{"id":360,"date":"2019-01-15T01:38:48","date_gmt":"2019-01-15T01:38:48","guid":{"rendered":"https:\/\/uc.ac.id\/ict\/?p=360"},"modified":"2019-01-15T02:25:50","modified_gmt":"2019-01-15T02:25:50","slug":"kenapa-uber-gagal-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/ict\/kenapa-uber-gagal-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Kenapa UBER gagal di Indonesia ?"},"content":{"rendered":"<div class=\"wpb-content-wrapper\"><p>[vc_row][vc_column][vc_single_image image=&#8221;362&#8243; img_size=&#8221;full&#8221; alignment=&#8221;center&#8221;][vc_column_text]Kenapa UBER gagal di Indonesia ? : Siapa yang tidak tahu UBER, sebagai pelopor transportasi online di Indonesia sebelum marak maraknya. Uber selalu mendapatkan tempat di hati masyarakat yang membutuhkan transportasi taxi online murah dan mudah. Namun sayangnya kenapa UBER gulung tikar dari Indonesia. Mungkin bagi anda yang suka naik uber karena harganya murah dan promonya banyak hal ini sangat menyedihkan. Ada beberapa alasan kenapa sang pelopor raksasa startup amerika ini bisa sampai bangkrut di Indonesia :<\/p>\n<h2>Banyaknya Pilihan Moda Transportasi<\/h2>\n<p>Uber paling axis dan mendapat customer paling banyak di Jakarta. Jakarta memiliki banyak infrastruktur untuk transportasi. Transportasi yang tersedia dan lebih murah yakni kereta listrik dan bus transjakarta. Moda transportasi bus dan kereta api listrik tentunya jauh lebih murah dibanding moda transportasi online taxi seperti uber. Meskipun uber motor masih lebih mahal dibanding dengan kereta yang\u00a0 hanya 5000 sekali jalan dan busway hanya 3500 sekali jalan. Infrastruktur transportasi jakarta yang komplit alasan masyarakat berpaling dan menjadi alasan\u00a0kenapa uber gagal di Indonesia.<\/p>\n<h2>Kompetitor Taxi Online Lain Merajalela<\/h2>\n<p>Kompetitor grab taxi mengambil porsi customer cukup besar dari pasar transportasi Online. Bukan hanya itu, Gojek juga turut mengambil pasar transportasi online di Indonesia. Tentunya ini persaingan sehat dan pembeli bebas menentukan pilihan masing masing. Jika dibanding banding, masyarakat indonesia cenderung ke gojek maupun grab. Keyakinan masyarakat untuk gojek sebagai karya anak bangsa membuat gojek lebih digunakan contohnya. Hal ini salah satu alasan\u00a0kenapa uber gagal di Indonesia.<\/p>\n<h2>Penetrasi Smartphone dan Jeleknya Infrastruktur 3G di Indonesia<\/h2>\n<p>Alasan selanjutnya yang menjawab &#8220;kenapa uber gagal di Indonesia&#8221; yakni penetrasi smartphone di Indonesia masih rendah. Smartphone masih merupakan barang mahal di Indonesia. Hal ini membuat masyarakat Indonesia tidak menggunakan smartphone. Adapun yang telah membeli smartphone, masih terkendala oleh jeleknya 3G di Indonesia. Infrastruktur 3G masih putus putus dan tidak stabil pada masa itu.<\/p>\n<p>Tentunya hal ini bukan masalah lagi saat ini yang sudah 4G dan penetrasi smartphonenya sudah banyak. Ditambah lagi sekarang sudah mau muncul <a href=\"https:\/\/uc.ac.id\/ict\/teknologi-5g\/\">koneksi 5G<\/a>. Tapi sayang uber sudah keburu pergi dari Indonesia.<\/p>\n<p>Dasar Kutipan : https:\/\/www.techinasia.com[\/vc_column_text][vc_single_image image=&#8221;363&#8243; img_size=&#8221;full&#8221;][\/vc_column][\/vc_row]<\/p>\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>[vc_row][vc_column][vc_single_image image=&#8221;362&#8243; img_size=&#8221;full&#8221; alignment=&#8221;center&#8221;][vc_column_text]Kenapa UBER gagal di Indonesia ? : Siapa yang tidak tahu UBER, sebagai pelopor transportasi online di Indonesia sebelum marak maraknya. Uber selalu mendapatkan tempat di hati masyarakat yang membutuhkan transportasi taxi online murah dan mudah. Namun sayangnya kenapa UBER gulung tikar dari Indonesia. Mungkin bagi anda yang suka naik uber karena [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-360","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/ict\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/360","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/ict\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/ict\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/ict\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/ict\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=360"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/ict\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/360\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":368,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/ict\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/360\/revisions\/368"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/ict\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=360"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/ict\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=360"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/ict\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=360"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}