Pada saat lulus, pihak kampus menawarkan kepada Evron untuk menjadi tutor mata kuliah statistik. Setelah itu dia memilih untuk mencari pekerjaan yang akhirnya beliau bekerja di perusahaan air minum dalam kemasan. Awal posisi yang dia jabati adalah staff biasa, namun seiring berjalannya waktu setelah satu bulan bekerja, gaji Evron naiks sekitar 20%. Setelah itu, seiring berjalannya waktu bekerja di perusahaan air minum dalam kemasan, pada bulan ke 6 beliau bekerja, gaji Evron naik hingga 2x lipat lebih. Kegigihan Evron dalam bekerja tidak diragukan lagi karena beliau memang suka kerja dan pekerja keras. Daya juang dan rasa pekerja keras yang tinggi membuat Evron dipercayai untuk menjadi ketua divisi baru yang belum ada sebelumnya yaitu divisi marketing communication. Walaupun divisi ini baru dan Evron harus berlatih dan belajar dari nol, Evron sangat gigih dan bertanggung jawab atas target yang diberikan oleh atasan.
Karakter ini terbentuk dikarenakan pada saat kuliah di UC beliau berjuang dan membuktikan bahwa beliau bisa. Menurut Evron sebagai anak muda kita harus kerja keras untuk bisa kerja cerdas. Hasil kerja kerasnya membuahkan hasil dengan pembuktian tercapainya target membuka 33 outlet baru setiap bulannya. Padahal, atasan Evron hanya memberikan target 21 outlet baru disetiap bulannya. Singkat cerita, pada akhirnya Evron memilih untuk resign dikarenakan jam kerja beliau yang hampir 12 jam lebih perhari membuatnya berfikir jika terus bekerja seperti ini dia tidak bisa memiliki jam untuk beristirahat maupun waktu untuk kegiatannya lainnya (No Life). Sebenarnya menurut Evron kerja capek tidak masalah namun pada saat itu beliau resign dikarenakan alasan lain juga, Evron ingin mencoba hal yang baru.
WhatsApp us