{"id":1816,"date":"2023-01-04T08:44:07","date_gmt":"2023-01-04T01:44:07","guid":{"rendered":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/?p=1816"},"modified":"2023-01-04T08:46:38","modified_gmt":"2023-01-04T01:46:38","slug":"laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/","title":{"rendered":"Laksamana Malahayati: Rupa Feminisme Masa Lampau, Buktikan Melalui Perlawanan Tanah Rencong"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_1817\" aria-describedby=\"caption-attachment-1817\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-1.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-1817\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-1.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"370\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-1.png 640w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-1-300x173.png 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-1-200x116.png 200w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-1-100x58.png 100w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-1-75x43.png 75w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-1-50x29.png 50w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1817\" class=\"wp-caption-text\">Laksamana Malahayati | Sumber: koransulindo.com<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namanya Laksamana Malahayati, seorang wanita kuat, tangguh, dan perkasa dari tanah\u00a0 Aceh. Malahayati adalah wanita yang rela berpeluh darah membela tanah Aceh dari penjajah yang\u00a0 menjarah rempah-rempah. Jauh sebelum adanya kampanye feminis dan segudang teori emansipasinya, Malahayati sudah membuktikan terlebih dahulu bahwa perempuan bisa\u00a0 memiliki peran seperti laki-laki. Tidak hanya sekadar berdiam dan bersolek di dalam rumah,\u00a0 Malahayati bisa membuktikan bahwa seorang perempuan bisa menjadi seorang militer dan\u00a0 ikut berperang. Maka tak heran, jika ia adalah laksamana wanita pertama di dunia yang\u00a0 disegani di negara Barat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang catatan sejarah, belum ada yang memastikan kapan lahirnya Malahayati.\u00a0 Diperkirakan Malahayati lahir pada akhir ke-15 atau awal abad ke-16. Malahayati adalah putri dari\u00a0 Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said\u00a0 Syah putra dari Sulan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530-1539 M. Sultan\u00a0 Salahuddin Syah sendiri adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M)\u00a0 yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. Jika ditilik dari garis keturunannya,\u00a0 Malahayati adalah seorang darah biru keturunan keraton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedari kecil, Malahayati sudah dikenalkan dengan berbagai macam ilmu. Seperti ilmu Al-Quran dan agama yang dipelajari dari Tengku Jamaluddin Lam Kra, seorang ulama sekaligus\u00a0 pemilik pesantren putri di Banda Aceh. Selain itu, Malahayati juga belajar berbagai bahasa\u00a0 asing, seperti Prancis, Spanyol, dan Inggris. Dari sinilah Malahayati terlihat kecerdasannya,\u00a0 yang mana kelak beliau sering mengurusi urusan diplomasi kerajaan.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat masih kecil, ayahnya sering mengajak Malahayati ke pelabuhan untuk melihat\u00a0 kapal dagang dan kapal perang milik kerajaan Aceh. Bahkan terkadang, ayahnya juga\u00a0 mengajak melihat latihan pertempuran dari kapal perang Aceh. Bermula dari sini lah\u00a0 kecintaannya pada dunia bahari dan militer tumbuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tahun 1575 M, Laksamana Mahmud Syah memimpin armada perang bersama armada\u00a0 Banten yang dimpimpin Pangeran Arya bin Maulana Hasanuddin di Malaka untuk menangkis\u00a0 serangan Portugis. Dalam pertempuran dekat pangkalan La Formosa, Laksamana Mahmud\u00a0 Syah gugur di atas kapal komandonya Seulawah Agam. Akibat kepergian Ayahandanya,\u00a0 Malahayati yang terpukul batinnya bersumpah akan berjuang untuk melawan penjajah. