[Ditulis oleh Kirana Ratu Sekar Kedaton, FIKOM 2020]

Copywriting dan content wrting adalah dua hal yang sangat penting bagi kemajuan bisnis saat ini dan keduanya termasuk dalam teks berita kreatif. Sebab melalui tulisanlah, persuasi terjadi dan meningkatkan penjualan pemilik bisnis. Hal ini sesuai dengan pengertian dari copywriting yaitu tulisan yang memiliki muatan informasi yang tidak sekadar memberikan informasi kepada pendengar akan tetapi juga memberikan unsur persuasi terhadap pembaca. Copywriting memiliki keunikan tertentu dengan pemilihan kata yang tepat agar menimbulkan kesan yang menarik pada teks tersebut. Misalnya sama-sama menggunakan dengan akhiran kata “an” pada tiap kata misalnya “banyak makan, jaga kesehatan”. Oleh sebab itu, copywriting lebih identik dengan tagline dan slogan. Sementara untuk output medium berbentuk printed medium seperti billboard. Copywriting juga mencantumkan halaman redaksi dan maksimal memuat 1000 kata. Seseorang yang terjun di dunia ini disebut sebagai copywriter di mana selain membuat konten juga memiliki tugas lain misalnya membuat TOR (Term of Reference) mengenai perencanaan konten untuk beberapa waktu ke depan. Content writing sendiri adalah teks yang memuat informasi tentang suatu hal. Teks tersebut tidak selalu bertujuan untuk mempersuasi seseorang melainkan memberikan suatu informasi saja, meskipun terlihat berbeda, kedua hal ini sama sama bertujuan untuk memberikan keterangan lebih lanjut mengenai produk ataupun jasa yang bermanfaat bagi calon konsumen untuk meyakinkan akankah dia membeli produk itu atau tidak berdasarkan copywriting atau content writing yang terpaparkan.
Untuk membuat suatu konten mengenai produk, baik berupa copywriting ataupun content writing sama-sama membutuhkan proses liputan. Jadi walaupun teks ini berbeda dengan berita, karakteristik mereka tetap membutuhkan sesi wawancara agar informasi akurat. Akan tetapi perlu diingat bahwa wawancara yang dilakukan akan dilakukan dari sudut pandang yang berbeda, seorang copywriter dan content writer akan menanyakan kepada pihak marketing mengenai kelebihan dan layanan produk baru. Sementara seorang wartawan akan melakukan wawancara dengan sudut pandang mengenai masalah apa yang akan berdampak besar bagi masyarakat. Misalnya, ketika harga suatu produk yang biasa digunakan naik menjadi 10 kali lipat dari biasanya sehingga menjadi suatu perhatian khusus yang wajib diketahui oleh masyarakat. Ditambah lagi perkembangan media yang begitu pesat mengharuskan kita sebagai seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk mengikuti tren masyarakat. Misalnya perkembangan informasi media yang kini telah merambah ke platform digital khususnya media sosial. Pada kenyataannya, pembuatan naskah pada platform digital dan cetak memiliki ciri khas dan ketentuan masing-masing.
Tahapan yang dapat kita lakukan untuk membuat naskah digital yaitu memilih topik yang akan diceritakan, mencari masalah yang ada di masyarakat, menentukan tujuan bercerita, menentukan sasaran pembaca, menentukan cara mengatakannya, mencari tren saat ini, memberi data agar lebih akurat, dan memberikan gaya bertutur, seperti “nih”, “lo”, “ah”. Meski menggunakan bahasa bertutur, copywriter juga harus menggunakannya sesuai KBBI dan PUEBI. Persamaan yang dapat kita temukan dalam penulisan di kedua platform tersebut, yaitu:
- Sama-sama membutuhkan kemampuan penulisan kreatif yang membuat pembaca tidak cepat bosan dengan konten yang telah dibuat.
