
Sejarah kota Surabaya dapat dinikmati melalui bangunan – bangunan kuno dengan arsitektur khas dari zamannya yang tetap kokoh hinggi kini sebagai bagian dari perjalanan sebuah kota. Berikut ini merupakan beberapa daya tarik wisata sejarah Surabaya.
1. Gedung HVA
Gedung ini sekarang digunakan sebagai kantor pusat PTPN XI. Bangunan yang terletak di Jalan Merak no. 1 ini mulai dibangun pada tahun 1920 dan selesai pada tahun 1925. Arsiteknya pun adalah orang dari negeri penjajah yang terkenal di Batavia yaitu Hulswit, Fermont dan Ed. Cuypers. Dulunya bangunan ini adalah kompleks gedung terbesar di Surabaya. Gedung yang sejak awal dijadikan pusat pengelolaan perkebunan oleh HVA ini dapat dipersepsikan sebagai lambang konglomerasi industri gula dan awal penetrasi kapitalisme di Jawa. Jika ingin mencapai lokasi ini ada dapat menggunakan transportasi umum dengan rute ke JMP.
2. Gedung Aniem
Gedung yang terletak di Jalan Gemblongan ini dulunya adalah milik perusahaan listrik pemerintah Hindia Belanda. Arsiteknya adalah Job dan Sprey yang berasal dari Belanda. Gedung yang telah dibangun sejak 1930 ini saat ini juga masih digunakan untuk kegiatan yang berkaitan dengan listrik, yaitu sebagai kantor PLN. Jika anda ingin melihat langsung gedung ini, mudah saja karena semua angkutan dari JMP yang menuju TUnjungan Plaza melalui gedung ini.

3. Kantor Pos
Gedung ini mungkin tampak seperti kantor pos biasa bagi masyarakat Surabaya. Dominasi warna oranye dan hitam tentulah langsung mengingatkan kita dengan kantor pos yang identik dengan dua warna tersebut. Namun, gedung klasik dengan atap oriental ini merupakan salah satu bangunan bersejarah dan berharga yang dimiliki kota Surabaya. Bangunan peninggalan kolonial yang terletak di Jalan Kebon Rojo ini masih berdiri kokoh hingga saat ini.
4. Rumah Sakit Darmo
Gedung yang terletak di Jalan Raya Darmo ini dulunya digunakan sebagai kamp. Interniran anak – anak dan wanita pada zaman pendudukan Jepang. Bentuk bangunannya cukup unik menyerupai bentuk gereja. Tempat ini mulai dioperasikan sebagai rumah sakit pada tanggal 15 Januari 1921. Ketika pasukan sekutu datang, gedung ini diambil alih oleh Let. Kol. Rendall. Pada tanggal 27 Oktober 1945, sejarah pun dimulai di tempat ini. Brig. Jend A.W.S Mallaby dan pasukannya memilih gedung ini sebagai pusat pertahanan dan meletuslah insiden pertama antara pasukan Mallaby dan arek-arek Surabaya.

5. Stasiun Gubeng
Stasiun ini merupakan stasiun kereta api terbesar di Surabaya yang melayani jalur selatan. Stasiun ini pertama kali dibangun di sisi barat rel kereta api. Pada pertengahan dekade 1990an barulah bangunan baru dengan arsitektur yang lebih modern didirikan di sisi timur rel kereta api. Walaupun saat ini bangunan baru stasiun yang lebih banyak digunakan namun stasiun ini merupakan salah satu saksi sejarah Surabaya.
6. Hotel Majapahit
Hotel bintang lima yang terletak di Jalan Tunjungan no. 65 ini didirikan oleh pedangan Lucas Martin Sarkies dari Armenia. Dirancang dengan konsep arsitektur Art Nouveau oleh James Afprey dari Inggris. Gedung ini mulai dibangun pada 1910. Pertama kali hotel ini dibuka pada tahun 1911 menggunakan nama Hotel Oranje. Ketika masa pendudukan Jepang hotel ini berganti nama menjadi hotel Yamato Hoteru dan justru beralih fungsi menjadi sebuah penjara. Peristiwa monumental yang terjadi di gedung ini adalah saat terjadinya perobekan bagian warna biru dari bendera si penjajah pada November 1948 di bawah pimpinan Bung Tomo, hingga yang terpasang tinggal warna merah-putih yang hingga saat ini menjadi bendera kebangsaan Indonesia kita tercinta.
7. Pintu Air Jagir
Pintu air ini merupakan peninggalan Bangsa Belanda yang hingga kini masih berdiri kokoh di daerah Jagir Wonokromo. Fungsi pintu air ini tentunya mengatur debit air yang masuk ke Kota Surabaya. Jika ingin datang ke sana alangkah baiknya jika anda datang pada sore hari, karena akan terlihat lebih indah akibat cahaya lampu yang menyala di sekeliling pintu air tersebut.

8. Gedung Grahadi
Dahulu posisi gedung ini menghadap ke Kalimas di sebelah utara sehingga pada sore hari para penghuninya bisa melihat perahu-perahu yang melintasi kali sambil minum teh. Gedung yang dibangun pada tahun 1795 saat kekuasaan Residan Dirk Van Hogendorps. Tempat ini dulunya juga berfungsi sebagai Pengadilan Tinggi (Raad Van Justitie), tempat resepsi dan pesta dansa. Perubahan posisi Grahadi menghadap ke selatan terjadi pada tahun 1802 dengan Taman Simpang (Kroesen) diseberangnya. Hingga saat ini gedung ini digunakan sebagai rumah dinas Gubernur Jawa Timur sejak terakhir kali digunakan oleh Gubernur Belanda CH. Hartevelt.
9. Jembatan Goebeng
Jembatan ini mungkin tidak sepopuler Jembatan Merah. Namun, jika dilihat gaya arsitekturnya sesungguhnya menyerupai bangunan Jembatan Merah. Warga sekitar menyebut jembatan itu dengan istilah “Rolak Gubeng” karena ada bendungan air di sebelah selatan Jembatan. Jembatan ini bahkan sempat menjadi pusat hiburan warga yang murah meriah. Baik hanya sekedar tempat nongkrong atau tempat menunggu. Namun semenjak adanya Surabaya Plaza kejayaan Jembatan Gubeng mulai meredup. Untung saja ada pembangunan Monkasel yang melayani wisata air melalui sungai ini sehingga sampai saat ini Jembatan Gubeng masih terawat dengan lampu – lampu hias do malam hari.
10.Kantor Gubernur
Gedung ini terletak di Jalan Kebonrojo di depan Tugu Pahlawan. Bangunan peninggalan kolonial ini memiliki nilai sejarah yang tinggi. Dulunya gedung yang dibangun pada Mei 1929 – Agustus 1931 oleh N.V. Nedam ini digunakan sebagai kantor. Kantor ini letaknya berdekatan dengan salah satu ikon kota Surabaya yaitu Tugu Pahlawan.