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Di umur 17 tahun, Malahayati menikah dengan Laksamana Muda Ibrahim, bawahan dari\u00a0 mendiang ayahnya. Pada saat melakukan patroli, ada 6 kapal Portugis yang merampas\u00a0 rempah-rempah di perairan Pulau Alang Besar. Saat kapal Portugis akan digeledah, mereka\u00a0 menolak. Terjadilah pertempuran laut. Peluru meriam dari kapal Portugis menghantam kapal\u00a0 Laksamana Muda Ibrahim. Beliau tidak sempat menghindar dan tewas seketika. Malahayati\u00a0 kembali terpukul hatinya atas gugurnya sang suami. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Malahayati akhirnya melanjutkan pertempuran laut dengan menggunakan baju suaminya.\u00a0 Malahayati yang mengambil alih pertempuran tersebut berhasil menenggelamkan 3 kapal\u00a0 Portugis, 2 kapal ditawan, dan 1 kapal melarikan diri. Keberhasilan tersebut tersiar luas\u00a0 hingga ke Aceh dan Banten.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di usia 22 tahun Malahayati sudah diangkat menjadi Panglima Armada V Kerajaan Aceh\u00a0 dengan pangkat Laksamana Muda. Malahayati tidak hanya memimpin pasukan yang\u00a0 beranggotakan laki-laki, namun juga perempuan. Barisan perempuan ini adalah wanita yang\u00a0 ditinggal mati suaminya di perang Teluk Haru. Armada ini disebut dengan armada Inong\u00a0 Balee dengan Teluk lamreh Krueng Raya sebagai pangkalannya.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_1818\" aria-describedby=\"caption-attachment-1818\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-1818\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-2.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"768\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-2.jpg 1024w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-2-300x225.jpg 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-2-200x150.jpg 200w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-2-100x75.jpg 100w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-2-75x56.jpg 75w, https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-2-50x38.jpg 50w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1818\" class=\"wp-caption-text\">Benteng Inong Balee | Sumber: tagar.id<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 21 Juni 1599, Aceh didatangi de Houtman bersaudara. Ibrahim Alfian dalam Wajah\u00a0 Aceh dalam Lintasan Sejarah (1999) menyebutkan bahwa dua kapal besar tersebut\u00a0 adalaah de Leeuw dan de Leewin. Masing-masing dari kedua kapal itu dipimpin oleh\u00a0 Frederick dan Cornelis de Houtman. Tujuan mereka ke tanah Aceh adalah untuk membeli\u00a0 rempah-rempah, yaitu lada aceh yang sudah terkenal di lidah orang Eropa. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya, hubungan pendatang dari Eropa tersebut dengan Kesultanan Aceh baik-baik saja.\u00a0 Namun, akibat sikap Belanda yang pongah dan adanya provokasi dari bangsa Portugis, situasi\u00a0 memanas. Terjadilah pertempuran di atas laut, Sultan Alauddin memerintah Malahayati untuk\u00a0 menyerbu 2 kapal tadi yang masih ada di Selat Malaka.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Terjadilah duel di kapal Cornelis de Houtman. Malahayati bersenjatakan rencong, sedangkan\u00a0 Cornelis de Houtman menggunakan pedang. Pertarungan sengit terjadi di antara keduanya.\u00a0 Saat Cornelis de Houtman akan menebaskan pedangnya, Malahayati dengan sigap menikam\u00a0 dada Cornelis de Houtman dengan rencongnya. Cournelis de Houtman tewas seketika,\u00a0 sedangkan saudaranya Frederick de Houtman ditangkap dan dijebloskan ke penjara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya andal dalam bertempur, Malahayati juga pandai berdiplomasi. Hal ini dibuktikan\u00a0 dari keterlibatan beliau dalam mengurusi masalah internal kerajaan dan bertugas sebagai juru\u00a0 runding. Setelah peristiwa penikaman Cornelis de Houtman oleh Malahayati, kapal Belanda yang dipimpin van Cardeen datang pada 21 November 1600. Kapal van Cardeen melakukan\u00a0 suatu kesalahan. Sebelum mereka memasuki pelabuhan Aceh, mereka merampas lada milik\u00a0 kapal pedagang Aceh. Akibatnya, ketika ada kapal Belanda lagi yang dipimpin Laksamana\u00a0 Yacob van Neck, Malahayati memerintahkan anak buahnya untuk bersikap tidak ramah\u00a0 kepada rombongan van Neck. Untuk meminta ganti rugi atas dirampasnya kapal dagang\u00a0 Aceh, Sultan Aceh meminta untuk menawan semua kapal yang berlabuh di pelabuhan Aceh.