Mencerdaskan Warga di Terminal.Kompas.30 Januari 2016.Hal.16

Mengajar di sekolah menengah kejuruan negeri di Kota Tegal, Jawa Tengah, belum memuaskan Yusqon. Pria berusia 50 tahun itu ingin berbuat lebih banyak untuk mencerdaskan masyarakat. Ia pun menggelar pendidikan usia dini, kursus komputer, dan taman bacaan di Terminal Tegal.

OLEH SIWI NURBIAJANTI

 

Yusqon tinggal di Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal. Sehari-hari ia bekerja sebagai guru SMK Negeri 2 Tegal. Ia meyakini, secara prinsip seorang guru belum menemukan rohnya sebagai pendidik apabila belum mengabdikan diri sepenuhnya untuk pendidikan. Mengabdi dalam arti memikirkan dan bergerak demi mencerdaskan masyarakat.

Berangkat dari prinsip itu, ia bergerak mengembangkan pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan kursus komputer, dan membuat taman bacaan masyarakat (TBM). Ia tidak bermaksud mengejar keuntungan. Itu bisa dilihat dari sasaran peserta didik yang ia bidik, yakni anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Ia menggelar pendidikan berbiaya sangat murah di terminal Kota Tegal. Untuk PAUD, seorang anak hanya membayar Rp 1.000 sekali datang. Sementara untuk kursus komputer, peserta hanya perlu membayar Rp 3.000-Rp 5.000.

Adapun TBM di Terminal Kota Tegal dibuka untuk publik secara gratis. Dia ingin agar para pedagang asongan dan orang-orang yang bekerja di terminal berkesempatan membaca buku. Dengan begitu, mereka bisa memperoleh tambahan ilmu pengetahuan.

 

Sejak tahun 1995

Usaha Yusqon bermula tahun 1995 saat menjadi guru honorer di salah satu SMK swasta di Kota Tegal. Saat itu, dia tinggal di lingkungan padat penduduk dan dipercaya sebagai ketua rukun tetangga (RT). Awalnya dia membuka kursus komputer dan akuntansi di rumahnya.

Yusqon sendiri yang mengajar akuntansi karena dia lulusan sarjana pendidikan akuntansi. Kursus komputer ditangani istrinya, Sismiyati (48), yang merupakan sarjana komputer. Perempuan itu juga menjadi guru di sebuah SMP di Tegal.

Tak ada patokan biaya kursus. Untuk biaya operasional, siswa memberikan iuran sukarela yang dimasukkan ke kaleng. Peserta kursus sekitar 6 orang dan berasal dari keluarga kurang mampu.

Tahun 2008, Yusqon tergerak membuat PAUD. Awalnya dia memanfaatkan bangunan milik warga untuk menggelar pendidikan usia dini. Dengan bantuan kerabatnya, dia membeli bangunan itu. Lembaga pendidikan itu dia beri nama PAUD Sakila Kerti (Kecerdasan Hati).

PAUD ini juga diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu. Sebagian besar gurunya adalah warga sekitar yang mampu mengajar. Karena kebanyakan peserta didiknya dari keluarga tidak mampu, dia tidak mematok biaya tertentu. Satu siswa membayar Rp 1.000 sampai Rp 2.000 untuk sekali datang.

Para siswa tidak dipaksa memakai seragam. “Jika anak-anak dari keluarga tidak mampu dipaksa pakai seragam, mereka tidak bisa sekolah,” ujar Yusqon saat ditemui, Selasa (12/1).

Awalnya, bangunan untuk PAUD juga sekaligus dijadikan tempat kursus komputer dan akuntansi, Kegiatan PAUD digelar pada pagi hari, sedangkan kursus pada siang hari. Seiring waktu, PAUD kian membutuhkan dana. Yusqon pun membuka dua jenis kelas, yaitu kelas siswa dari keluarga mampu dan kelas siswa dari keluarga kurang mampu.

Siswa dari keluarga mampu membayar Rp 125.000 per bulan. Selain untuk biaya operasional, dana itu juga untuk menyubsidi kebutuhan siswa dari keluarga kurang mampu.

Berkembang

Saat ini, jumlah siswa PAUD Sakila Kerti sebanyak 70 anak. Sekitar 60 persen di antaranya berasal dari keluarga pedagang kaki lima, buruh cuci, tukang bersih makam, tukang potong ayam, juga tukang becak.

Lembaga pendidikan itu kini memiliki beberapa fasilitas, seperti ruang belajar, bermain, bahkan kolam renang berukuran sekitar 32 meter persegi. Semua siswa, tidak terkecuali, bisa menikmati semua fasilitas tersebut. Sejak berdiri hingga sekarang, sudah ada 150 lulusan.

Pada perkembangannya, Yusqon memindahkan lokasi kursusnya sehingga tak lagi bergabung dengan tempat PAUD. Bersama saudara-saudaranya, dia membeli rumah lain tak jauh dari situ dengan mencicil.

Semua bangunan itu berada di gang-gang yang hanya bisa dilalui sepeda motor atau sepeda. Kebanyakan peserta kursus komputer adalah mereka yang tinggal di gang-gang itu.

Semua sarana komputer disediakan Yusqon. Kursus digelar setiap Jumat dan Sabtu, di luar aktivitas Yusqon dan istrinya sebagai guru di sekolah. Lulusan kursus mendapat sertifikat.

 

Taman bacaan

Di tempat kursus itu, Yusqon juga membuat TBM Sakila Kerti yang dibuka secara gratis untuk warga setempat. Taman ini menyalurkan niatnya memberikan kesempatan bagi khalayak luas untuk membaca buku-bukunya.

“Sebah, dengan buku itu saya bisa berbagi ke masyarakat,” ujarnya.

Yusqon juga membuat TBM di dalam kompleks Terminal Kota Tegal. Tujuannya, pengasong, kernet, dan masyarakat yang beraktivitas di terminal juga bisa menambah ilmu dengan membaca.

Awalnya, koleksi buku di TBM Sakila Kerti di lokasi kursus dan di Terminal Kota Tegal hanya ratusan buku. Dengan bantuan dari berbagai pihak, jumlah bukunya mencapai ribuan.

Ada 11 orang yang membantu Yusqon mengelola PAUD, TBM, dan tempat kursus. Merkea digaji dari kegiatan usaha serta dari kantong pribadi Yusqon dan istri.

 

YUSQON

▪ Lahir : Tegal, 9 April 1965

▪ Istri : Sismiyati (48)

▪ Anak :

  • Yuanisa Aisanafi (23)
  • Muhammad Ilham
  • Mujadid Amarahman (17)

▪ Pekerjaan : Guru SMK Negeri 2, Tegal (PNS)

▪ Pendidikan :

  • S-1 Pendidikan Keguruan Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta (lulus 1989)
  • S-2 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Semarang (lulus 2003)
  • S-3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Semarang (lulus 2010)

▪ Penghargaan :

  • TBM Kreatif Rekreatif dari Kementrian Pendidikan, 2012
  • Penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah dalam penulisan karya nyata Pengelola Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), 2011
  • Kepala SMK Berprestasi Kota Tegal, 2013 (saat menjabat kepala sekolah di SMK Ihsaniyah Kota Tegal)

UC Lib-Collect

Kompas. Sabtu. 30 Januari 2016. Hal.16