- Menghindari kesalahan ketik setelah distribusi naskah. Sebab ketika terjadi kesalahan, kita memerlukan suatu usaha lebih untuk meyakinkan kembali pembaca kita agar kembali membaca konten yang kita buat. Disini hal yang dilakukan oleh Kompas ketika melakukan kesalahan ketik yaitu dengan membuat post atau cetakan minta maaf dengan menambahkan potongan pada pembelian koran harian Kompas. Strategi ini dapat dilakukan untuk menggaet kembali pembaca kita yang mungkin saja terganggu atas kesalahan yang sengaja/ tidak sengaja kita buat.
- Selalu menempatkan 5W+1H dalam setiap naskah yang dibuat. Hal ini dilakukan agar naskah yang kita buat akurat dan mampu dipercaya oleh orang lain. Sebab ketika seseorang percaya terhadap tulisan yang kita buat, maka reputasi dan keinginan perusahaan akan mudah tercapai.
- Menulis sesuai dengan target pembaca. Penyesuaian ini mampu dilakukan dengan mengamati kesukaan target baca. Misalnya ketika menggunakan platform media sosial kita mampu menggunakan bahasa yang bertutur seperti kata “lo”. Kata lo digunakan karena lebih merangkul kawula muda yang notabene merupakan pengguna media sosial terbanyak. Sedangkan untuk platform website, terlihat semi formal. Namun perlu diingat bahwa platform digital tidak akan mampu memuat banyak teks, sebab ketika platform digital diisi dengan konten tulisan yang begitu banyak maka akan mengurangi minat baca seseorang. Oleh karena itu. gunakan bahasa yang singkat, padat, jelas, dan memenuhi kaidah 5W+1H.
- Kontekstual dan relevan dengan topik perbincangan saat ini. Topik yang sedang panas pada media digital akan mempermudah menarik minat masyarakat untuk membacanya. Sebab sesuatu yang baru akan selalu diinginkan oleh masyarakat setempat.
- Memanfaatkan judul dan kata kunci yang mudah dilacak dalam mesin pencarian. Poin ini menjelaskan bahwa pentingnya pemilihan diksi bagi masing-masing platform ternyata sangat berpengaruh. Misalnya bahasa yang dipakai dalam judul instagram nampak lebih simple dan santai, sedangkan untuk judul pada website menggunakan bahasa formal meski kadarnya lebih rendah dibandingkan dengan media cetak.
- Mengunggah konten secara konsisten. Melalui ketermudahan tersebut, kita sebagai manusia merasa diuntungkan untuk melakukan branding tanpa ribet. Sebab, ketika kita berbagi tentang naskah yang kita buat dengan akun media sosial pribadi kita akan memepercepat pemasaran bisnis yang telah ditulis copywriting Mengunggah konten juga perlu memperhatikan waktu-waktu yang tepat ketika masyarakat banyak membuka media sosial seperti jam makan siang atau sore menjelang malam.
- Konten perlu dipromosikan. Promosi platform digital dapat dilakukan dengan mudah menggunakan sistem googleads, yaitu platform periklanan online yang sekarang dianggap lebih efektif.
Dengan demikian, dapat ditekankan kembali bahwa terdapat juga perbedaan diantara tulisan media sosial dan situs web. Tukisan pada situs web cenderung bisa berdiri sendiri tanpa dukungan visual. Website menyajikan kata kunci yang sesuai topik pada judul, subjudul, dan isi tulisan agar membutktikan bahwa aku baik-baik saja. Selain itu, penulisan yang hanya terpacu pada satu platform yaitu website menjadikan format copywriting cenderung ke format feature ataupun konten yang lebih santai lagi. Sekaligus dalam website memerlukan pengoptimalan tag dan hyperlink, sedangkan di media sosial, visual menjadi pokok utama sebuah pesan. Ketika kita tidak menyajikan suatu visual maka artinya kita akan gagal dalam menebarkan persuasi ini. Sebab, pada platform media sosial, kita perlu memahami demografi follower seperti misalnya membuat video pendek yang menarik (membantu menggiring masyarakat untuk mengunjungi website untuk membaca keterangan produk). Dalam naskah digital kita perlu mempertimbangkan waktu post dan aspek interaktif yang mampu menarik minat masyarakat. Sebab dengan pengoptimalan tersebut naskah yang kita buat akan lebih efektif diterima masyarakat kapan dan di mana saja. Salah satu poin yang tidak kalah penting dalam bermedia sosial, yaitu mengoptimalkan, mention, hashtag serta lokasi naskah itu dibuat.