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 23 Agustus 1601 kapal dagang Belanda di bawah pimpinan Gerard de Roy dan Laurens\u00a0 Bicker tiba di Pelabuhan Aceh. Kapal tersebut sengaja datang atas perintah Pangeran Maurits\u00a0 untuk menjalin hubungan persahabatan dengan Aceh. Keduanya mendapat perintah untuk\u00a0 menyampaikan surat dan hadiah kepada Sultan Aceh.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum surat tersebut disampaikan kepada Sultan Aceh, Malahayati dengan Laksamana\u00a0 Laurens Becker serta Komisaris Gerard de Roy melakukan perundingan. Dari perundingan\u00a0 tersebut, membuahkan hasil berupa terwujudnya perdamaian antara Aceh dan Belanda.\u00a0 Sebagai imbalan dari dibebaskannya Frederick de Houtman dari tahanan, Belanda harus\u00a0 membayar kerugian kepada kapal-kapal Aceh yang dirampas oleh van Cardeen. Akibat\u00a0 kepandaian diplomasi Malahayati, Belanda memberikan hukuman denda kepada van Cardeen\u00a0 untuk membayar 50.000 gulden kepada Aceh. Setelah denda dibayarkan, Belanda kembali\u00a0 diperbolehkan berdagang di Aceh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malahayati bisa jadi tidak seterkenal Cut Nyak Dien, Kartini dan sebagainya. Namun semua\u00a0 jasanya tidak bisa dilupakan begitu saja. Usahanya menumpas kapal-kapal penjajah serta\u00a0 membuat armada Aceh yang kuat hingga disegani negara lain perlu dihargai. Dirinya\u00a0 membuktikan bahwa perempuan bisa memiliki peran layaknya lelaki, seperti bertempur, hak\u00a0 untuk mendapat pendidikan, dan berdiplomasi. Pada 6 November 2017 Presiden Joko\u00a0 Widodo memberikan penghargaan kepada Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan\u00a0 Nasional. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai perempuan, patutnya kita bisa menjadikan Malahayati sebagai suri tauladan. Stigma\u00a0 yang mucul bahwa perempuan hanya bisa bersolek, manja, dan hanya sebagai pelengkap\u00a0 kaum pria bisa dirubah jika para perempuan mampu mengejar impiannya. Seperti Malahayati\u00a0 yang bermimpi ingin menjadi bagian dari militer, perempuan pun juga bisa mengejar\u00a0 mimpinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malahayati memanglah seorang panglima tempur yang tegas dan tangguh. Kita sebagai\u00a0 wanita tidak perlu memaksakan diri untuk bisa sekeras Malahayati, namun yang perlu digaris\u00a0 bawahi adalah bagaimana kita sebagai wanita mampu bersikap tangguh sekaligus lembut dan\u00a0 bijaksana. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah Laksamana Malahayati, Singa Betina dari Aceh. Salah satu pahlawan yang sangat\u00a0 besar jasanya dalam menumpas penjajah. Pahlawan wanita yang mampu menunjukkan bahwa\u00a0 emansipasi sudah ada di zaman dahulu. Atas jasanya, nama beliau diabadikan menjadi nama Universitas Malahayati di Bandar Lampung.<\/span><\/p>\n<hr \/>\n<p class=\"p1\"><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li class=\"p1\">Pewara, A., 1991. Hikayat Malahayati Singa Betina dari Aceh. Surabaya: Karya Anda. Acehprov.go.id. 2021. Laksamana Keumalahayati. [online] [Diakses 5 April\u00a0 2021].<\/li>\n<li class=\"p1\">Alfian, I., 2005. Wajah Aceh dalam lintasan sejarah. Yogyakarta: Gadjah Mada University\u00a0 Press.\u00a0 Raditya, I., 2020. Cornelis de Houtman Tewas dalam Tikaman Rencong Malahayati &#8211; Tirto.ID. [online] tirto.id. [Diakses 5 April 2021]<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Namanya Laksamana Malahayati, seorang wanita kuat, tangguh, dan perkasa dari tanah\u00a0 Aceh. Malahayati adalah wanita yang rela berpeluh darah membela tanah Aceh dari penjajah yang\u00a0 menjarah rempah-rempah. Jauh sebelum adanya kampanye feminis dan segudang teori emansipasinya, Malahayati sudah membuktikan terlebih dahulu bahwa perempuan bisa\u00a0 memiliki peran seperti laki-laki. Tidak hanya sekadar berdiam dan