pendekatan khusus, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media (FIKOM) Universitas Ciputra mencoba mendekati warga untuk mendengarkan pendapat mereka soal kebersihan. Program pengenalan kesadaran tentang kebersihan ini diberi nama “Warna Kreasikan Duniaku”. Dengan memberikan pendampingan mengenai pembuangan sampah yang sehat, selanjutnya akan ada pembersihan lingkungan bersama dan targetnya sampai melakukan pengecatan di gang tersebut. Harapannya saat program ini selesai, Gang III yang sebelumnya tampak tidak terawat ini bisa menjadi lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan tentunya berwarna. [Artikel ini ditulis oleh pengajar Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media, Hilda Yunita Wono, S.I.Kom., M.Med.Kom.]

Mahasiswa FIKOM UC dan anak-anak Gang Dolly III membersihkan lingkungan 
Komunikasi antara warga dan mahasiswa terjalin saat kegiatan berlangsung


