
Karung Goni Beraksi
Sampah bagi banyak orang, bisa jadi merupakan berkah bagi sebagian orang. Di pasar tradisional, karung goni sangat diperlukan. Setelah barang dikeluarkan, biasanya goni teronggok begitu saja.
GONI tidak lagi bermanfaat selain sebagai karung. Biasanya karung goni ditumpuk begitu saja sampai berjamur. Tumpukan goni menjadi masalah tersendiri. Ketika menyaksikan tumpukan goni. Yelinda Kusuma Rahardjo seperti menemukan harta karun berupa ide. Ia membayangkan karung itu harus bisa diolah menjadi benda yang bermanfaat.
Yelin yang mahasiswa semester 8 Program Pendidikan Fashion Design dan Business Universitas Ciputra Surabaya, menciptakan modestwear atau busana muslim dengan konsep Modestwear Eco Friendly. Yelin mengatakan dalam konsep busana itu, ia memadukan polyester dan kain goni bekas sebagai variasinya. Ia menggunakan kain polyester berkualitas premium dari PT. Gestex, sementara kain goninya ia dapatkan dari Pasar Ngemplak Tulungagung.
“Inspirasi awalnya saya dapat dari melihat tumpukan kain goni tidak terpakai di warung kopi depan rumah saya di Tulungagung. Saya lihat pola kain ini lucu mirip dengan rajutan. Kalau diaplikasikan ke sepatu atau tas kan sudah biasa ya. Nah, ini saya coba mengaplikasikan di baju,” jelas Yelin akhir pekan lalu.
Kain-kain goninya dikumpulkan dari beberapa pedagang dari pasar itu. Untuk menjaga kualitas dan agar kain goninya bersih dari kuman. Yelin turun tangan mengolahnya sendiri sebelum siap dijahit.
Diceritakannya dalam memproses kain goninya ia membuat beberapa tahan. Yang pertama ia lakukan adalah melepas jahitan dari sisi kain goni, sehingga bentuknya yang semula karung berubah menjadi lembaran.
Setelah berbentuk lembaran kain-kain itu dicelupkan ke air bersih berulang-ulang, ia terus akan mencelupkan ke dalam air sampai airnya tidak lagi keruh. Proses awal itu cukup mengursa energi.
“Kalau nggak salah airnya diganti sebanyak 12 kali. Pokoknya saya baru berhenti jika goni itu sudah tidak meninggalkan jejak keruh di air,” jelas perempuan asal Tulungagung itu.
Selanjutnya, kain-kain goni yang sudah dicelup air bersih direndam dalam baik cairan alkohol. Proses ini, menurut Yelin berfungsi untuk membunuh bakteri yang ada pada kain itu.
“Setelah kainnya dipastikan bersih, baru saya buatkan pola,” imbuhnya.
Ia belajar dari proses itu. Dibutukan waktu dan energi cukup untuk menjadikan karung goni yang bertumpuk di pasar menjadi bagian dari fashion yang dipamerkan di mal Surabaya. Yelin memahami tingkat kesulitan yang tinggi itu, tetapi ia juga tidak ingin meloncati proses awal itu karena itu menjadi dasar bagi kenyamanan desain buasana yang ia rancang.
Menurut Yoanita Tahalcie, dosen Fashion Design and Business Universitas Ci[utra, yang dilakukan Yelin adalah karya client project dari mahasiswa semester 4. “Kami berusaha mengangkat masalah sosial dan lingkungan untuk karya desain mahasiswa,” jelas Yoanita.
Konsep busana yang dinama Think Globally, Art Locally itu disebut Yelin terdiri dari 10 look dengan koleksi atasan, outer, dan bawahan dengan model celana panjang. Ia menambahkan ornament goni yang membuat busana rancangannya berbeda.
“Desainnya saya buat lebih ke gaya casual girly. Itu bisa dilihat dari adanya detail-detail bunga dari semua tema koleksi ini.” paparnya yang mengaku juga suka tampil girly.
Ia mengatakan, pemakainnya tidak perlu khawatir gatal saat mengenakan koleksi modestwear berbahan goni miliknya. Ia melapisi bagian bawahnya dengan polyster atau furing supaya pemakaiannya lebih nyaman (hefty’s suud)
Double Look dengan Sistem Pasang-Lepas
YELINDA Kusuma Rahardjo menyebutkan ada 10 look dengan jenis busana atasan, bawahan, dan outer. Kain polyster dipakainya sebagai bahan dasar busana, sementara kain goni dipakainya sebagai variasi yang membuat busananya tampak unik.
Salah satu contohnya adalah outer hitam dengan variasi kain goni dari dada sampai lengan baju atasan. Pada goni di bagian dada. Yelin memasangkan detail bunga-bunga timbul yang juga dibuat dari kain goni.
Selain itu, ada juga celana panjang yang bagian atasnya terbuat dari bahan polyester, sementara bagian bawah kakinya dari betis sampai mata kakinya diberi bahan kain goni.
Namun , seolah tak ingin memaksa pengguna busananya mengenakan kain goni. Yelin membuat sistem lepas pasang dengan bantuan zipper dan strap button.
“Ini detail atau variasi kain goninya bisa dilepas pasang. Jadi orang yang memakainya bisa double look. Kalau sedang nggak mau pakai goni bisa dilepas dan tampilannya pun tetap unik,” ujar Yelin.
Tetap berpegang pada detail. Ia membuat strap button untuk menempelkan kain goni disusun dengan pola tertent. Ada yang berbentuk garis bunga dan lingkaran. Jadi apabila kain goni dilepas, busananya akan tampak lebih polos dengan detail bintik-bintik yang dihasilkan dari adanya strap button itu,
Ia berpikir tentang penampilan, kenyamanan, sekaligus memudahkan perawatan busana. Selain berfungsi supaya busana rancangannya dapat disesuaikan dengan selera pemakai, sistem kepas pasang itu juga berfungsi untuk memudahkan pencucian.
“Kalau bisa dilepas pasang. Jadi nanti busana yang berbahan polyester dan variasi goninya bisa dicuci terpisah ini supaya goninya nggak cepat rusak juga,” tuturnya.
Bahan goninya yang menjadi variasi busananya itu, cukup dicuci dengan cara direndam alkohol. Bahan itu tidak disarankannya untuk dimasukkan mesin cuci, apalagi disikat. Kain goni emiliki karakter yang mirip dengan kain rajut wol. Bedanya goni merupakan rajutan dari akar tanaman. Maka dari itu, cara merawatnya pun sama.
“Kalau rajut wol disikat kan nanti mbrodol (terurai rajutannya). Goni pun sama, kalau disikat ya dia sangat mungkin terurai lalu rusak,” ujar Yelin. (hef)
Sumber: Surya, Rabu, 15 Mei 2019
