{"id":1365,"date":"2022-03-01T13:52:17","date_gmt":"2022-03-01T06:52:17","guid":{"rendered":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/?p=1365"},"modified":"2022-07-01T12:28:28","modified_gmt":"2022-07-01T05:28:28","slug":"bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/","title":{"rendered":"Bingkai Akulturasi Fashion Melalui Seni Tato"},"content":{"rendered":"<p><strong>[Ditulis oleh Hadjar Chanissa Nur Malika, FIKOM angkatan 2020]<\/strong><\/p>\n<blockquote><p><strong>\u201c<em>My body is my journal<\/em>\u00a0<em>and my tattoos are my story<\/em>.\u201d<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u2015 Johnny Depp<\/strong><\/p><\/blockquote>\n<figure id=\"attachment_1379\" aria-describedby=\"caption-attachment-1379\" style=\"width: 700px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/pic-1-1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-1379 size-full\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/pic-1-1.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"466\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/pic-1-1.jpg 700w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/pic-1-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/pic-1-1-255x170.jpg 255w\" sizes=\"auto, (max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1379\" class=\"wp-caption-text\">Tato: Antara Adat dan Ketabuan | Sumber: cottonbro\/Pexels<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini stigma orang yang memiliki tato di tubuhnya masih mendapat perlakuan dan stigma yang cenderung buruk di masyarakat. Hal ini tentu tidak luput dari campur tangan media yang menampilkan pertunjukkan seolah orang yang memiliki tato adalah orang yang jahat, misalnya preman di sinetron yang menggunakan tato. Terlepas dari adanya stigma dan persepsi yang timbul, tato merupakan salah satu bentuk mode yang banyak digemari.<\/span><\/p>\n<p><b>Sejarah Tato<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tato merupakan jenis modifikasi tubuh yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Dalam pembuatannya, tinta tato dimasukkan ke dalam lapisan dermis kulit yang mengubah warna pigmen kulit dan bertahan lama. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Praktik tato sudah sangat tua. Melansir dari <em><a href=\"http:\/\/www.historyoftattoos.net\/\">History of Tattoos<\/a><\/em>, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">bukti tertua yang ditemukan bahwa orang saling menato berasal dari zaman Neolitik. \u00d6tzi the Iceman, mumi alami yang terpelihara dengan baik dari milenium ke-4 SM yang ditemukan di lembah \u00d6tz di Pegunungan Alpen, ia memiliki tato karbon dalam bentuk titik dan garis. Mumi Amunet dari Mesir kuno dan mumi di Pazyryk di Dataran Tinggi Ukok di Siberia barat daya juga memiliki tato. Ada juga bukti bahwa pra-Kristen Jerman, Celtic, dan suku-suku lain dari Eropa tengah dan utara juga memiliki tradisi tato. The Picts, orang-orang yang tinggal di Skotlandia timur dan utara, terkenal dengan tato hitam dan biru mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada orang yang menganggap tato sebagai tanda kebanggaan, sedangkan yang lainnya melihatnya sebagai sebuah &#8220;kebarbaran&#8221;. Orang Cina kuno biasa menato simbol untuk &#8220;tahanan&#8221; di wajah para penjahat yang dihukum dan terus melakukannya hingga abad ke-18 atau ke-19. Hal itu tidak menjadikan tato menyebar dan menciptakan makna tersendiri. Marco Polo menemukan tato hidup dan sehat di India Utara dan India, bahkan hari ini, memiliki tradisi membuat tato temporer dengan pacar. Legenda mengatakan bahwa Yue Fei, seorang jenderal Cina terkenal selama Dinasti Song, memiliki tato di punggungnya yang bertuliskan \u201cBayar Negara dengan Kesetiaan Murni\u201d dan tato itu ditato di sana oleh ibunya. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Peradaban lain juga menemukan tato mungkin secara mandiri. Masyarakat Filipina menggunakan tato sebagai tanda pangkat dan prestasi. Di Mesir tato terutama dipakai oleh wanita dan tato ini mewakili kelas, pengabdian agama mereka dipakai sebagai metode penyembuhan, dan sebagai bentuk hukuman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tato memudar di Eropa di bawah agama Kristen karena dianggap sebagai simbol barbar atau suatu kekerasan, tetapi tato tidak sepenuhnya hilang. Masih dalam artikel di <a href=\"http:\/\/www.historyoftattoos.net\/\"><em>History of Tattoos<\/em><\/a><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, pada saat pelayaran samudera dan penaklukan kekaisaran pada abad ke-16, para perantau sering membawa pulang penduduk asli bertato dari tanah yang mereka kunjungi. Ketika Kapten James Cook melakukan