
Siapa yang tak asing dengan nama Rintik Sedu? Podkesmas? Atau Raditya Dika barangkali? Nama-nama tersebut tentu tak asing bagi para pendengar setia siniar atau yang populer disebut dengan podcast. Anak muda masa kini banyak yang memilih mendengarkan podcast untuk mengisi waktu senggangnya atau sekadar menemani beraktivitas alih-alih mendengarkan informasi melalui radio. Radio sering disebut sebagai media old-school yang pendengarnya hanyalah kalangan usia dewasa hingga boomer. Meski podcast sangat populer, apakah bisa menggantikan radio yang lebih dulu mengudara?
Radio sudah masuk ke Indonesia sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda. Diawali dengan radio amatir yang mengudara yakni Radio Vereniging (BRV) di Batavia pada tahun 1925. Hingga akhirnya mulai bermunculan radio-radio besar di Jawa dan juga luar Jawa seperti Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM), Vereeniging Omroep Radio Luisteren (VORL) berdiri di Bandung tahun 1934, Mataramshe Vereeniging Radio Omroep (MVRO) berdiri di Yogyakarta tahun 1934 hingga Radio Semarang (RS) berdiri di Semarang tahun 1936. Pada saat itu, radio tidak hanya sebagai sumber informasi namun juga digunakan oleh Jepang untuk menyebarkan propaganda untuk Indonesia. Di saat terjadinya terjadinya pengeboman terhadap kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang, radio turut menjadi saluran informasi untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, radio turut menemani kiprah industri media di Indonesia. Tidak hanya sebagai pusat informasi, radio juga berfungsi sebagai penghasil konten audio untuk keperluan berbagai hal seperti edukasi dan hiburan. Di tahun 1990 hingga 2000-an, radio musik seolah menjadi primadona bagi muda-mudi karena dapat me-request lagu kesukaan mereka atau sekadar menitip salam untuk seseorang. Menjadi penyiar radio juga dianggap sebagai pekerjaan yang keren karena dianggap gaul, banyak relasi, dan punya pengetahuan yang luas. Kini, produksi konten melalui radio juga turut tergerus oleh zaman yang serba cepat ini. Kemunculan siniar atau yang kerap disebut podcast secara tidak langsung menggeser posisi radio sebagai salah satu media hiburan bentuk audio. Di masa kini, radio sering dianggap sebagai gaya hidup yang old-school dan ‘gak kekinian banget’. Generasi Millennial dan Z lebih banyak yang memilih mendengarkan siniar yang dianggap sebagai gaya hidup masa kini.
Sama-sama memproduksi konten audio dan rasa kedekatan kepada pendengarnya, podcast dinilai lebih simple dan ringkas untuk didengarkan. Konten pada podcast memang dibuat lebih variatif dan memiliki pembahasan tertentu dengan waktu yang telah ditentukan. Hal ini menjadi salah satu keunggulan podcast dibanding radio dimana pendengar dapat memilih konten seperti apa yang ingin didengarkan dan memilih durasi waktu yang cocok untuk disesuaikan dengan waktu beraktifitas. Tentu sangat berbeda dengan radio dimana kita harus mengetahui jadwal dari program radio yang sudah ada. Jika terlewat dari jam yang telah ditentukan, jelas kita tidak akan dapat mendengarkan siaran yang sudah lewat.
Jika dilihat dari media penyiarannya, radio dapat dinikmati ke dalam berbagai bentuk frekuensi seperti AM dan FM bahkan melalui streaming internet, sedangkan podcast umumnya didistribusikan melalui platform media yang membutuhkan internet untuk mengaksesnya, seperti Spotify, Noice, hingga Youtube. Radio tetap dapat didengarkan tanpa bantuan internet selama masih dalam jangkauan frekuensinya, sedangkan podcast harus diunduh terlebih dahulu jika ingin didengarkan tanpa internet. Kekurangan dari radio yang didengarkan tanpa internet adalah seringnya muncul hambatan seperti suara bising.
Setelah terlihat kekurangan dan kelebihan podcast dan radio, apakah benar jika podcast dapat dapat menggantikan bahkan mematikan bisnis radio? Jika menggantikan radio, tentu sudah jelas podcast sudah menggantikan radio untuk kebutuhan audio konten di mana-mana. Bahkan ketika radio sudah banyak yang menyediakan platform untuk streaming, podcast tetap lebih unggul untuk didengarkan daripada radio. Namun podcast tidak dapat dikatakan benar-benar mematikan bisnis radio. Meski kemunculan podcast sempat membuat bisnis radio gigit jari, terbukti beberapa stasiun radio masih mampu bertahan di era gempuran konten audio lain seperti podcast. Tidak hanya mengandalkan pemasukan dari iklan, beberapa radio juga turut membuat bisnis di luar program penyiaran seperti radio Visipro yang membuat event organizer untuk pemasukannya. Adapun radio Prambors yang masih sangat eksis di zaman dulu hingga sekarang tetap bertahan karena dapat mengikuti perkembangan pasar dengan baik sehingga tetap memiliki pendengar setia.
Podcast memang dianggap sebagai ‘barang baru’ yang dinilai lebih baik daripada radio dengan berbagai keunggulan. Meski begitu, ada hal yang tidak dapat dimiliki podcast dan hanya dimiliki radio. Kecepatan informasi adalah hal yang dimiliki oleh radio. Radio dapat menyiarkan informasi secara cepat bahkan real-time. Podcast hanya dapat membahas isu yang sedang viral, namun radio dapat menyiarkan isu tersebut jauh lebih cepat. Radio juga masih menjadi konten audio yang lebih sering didengarkan ketika dalam perjalanan di mobil, terutama bagi pendengar yang memerlukan informasi lalu lintas secara langsung. Tidak hanya itu, jika di tempat dengan akses informasi susah seperti pedesaan, radio akan tetap dianggap sebagai saluran media yang murah dan cepat. Maka dari itu, radio akan tetap selalu memiliki pendengar di tengah gempuran gaya hidup masa kini seperti mendengarkan podcast.