Untuk meningkatkan perhatian masyarakat mengenai iklan yang dipasang di media sosial ternyata memiliki trik tersendiri. Selain menggunakan bahasa yang lebih fleksibel, bertutur, dan tidak bertele-tele. Ternyata ditemukan strategi untuk menyusun sebuah akun yang memiliki tujuan untuk bisnis. Hal pertama yang harus diperhatikan yaitu melihat thread pada twitter, melakukan posting feeds dan story yang bersifat interaktif, menelusuri tracking masyarakat di media, memberikan giveaway dan melakukan live talk interaktif dengan sosok yang sedang dibicarakan oleh masyarakat melalui fitur instagram live. Kita harus bisa menghasilkan pictoral yang unik dan kreatif dan sedang dibicarakan oleh masyarakat untuk mendongkrak nama perusahaan media atau pengiklan yang telah mempercayakan produk atau jasanya kepada kita.
Oleh sebab itu, penulisan copywriting disebut sebagai penulisan kreatif yang memerlukan suatu strategi khusus yang harus dilatih dari waktu ke waktu. Seorang copywriter harus memiliki skill mengolah data, membuat alur cerita, dan memposisikan motion grafik yang sesuai untuk menghasilkan kualitas konten yang baik. Untuk itu dalam membuat sebuah karya, kita dituntut sebagai seorang pencipta sekaligus pembaca. Hal ini dilakukan agar proses evaluasi dan koreksi dapat dilakukan lebih awal sebelum tulisan dipublikasikan. Namun ternyata, menjadi sebuah copywriter juga tidak memaksa untuk handal di seluruh bidang sebab terdapat segmentasi struktural pada departemen media sosial misalnya terdapat manajer, deputi manajer, social media officer, designer, dan social media analyst yang meliputi berbagai bidang dari HR, editing, digital marketing, audio visual, photographing, dan lain-lain. Poin utama yang harus ditonjolkan adalah menjadikan media ini tidak hanya berfungsi untuk interaksi sosial tetapi juga menyeluruh dari bisnis, berbagi informasi, mendapatkan inspirasi dan motivasi, serta hal-hal positif lain.
Kita mampu menyimpulkan bahwa pekerjaan media bersifat kompleks dan penuh dengan kehati-hatian. Sebelum terjun di dunia media, kita harus melakukan eksplorasi diri dengan mengasah kepekaan sekitar, memantapkan kemauan dan kemampuan untuk memantau seluruh ranah digital yang sedang berkembang, mengasah kemampuan analisis dara, dan kreatif. Kreatif tidak hanya diartikan sebagai sebuah visual yang indah dan berwarna-warni, akan tetapi kreatif yang diinginkan adalah kreatif yang informatif diamana mampu mempersuasi dan membuat pembaca tergerak untuk melakukannya agar tercapai tujuan yang kita inginkan. Walaupun terlihat begitu sulit untuk menjadi aktivis media, tetapi kita ingat bahwa kehidupan menjadi copywriter, content writer, maupun wartawan bagaikan roller coaster yang mengalami naik turun bersama sehingga selain diperlukan komunikasi teori kita juga perlu memiliki skill komunikasi kelompok berupa praktik langsung agar mobilisasi kinerja dapat berjalan lancar. Sebab dengan adanya komunikasi dua arah, disitulah kita mampu menambah ilmu baru sehingga meningkatkan taraf berpikir kita dengan belajar bersama-sama dalam tim media.
[Tulisan ini dihasilkan sebagai ulasan dari kuliah tamu “Penulisan Kreatif dan Seluk-beluk Media Nasional” yang mengundang praktisi dari Harian Kompas, Cecilia Gandes, pada 25 November 2020 lalu.]