bersolek&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":1817,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,1],"tags":[268,270,269,198,63,266,267,248,20],"class_list":["post-1816","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-latest-news","category-latest-news-latest-news","tag-aceh","tag-emansipasi","tag-feminisme","tag-fikom-uc","tag-ilmu-komunikasi","tag-pahlawan","tag-perempuan","tag-sejarah","tag-universitas-ciputra"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.0 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Laksamana Malahayati: Rupa Feminisme Masa Lampau, Buktikan Melalui Perlawanan Tanah Rencong - Universitas Ciputra<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Laksamana Malahayati: Rupa Feminisme Masa Lampau, Buktikan Melalui Perlawanan Tanah Rencong - Universitas Ciputra\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"&nbsp; Namanya Laksamana Malahayati, seorang wanita kuat, tangguh, dan perkasa dari tanah\u00a0 Aceh. Malahayati adalah wanita yang rela berpeluh darah membela tanah Aceh dari penjajah yang\u00a0 menjarah rempah-rempah. Jauh sebelum adanya kampanye feminis dan segudang teori emansipasinya, Malahayati sudah membuktikan terlebih dahulu bahwa perempuan bisa\u00a0 memiliki peran seperti laki-laki. Tidak hanya sekadar berdiam dan bersolek...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Ciputra\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-01-04T01:44:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-01-04T01:46:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-1.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"640\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"370\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"UC FIKOM\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"UC FIKOM\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"UC FIKOM\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/36911e0f30e08b8ef21cdc310c883333\"},\"headline\":\"Laksamana Malahayati: Rupa Feminisme Masa Lampau, Buktikan Melalui Perlawanan Tanah Rencong\",\"datePublished\":\"2023-01-04T01:44:07+00:00\",\"dateModified\":\"2023-01-04T01:46:38+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\\\/\"},\"wordCount\":1131,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/fikom\\\/2023\\\/01\\\/pic-1.png\",\"keywords\":[\"Aceh\",\"emansipasi\",\"feminisme\",\"FIKOM UC\",\"ilmu komunikasi\",\"pahlawan\",\"perempuan\",\"sejarah\",\"Universitas Ciputra\"],\"articleSection\":[\"Latest News\",\"Latest News\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\\\/\",\"name\":\"Laksamana Malahayati: Rupa Feminisme Masa Lampau, Buktikan Melalui Perlawanan Tanah Rencong - Universitas Ciputra\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/fikom\\\/2023\\\/01\\\/pic-1.png\",\"datePublished\":\"2023-01-04T01:44:07+00:00\",\"dateModified\":\"2023-01-04T01:46:38+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/36911e0f30e08b8ef21cdc310c883333\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/fikom\\\/2023\\\/01\\\/pic-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/fikom\\\/2023\\\/01\\\/pic-1.png\",\"width\":640,\"height\":370,\"caption\":\"Laksamana Malahayati | Sumber: koransulindo.com\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Laksamana Malahayati: Rupa Feminisme Masa Lampau, Buktikan Melalui Perlawanan Tanah Rencong\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/\",\"name\":\"Universitas Ciputra\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/36911e0f30e08b8ef21cdc310c883333\",\"name\":\"UC FIKOM\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/0c96d36b35cfdf1760c00b8a91bf5085e41406597e4d6d399f9329d86353fb06?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/0c96d36b35cfdf1760c00b8a91bf5085e41406597e4d6d399f9329d86353fb06?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/0c96d36b35cfdf1760c00b8a91bf5085e41406597e4d6d399f9329d86353fb06?