perjalanannya ke Pasifik Selatan, dia mencatat pengamatannya tentang modifikasi tubuh asli dan membawa kata \u201ctato\u201d ke dalam bahasa Inggris dan bahasa lainnya. Tato, dalam konteks &#8220;dunia lama&#8221; dan Amerika, menjadi populer di kalangan pelaut dan menjadi metode ekspresi diri dan juga metode identifikasi (dalam hidup maupun mati). Pada abad ke-19, tato populer di kalangan rakyat jelata dan para bangswan. Meskipun dikaitkan dengan kelas bawah pada abad ke-20, tato kembali menjadi arus utama lagi di dunia Barat pada sekitar tahun 1970-an dan pada saat ini umum digunakan di antara kedua jenis kelamin, di semua kelas ekonomi, dan orang-orang dari segala usia. Lalu, muncullah banyak salon tato yang menawarkan untuk menato orang secara profesional. Saat ini orang-orang yang memakai tato banyak yang sering bercerita tentang mereka atau ada sebagai kenang-kenangan dari hal-hal yang ingin mereka ingat. Hal ini yang nantinya akan menjadi simbol dari tato yang ingin dibuatnya.<\/span><\/p>\n<p><b>Tato di Indonesia<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa suku di Indonesia yang memang menganggap tato sebagai bagian dari budaya mereka. Misalnya, di <\/span><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Borneo\"><span style=\"font-weight: 400;\">Borneo<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> (<\/span><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kalimantan\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimantan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">), penduduk asli wanita disana menganggap bahwa tato merupakan sebuah simbol yang menunjukkan keahlian khusus. Sedangkan, Suku <\/span><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Mentawai\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mentawai<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> memandang tato sebagai suatu hal yang sakral dan berfungsi sebagai simbol keseimbangan alam.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_1439\" aria-describedby=\"caption-attachment-1439\" style=\"width: 795px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/795px-Pembuatan_Tato_Mentawai.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-1439 size-full\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/795px-Pembuatan_Tato_Mentawai.jpg\" alt=\"\" width=\"795\" height=\"599\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/795px-Pembuatan_Tato_Mentawai.jpg 795w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/795px-Pembuatan_Tato_Mentawai-300x226.jpg 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/795px-Pembuatan_Tato_Mentawai-768x579.jpg 768w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/795px-Pembuatan_Tato_Mentawai-255x192.jpg 255w\" sizes=\"auto, (max-width: 795px) 100vw, 795px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1439\" class=\"wp-caption-text\">Penato tradisional Mentawai dari Pulau Siberut sedang mempraktikan cara menato kepada seorang lelaki Mentawai pada Festival Pesona Mentawai di Mapadeggat, Tuapejat, ibukota Kabupaten kepulauan Mentawai, Sumatera Barat 20 April 2016. Orang Mentawai sedikit suku di Indonesia yang memiliki tato tradisional di sekujur tubuh dan masih bertahan di pedalaman Pulau Siberut.\/ <a class=\"new\" title=\"User:Syofiardi Bachyul Jb (page does not exist)\" href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/w\/index.php?title=User:Syofiardi_Bachyul_Jb&amp;action=edit&amp;redlink=1\">Syofiardi Bachyul Jb<\/a><\/figcaption><\/figure>\n<p><b>Tato Sebagai Bagian dari Mode<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia sendiri, tato tentu sudah bukan barang asing lagi. Mudah sekali untuk menemukan orang yang memiliki tato di tubuhnya maupun menemukan seniman tato yang menawarkan jasa tatonya. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa stigma yang dimiliki oleh pengguna tato masih terbilang cukup buruk, terutama di daerah rural dan pedesaan yang masih menjunjung norma ketimuran. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tato lebih dari sekedar gaya hidup atau tren mode belaka. Tato seolah menyatu dengan tubuh sang pemilik dan menjadi simbol tersendiri atas makna yang tersedia. Bentuk simbol hingga peletakan di mana tato itu akan dibuat semuanya memiliki makna tersendiri. Banyak orang yang merasa bangga dan lebih bahagia dengan tato yang dimilikinya. Terlepas dari aturan agama mana pun atau budaya mana pun, memiliki tato adalah sepenuhnya hak masing-masing individu.<\/span><\/p>\n<p><b>Bentuk Akulturasi Fashion<\/b><\/p>\n<figure id=\"attachment_1367\" aria-describedby=\"caption-attachment-1367\" style=\"width: 700px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/Pic-3.