
Ditulis oleh Hadjar Chanissa Nur Malika [FIKOM 2020]
Belakangan ini kita sering mendengar kata thriftshop, thrifting, atau thrift. Fenomena ini juga masih menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak pro dan kontra yang muncul dari adanya budaya thrifting ini. Memangnya, apa sih arti dari thrift shop, thrifting, atau thrift ini?
Thrift adalah barang bekas atau second yang berasal dari barang impor. Biasanya barang ini biasanya kondisinya ada yang seperti baru (bisa karena ada sedikit cacat produksi) atau tidak 100% mulus. Barang thrift biasanya banyak diburu karena biasanya barangnya terbatas dan ‘tidak pasaran’. Thrifting adalah kegiatan berburu barang-barang thrift. Kegiatan ini bisa dilakukan dengan berjalan-jalan ke pasar atau bisa juga dibeli di e-commerce yang menyediakan barang thrift. Banyak orang yang gemar melakukan kegiatan ini karena selain bisa mendapatkan barang dengan harga murah, juga mendapatkan sensasi ‘menantang’ jika dilakukan di pasar thrift sambil berebutan barang dengan orang lain. Sementara thrift shop sendiri adalah toko atau wadah untuk menjual barang-barang thrift. Thrift shop sendiri sekarang menjadi peluang bisnis baru di kalangan anak muda karena modal yang dikeluarkan sedikit sedangkan peminatnya sangat banyak.
Lalu apa bedanya itu semua dengan pasar loak? Sebenarnya sama saja, thriftshop maupun pasar loak sama-sama menyediakan barang bekas atau second. Hanya saja, thriftshop dikemas seolah lebih terlihat keren dan populer ketimbang pasar loak. Para penjual barang-barang thrift juga kebanyakan mengambil barang-barang dari pasar, lalu mereka mem-branding ulang barang yang mereka jual dan diberi embel-embel vintage.
Memangnya, sudah sejak kapan budaya thrifting ini ada? Sejarah thrift shop sendiri sebenarnya sudah lama ada, yaitu pada sekitar tahun 1760-1840-an. Revolusi industri pada abad ke-19 membentuk suatu budaya, yaitu mass-production of clothing yang membuat pakaian menjadi sangat murah dan membuat orang dengan mudah membuang pakaiannya. Di Inggris sendiri, tren pakaian bekas sudah mulai muncul sekitar era 1980-1990-an, sedangkan di Amerika Serikat setiap tanggal 17 Agustus diperingati sebagai National Thrift Store Day. Pada hari itu,toko-toko akan memberikan diskon besar-besaran.
Lalu, mengapa di Indonesia budaya ini begitu dielu-elukan hingga sudah menjadi pop culture, terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini, yang mana orang akan berhemat dalam membelanjakan uangnya untuk barang-barang sekunder terutama sandang.
Adanya budaya thrifting ini dinilai menjadi penyeimbang dari fast fashion. Dikutip dari Katadata.co.id, sepanjang kuartal I 2019, industri tekstil dan pakaian mengalami lonjakan yang signifikan dengan pertumbuhan 18,98%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kuartal I pada tahun 2018 yang angkanya berkisar di 7,46%. Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan peningkatan sebesar 4,45% per tahun dalam produksi industri manufaktur besar. Dampak dari fast fashion ini sangat berpengaruh terhadap kesehatan lingkungan. United Climate Change News menjelaskan bahwa industri fesyen, menyumbang 10% gas rumah kaca yang timbul dari rantai pasokan yang panjang dan penggunaan energi dalam produksi yang intensif.
Beralasan bahwa thrifting dapat menekan pencemaran lingkungan karena fast fashion, menjadi salah satu alasan mengapa thrifting begitu digemari. Kata ‘barang bekas’ kini tidak lagi menjadi konotasi yang ‘jelek’. Banyak anak-anak muda yang mulai menggeluti bisnis thrift shop ini maupun menjadi konsumen thrift shop. Namun, yang banyak menjadi perbincangan adalah harga barang-barang di thrift shop yang menjadi mahal. Barang thrift shop tidak seharusnya menjadi mahal, namun karena thrifting ini yang menjadi pop culture di masyarakat, jadilah para pemilik bisnis thrift shop menaikkan harganya dengan alasan barang yang dijual ini berkesan ‘vintage’ dan memilki esensi yang bagus.
Kini, thrifting tidak hanya sekadar pop culture, namun juga terdapat seni di dalamnya. Seni memilah barang dan jika seseorang bisa mendapatkan barang yang langka maka akan ada kebanggan tersendiri. Namun, tak bisa dipungkiri adanya budaya thrifting ini juga turut mewarnai perkembangan bisnis dunia fesyen di Indonesia.
Sumber Foto: https://voi.id/bernas/20200/demi-misi-sejarah-dan-budaya-i-thrift-shop-i-harusnya-memang-tak-mahal