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"UC FIKOM\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/fikom\\\/author\\\/fikomoffice\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Laksamana Malahayati: Rupa Feminisme Masa Lampau, Buktikan Melalui Perlawanan Tanah Rencong - Universitas Ciputra","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Laksamana Malahayati: Rupa Feminisme Masa Lampau, Buktikan Melalui Perlawanan Tanah Rencong - Universitas Ciputra","og_description":"&nbsp; Namanya Laksamana Malahayati, seorang wanita kuat, tangguh, dan perkasa dari tanah\u00a0 Aceh. Malahayati adalah wanita yang rela berpeluh darah membela tanah Aceh dari penjajah yang\u00a0 menjarah rempah-rempah. Jauh sebelum adanya kampanye feminis dan segudang teori emansipasinya, Malahayati sudah membuktikan terlebih dahulu bahwa perempuan bisa\u00a0 memiliki peran seperti laki-laki. Tidak hanya sekadar berdiam dan bersolek...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/","og_site_name":"Universitas Ciputra","article_published_time":"2023-01-04T01:44:07+00:00","article_modified_time":"2023-01-04T01:46:38+00:00","og_image":[{"width":640,"height":370,"url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-1.png","type":"image\/png"}],"author":"UC FIKOM","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"UC FIKOM","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/"},"author":{"name":"UC FIKOM","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/#\/schema\/person\/36911e0f30e08b8ef21cdc310c883333"},"headline":"Laksamana Malahayati: Rupa Feminisme Masa Lampau, Buktikan Melalui Perlawanan Tanah Rencong","datePublished":"2023-01-04T01:44:07+00:00","dateModified":"2023-01-04T01:46:38+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/"},"wordCount":1131,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-1.png","keywords":["Aceh","emansipasi","feminisme","FIKOM UC","ilmu komunikasi","pahlawan","perempuan","sejarah","Universitas Ciputra"],"articleSection":["Latest News","Latest News"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/","name":"Laksamana Malahayati: Rupa Feminisme Masa Lampau, Buktikan Melalui Perlawanan Tanah Rencong - Universitas Ciputra","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-1.png","datePublished":"2023-01-04T01:44:07+00:00","dateModified":"2023-01-04T01:46:38+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/#\/schema\/person\/36911e0f30e08b8ef21cdc310c883333"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/#primaryimage","url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-1.png","contentUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/fikom\/2023\/01\/pic-1.png","width":640,"height":370,"caption":"Laksamana Malahayati | Sumber: koransulindo.com"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/laksamana-malahayati-rupa-feminisme-masa-lampau-buktikan-melalui-perlawanan-tanah-rencong\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Laksamana Malahayati: Rupa Feminisme Masa Lampau, Buktikan Melalui Perlawanan Tanah Rencong"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/","name":"Universitas Ciputra","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/#\/schema\/person\/36911e0f30e08b8ef21cdc310c883333","name":"UC FIKOM","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0c96d36b35cfdf1760c00b8a91bf5085e41406597e4d6d399f9329d86353fb06?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0c96d36b35cfdf1760c00b8a91bf5085e41406597e4d6d399f9329d86353fb06?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0c96d36b35cfdf1760c00b8a91bf5085e41406597e4d6d399f9329d86353fb06?s=96&d=mm&r=g","caption":"UC FIKOM"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/author\/fikomoffice\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1816","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1816"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1816\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1819,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1816\/revisions\/1819"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1817"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1816"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1816"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/fikom\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1816"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}