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-1367\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/Pic-3.png\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"379\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/Pic-3.png 700w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/Pic-3-300x162.png 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/Pic-3-255x138.png 255w\" sizes=\"auto, (max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1367\" class=\"wp-caption-text\">Tato sebagai wujud akulturasi | Sumber: ISTIMEWA via https:\/\/correcto.id\/<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dilihat dari sejarahnya, tato memang sudah ada pada zaman dahulu. Tato tertua memang ditemukan di Mesir, namun setiap daerah atau suku pasti memiliki ciri khas tatonya sendiri. Selain dari bentuk simbol yang digunakan, penggunaan dan proses pembuatan tato tentu berbeda-beda. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya saja, menggunakan duri, paku, hingga besi yang dipanaskan untuk mengukir bentuk yang diinginkan di kulit. Seiring berjalannya waktu, alat yang digunakan sudah berbeda, seperti menggunakan jarum suntik. Hal ini dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan tidak menimbulkan efek samping lain dalam kesehatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih dalam perkembangan tato, banyaknya orang yang teratrik dan ingin memiliki tato semakin tinggi. Namun, banyak yang masih takut dengan jarum atau ada larangan di dalam agamanya. Saat ini banyak dijual tato temporer atau tato yang bisa hilang dalam jangka waktu tertentu. Tato seperti ini banyak dijual di pasar <em>online<\/em> maupun di toko alat kecantikan. Tidak hanya berbentuk seperti gel, tato temporer juga ada yang berbentuk stiker. Cukup mudah dan tidak sakit jika digunakan. Meski banyak pro dan kontra terhadap munculnya tato temporer, rupanya masih banyak yang ingin menggunakan tato temporer sebagai penunjang mode atau sekadar coba-coba.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_1440\" aria-describedby=\"caption-attachment-1440\" style=\"width: 1476px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/Tips-Bikin-Gambar-Tato-Temporer-Simpel-Di-Tangan-Wanita.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-1440 size-full\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/Tips-Bikin-Gambar-Tato-Temporer-Simpel-Di-Tangan-Wanita.png\" alt=\"\" width=\"1476\" height=\"1107\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/Tips-Bikin-Gambar-Tato-Temporer-Simpel-Di-Tangan-Wanita.png 1476w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/Tips-Bikin-Gambar-Tato-Temporer-Simpel-Di-Tangan-Wanita-300x225.png 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/Tips-Bikin-Gambar-Tato-Temporer-Simpel-Di-Tangan-Wanita-1024x768.png 1024w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/Tips-Bikin-Gambar-Tato-Temporer-Simpel-Di-Tangan-Wanita-768x576.png 768w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/Tips-Bikin-Gambar-Tato-Temporer-Simpel-Di-Tangan-Wanita-255x191.png 255w\" sizes=\"auto, (max-width: 1476px) 100vw, 1476px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1440\" class=\"wp-caption-text\">https:\/\/www.atome.id\/<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara dalam Islam sendiri, tato yang dianggap boleh digunakan hanyalah henna. Dalam Islam, menato ditolak karena dianggap menutup kulit bagian atas sehingga tidak memungkinkan air wudu masuk. Namun bukan berarti Islam menolak budaya melukis tubuh. Sebagai peradaban yang lahir di tengah bangsa Arab, Islam memasukkan seni lukis tangan, Henna, menjadi bagian budaya mereka. Dalam artikel di <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/kumparanstyle\/henna-tato-yang-diterima-oleh-islam\/full\">Kumparan<\/a><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0henna menjadi bukti proses akulturasi bangsa Arab yang lama dengan gagasan yang diusung oleh peradaban Islam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSeorang wanita menjulurkan tangannya dari balik tabir. Di tangannya ada sebuah tulisan untuk Rasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam. Lalu ternyata Rasulullah shallallahu \u2018alaihi wa sallam menahan tangan beliau dan berkata, \u201dSaya tidak tahu, apakah ini tangan laki-laki ataukah tangan wanita?\u201d <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sang wanita menjawab, \u201dIni tangan wanita\u201d. Maka Nabi Shallallahu\u2019alaihi Wasallam bersabda: \u201cJika kamu seorang wanita, seharusnya engkau warnai jari-jarimu dengan henna\u201d (HR. Abu Daud 4166, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menggunakan henna bagi wanita turut didukung dengan adanya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud. Meski aturan tato dilarang dalam ajaran agama Islam, seni melukis tetap masih ada meskipun tidak seperti tato kebanyakan. Henna sendiri juga turut menjadi tradisi seperti di pernikahan atau acara besar di beberapa daerah seperti India, Turki, Arab, bahkan di Indonesia sendiri. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tato memang bukan barang baru di dunia ini, namun eksistensinya di dunia ini tidak akan pernah pudar. Banyaknya perubahan di dunia ini, mulai dari teknologi hingga budaya dan norma yang ada tidak dapat menghilangkan peradaban tato di dunia ini. Tato akan selalu ada dan berkembang beriringan dengan teknologi dan inovasi manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sumber: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><a href=\"http:\/\/www.historyoftattoos.net\/tattoo-history\/history-of-tattooing\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">http:\/\/www.historyoftattoos.net\/tattoo-history\/history-of-tattooing\/<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/a><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Rajah\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Rajah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/a><a href=\"https:\/\/kumparan.com\/kumparanstyle\/henna-tato-yang-diterima-oleh-islam\/full\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/kumparan.com\/kumparanstyle\/henna-tato-yang-diterima-oleh-islam\/full<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>[Ditulis oleh Hadjar Chanissa Nur Malika, FIKOM angkatan 2020] \u201cMy body is my journal\u00a0and my tattoos are my story.\u201d \u2015 Johnny Depp Saat ini stigma orang yang memiliki tato di tubuhnya masih mendapat perlakuan dan stigma yang cenderung buruk di masyarakat. Hal ini tentu tidak luput dari campur tangan media yang menampilkan pertunjukkan seolah orang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":1379,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11,1,8],"tags":[207,198,63,205,206,20],"class_list":["post-1365","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-banner","category-latest-news-latest-news","category-latest-news","tag-akulturasi","tag-fikom-uc","tag-ilmu-komunikasi","tag-tato","tag-tradisi","tag-universitas-ciputra"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Bingkai Akulturasi Fashion Melalui Seni Tato - Universitas Ciputra<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bingkai Akulturasi Fashion Melalui Seni Tato - Universitas Ciputra\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"[Ditulis oleh Hadjar Chanissa Nur Malika, FIKOM angkatan 2020] \u201cMy body is my journal\u00a0and my tattoos are my story.\u201d \u2015 Johnny Depp Saat ini stigma orang yang memiliki tato di tubuhnya masih mendapat perlakuan dan stigma yang cenderung buruk di masyarakat. Hal ini tentu tidak luput dari campur tangan media yang menampilkan pertunjukkan seolah orang...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Ciputra\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-03-01T06:52:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-07-01T05:28:28+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/pic-1-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"700\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"466\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Gabriela Swastika\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Gabriela Swastika\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Gabriela Swastika\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/da325f24ac3a3eda247e3c5f80e2e5ec\"},\"headline\":\"Bingkai Akulturasi Fashion Melalui Seni Tato\",\"datePublished\":\"2022-03-01T06:52:17+00:00\",\"dateModified\":\"2022-07-01T05:28:28+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\\\/\"},\"wordCount\":1305,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/fikom\\\/2022\\\/03\\\/pic-1-1.jpg\",\"keywords\":[\"akulturasi\",\"FIKOM UC\",\"ilmu komunikasi\",\"tato\",\"tradisi\",\"Universitas Ciputra\"],\"articleSection\":[\"Banner\",\"Latest News\",\"Latest News\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\\\/\",\"name\":\"Bingkai Akulturasi Fashion Melalui Seni Tato - Universitas Ciputra\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/fikom\\\/2022\\\/03\\\/pic-1-1.jpg\",\"datePublished\":\"2022-03-01T06:52:17+00:00\",\"dateModified\":\"2022-07-01T05:28:28+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/da325f24ac3a3eda247e3c5f80e2e5ec\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/fikom\\\/2022\\\/03\\\/pic-1-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/fikom\\\/2022\\\/03\\\/pic-1-1.jpg\",\"width\":700,\"height\":466},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bingkai Akulturasi Fashion Melalui Seni Tato\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/\",\"name\":\"Universitas Ciputra\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/da325f24ac3a3eda247e3c5f80e2e5ec\",\"name\":\"Gabriela Swastika\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/6b03edf7d3db51d89227cb8bf1fc214f4b0c1a98372e0e1cee65ff467f9b31be?