Semula Itmamul Khuluq (30) hanya membantu peternak puyuh Desa Blumbang, Kecamatan Karanggede, Boyolali, Jawa Tengah, untuk menjual produknya. Langkah itu mendorongnya membangun perusahaan. Di tengah geliat bisnisnya, ia tetap mementingkan misi sosial untuk kemajuan bersama.
Oleh Ida Setyorini
Pada 2011, para peternak puyuh Desa Blumbang sedih dan kebingungan. Banyak telur puyuh yang tak terjual, bahkan sebagain sampai membusuk. Saat itu bulan Sura yang sepi acara dan kegiatan. Daya serap produksi peternakan rendah.
Itmamul, yang bekerja di salah satu pabrik pakan ternak, prihatin. Sebagai sarjana peternakan, ia terketuk untuk membantu para peternak menjual produk. Ia bertekad memberikan seluruh harga jual kepada peternak tanpa mengambil untung sama sekali. Ini merupakan kerja sosial.
Telur saat ini hanya dijual per dus berisi 750 butir. Kemasan besar itu jelas bukan untuk pembeli eceran. Itmamul membuat terobosan dengan menjual telur dalam kemasan kecicl, berisi 18 butir seharga Rp 5.000. Strategi ini berhasil dan semua telur dari seorang peternak terjual.
Mendengar sukses itu, para peternak lain ikut meminta bantuan serupa. Itmamul memnuhinya dan tetap tidak menarik bayaran ataupun mengambil selisih penjualan telur. Kegiatan itu dilakukan di sela – sela rutinitas kerjanya.
Selama beberapa bulan, Itmamul terus membantu mereka menjualkan telur puyuh. Ia tak memikirkan pengeluaran pribadi seperti tenaga, ongkos, dan bahan bakar untuk mengantar telur ke dstributor.
“Lama – lama peternak dari satu desa meminta bantuan saya. Mereka percya saya mamapu menjualkan telur ternak mereka,” kata Itmamul saat ditemui di rumahnya di Dusun Bongkol, Desa Pengkol, Karanggede Boyolali, Minggu (10/11).
Dengan pendekatan pemasaran baru, harga jual telur berangsur membaik. Penjualan telur puyuh meningkat sehingga peternak senang. Para peternak dari empat desa mempercayakan penjual telur kepada Itmamul. Pasaran meluas hingga ke Lampung dan Kalimantan.
Saat masalah pemasaran teratasi, peternak meminta. Itmamul mencarikan pakan. Ia memenuhinya dan lagi – lagi tidak mengambil untung. Padahal, ia makin sibuk dan mengeluarakan uang serta tenaga tak sedikit. “Ternyata ssya tetap tidak kekurangan, ada saja rezeki walaupun kerja sosial lebih banyak,” katanya.
Sempat diremehkan
Tahun 2012, Itmamul mendirikan perusahaan yang berbasis sosial, CV Holstein Indonesia. Untuk soal pakan, Itmamu mengambil langsung dari pemasok. Ia memotong jalur distribusi. “Inilah yang saya ambil untuk pribadi. Saya tidak menaikan harga jual pakan kepada peternak,”katanya.
Pasoka pakan datang bertumpuk – tumpuk ke rumah mertuanya. Saat itu ia belum punya rumah sendiri. belum lagi kiriman telur puyuh dari para peternak. “Tumpukan karung pakan dan dus telur sampai langit – langit rumah. Rumah mirip kapal pecah,” ujarnya.
Sang mertua tidak ribut, tapi sebagian tetangga meremehkan kegiatan itu. Namun, Itmamul kebal dengan komentar miring karena sejak usai muda sering diremehkan.
Ayah itmamul adalah seorang TKI di Malaysia, sementara ibunya tinggal di rumah bambu berlantai tanah di pojok desa di Lamongan, Jawa Timur. Pemuda itu terbiasa diremehkan. Omongan miring itu baru berhenti ketika Itmamul masuk Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Naluri bisnis itmamul terasah sejak SMA di Yogyakarta. Dia tinggal di pesantren dengan hanya dapa makan pagi dan malam. Untuk makan siang, ia mengumpulkan kertas dan menjualnya kiloan. Lumayan, ia bisa mengumpulkan peling tidak Rp 2.500. Padahal, harga nasi kucing saat itu Rp 500 per bungkus. “Saya bisa punya uang untuk makan siang seminggu, aman,” kenang prai yang senang bercanda itu.
Itmamul hanya dua tahun bekerja di perusahaan pakan ternak. Meski sebentar, dia mendapat pelajaran berarti. Salah satunya dari penyelianya, seorang pria yang berbicara tanpa basa – basi, tapi banyak menurunkan ilmu.
“Dia menyuruh saya mengetes pakan dengan melihat, mendengar, meraba, membaui, dan seterusnya. Begitu pula dengan hewan ternak. Dia bilang, Tuhan menurunkan limaindera untuk dimanfaatkan,” tuturnya.
Imu itu membantu Itmamul mengelola bisnis sekarang, dari mendengar bunyi jatuh karung pakan ternak yang diturunkan dari truk, ia langsung tahu apakah pakan tersebut baik atau rusak akibat tebasan air.
Ia juga belajar untuk menjaga kebersihan. Saat membuat pakan, pekerja harus mandi dua kali dan menghitung nilai nutrisi. Pengetahuan itu diterapkan dalam usahanya. Siapa pun yang masuk ke rumah telur atau tempat penyimpanan pakan harus melepas sepatu atau sandal serta harus mencucui tangan.
Itmamul bahkan selalu berwudu agar bisa memperlakukan telur puyuh dengan baik. A juga tidak mau sewenang – wenang terhadap telur, seperti meletakkan sejajar kaki dan selalu menjaga omongan agar tak ada energi negatif yang terserap telur.
“Mungkin mata biasa tidak melihat bedanya, tetapi mata batin pasti bisa melihat. Telur itu akan menjadi makanan manusia. Menurut distributor telur – elur dari saya berbeda dan merkea ingin terus menjadi pelanggan saya,” katanya.
Maju bersama
Urusan pasar telur puyuh dan pakan ternak beras, Itmamul menghadapi soal lain. Sebagai peternak mengembalikan pakan yang mulai menjamur atau pakan tak tepat lagi untuk perkembangan puyuh. Ia pun mengalihkan pakan bekas itu untuk ternak lele, ayam, dan entok didekat rumahnya.
Dia juga turut mengusahakanagar puyuh apkir tetap berdaya jual. Pernah harga puyuh apkir hanya Rp 900 per ekor dan membuat petani tak berdaya untuk membeli bibit lagi. Dia juga mengolah telur menjadi penganan yang mudah dibawa seperti rundeng.
Itmamul kini menyusun empat kebijakanagar bisnis para peternak lebih maju. Pertama, peternak mendiri secara finansial dan membentuk mlembaga keuangan seperti koperasi yang memeberikan keadilan dan toleransi kepada peternak. Kedua, peternak harus mandiri secarapakan. Ketiga, pengolahan puyuh yang tidak produkstif. Keempat, penangana limbah yang dapat dimanfaatkan.
“Saya ingin mengajak para peternak maju bersama,” ucapnya.
ITAMUL KHULUQ
Lahir : Lamongan, 17 Januari 1986
Istri : Ferra Sekar P
Anak :
- Holstein Ifara RLA
- Holstein Muharrib RLA
Pendidikan
- SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta
- Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (2005 – 2010)
Penghargaan : Peraih Danamon Social Entrepreneuer Awards (DSEA) 2016
Sumber: Kompas.-28-November-2016.Hal_.16

