Stunting: Tidak Sekedar Balita Pendek

Stunting merupakan suatu kondisi dimana seseorang memiliki kekurangan gizi kronis yang sudah berlangsung sejak dalam kandungan. Kondisi ini dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan seseorang termasuk pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, motorik dan verbal. Sayangnya, kondisi ini sering kali dianggap remeh dengan anggapan “mungkin memang belum waktunya tumbuh” atau “anaknya susah makan” yang kemudian dilanjutkan dengan lepas tangannya orang tua dari masalah ini.
Stunting dapat disebabkan oleh asupan nutrisi yang tidak memadai, infeksi berulang maupun penyakit yang dapat menghalau penyerapan nutrisi. Rawannya stunting terjadi pada anak-anak, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (sekitar 3 tahun), untuk itu pencegahan sudah harus dilakukan sejak ibu hamil muda.
Indonesia menjadi negara ketiga dengan prevalensi stunting tertinggi di Asia Tenggara dengan rata-rata pervalensi 36,4%. Melihat seriusnya masalah ini, Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra menginisiasi program sosialisasi berupa webinar dengan judul “Pemantauan dan Pencegahan Stunting Era Covid-19”. Webinar yang dilaksanakan pada tanggal 25 September 2021 lalu ini membahas tentang pencegahan stunting, situasi stunting di Indonesia, nutrisi kehamilan serta hubungan penyakit infeksi dengan stunting. Dengan lima (5) pembicara dari Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra yaitu dr. Charles Siahaan, Sp.OG, dr. Berlian Beatrix Rarome, Sp.A, Prof. dr. Bambang Wirjatmadi, M.S., M.CN., Ph.D., Sp.GK(K) dan dr. Areta Idarto, Sp.A serta dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya yaitu Syarifudin Dimas Zarkasyi S.Tr Gz.

Banyak sekali yang bisa kita dapat dari webinar yang diadakan via Zoom dan disiarkan melalui kanal Youtube Universitas Ciputra ini. Beberapa catatan penting terkait pencegahan dan penanganan stunting atau yang biasa disebut balita pendek meliputi identifikasi gejala stunting seperti pertumbuhan fisik kurang maksimal dibandingkan anak-anak sebayanya dan kondisi anak yang rentan sakit.
Berdasarkan Permenkes No. 39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga, pencegahan stunting telah menjadi program prioritas pemerintah. Agendanya meliputi pencegahan stunting pada ibu hamil dan bersalin, balita, anak usia sekolah, remaja serta dewasa muda. Pemerintah Kota Surabaya juga turut mendukung misi ini dengan membentuk program Pendampingan 1000 Hari Pertama Kehidupan (Penari Tampan) dan Kampung Asi.
Selain usaha pencegahan dan penanganan dari pemerintah, orang tua sebagai wali langsung dari anak perlu turut aktif dalam pola pengasuhan anak, seperti mengawasi makanan yang dikonsumsi oleh anak, memberikan panduan kepada ART terkait konsumsi makanan anak, mengikuti kegiatan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) bersama anak, dan pengawasan-pengawasan lain pada masa pertumbuhan anak. Dengan aktifnya keterlibatan orang tua dalam pola pengasuhan anak, stunting akan dapat lebih mudah dicegah dan ditangani sehingga kondisi yang irreversible ini tidak akan merugikan anak di masa depannya.

 

Penulis,

Teta Paramitha

Artikel lain