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/6b03edf7d3db51d89227cb8bf1fc214f4b0c1a98372e0e1cee65ff467f9b31be?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/6b03edf7d3db51d89227cb8bf1fc214f4b0c1a98372e0e1cee65ff467f9b31be?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Gabriela Swastika\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/author\\\/gabriela-swastikaciputra-ac-id\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bingkai Akulturasi Fashion Melalui Seni Tato - Universitas Ciputra","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Bingkai Akulturasi Fashion Melalui Seni Tato - Universitas Ciputra","og_description":"[Ditulis oleh Hadjar Chanissa Nur Malika, FIKOM angkatan 2020] \u201cMy body is my journal\u00a0and my tattoos are my story.\u201d \u2015 Johnny Depp Saat ini stigma orang yang memiliki tato di tubuhnya masih mendapat perlakuan dan stigma yang cenderung buruk di masyarakat. Hal ini tentu tidak luput dari campur tangan media yang menampilkan pertunjukkan seolah orang...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/","og_site_name":"Universitas Ciputra","article_published_time":"2022-03-01T06:52:17+00:00","article_modified_time":"2022-07-01T05:28:28+00:00","og_image":[{"width":700,"height":466,"url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/pic-1-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Gabriela Swastika","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Gabriela Swastika","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/"},"author":{"name":"Gabriela Swastika","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/#\/schema\/person\/da325f24ac3a3eda247e3c5f80e2e5ec"},"headline":"Bingkai Akulturasi Fashion Melalui Seni Tato","datePublished":"2022-03-01T06:52:17+00:00","dateModified":"2022-07-01T05:28:28+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/"},"wordCount":1305,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/pic-1-1.jpg","keywords":["akulturasi","FIKOM UC","ilmu komunikasi","tato","tradisi","Universitas Ciputra"],"articleSection":["Banner","Latest News","Latest News"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/","name":"Bingkai Akulturasi Fashion Melalui Seni Tato - Universitas Ciputra","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/pic-1-1.jpg","datePublished":"2022-03-01T06:52:17+00:00","dateModified":"2022-07-01T05:28:28+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/#\/schema\/person\/da325f24ac3a3eda247e3c5f80e2e5ec"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/#primaryimage","url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/pic-1-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2022\/03\/pic-1-1.jpg","width":700,"height":466},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/bingkai-akulturasi-fashion-melalui-seni-tato\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bingkai Akulturasi Fashion Melalui Seni Tato"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/","name":"Universitas Ciputra","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/#\/schema\/person\/da325f24ac3a3eda247e3c5f80e2e5ec","name":"Gabriela Swastika","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6b03edf7d3db51d89227cb8bf1fc214f4b0c1a98372e0e1cee65ff467f9b31be?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6b03edf7d3db51d89227cb8bf1fc214f4b0c1a98372e0e1cee65ff467f9b31be?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/6b03edf7d3db51d89227cb8bf1fc214f4b0c1a98372e0e1cee65ff467f9b31be?s=96&d=mm&r=g","caption":"Gabriela Swastika"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/author\/gabriela-swastikaciputra-ac-id\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1365","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1365"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1365\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1656,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1365\/revisions\/1656"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1379"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1365"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1365"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1365"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}