Dalam pengantar buku “ Tanah Air Indonesia”(2013), Profesor Harimurti Kridalaksana membuat catatan kecil tentang penulisnya : Abdul kadir Ibrahim (50). Pendek! Hanya satu lembar. Meskipun pendek, catatan kecil tersebut terasa bernas – berisi pas!. (Oleh Kenedi Nurhan)
Dalam satu periode, kata sang munsyi, masyarakat Melayu mengalami kejayaan ketika masyarakat di Pulau Penyengat menghasilkan karya karya sastra ciptaan para pujangga yang masih bisa dinikmati hingga kini. Sebutlah seperti Gurindam Dua Belas, Tuhfat An Mafis, Bustanul Katibin, atau Kitab Pengetahuan Bahasa-nya Raja Ali Haji. Karya – karya tersebut juga dibanggakan oleh generasi baru dewasa ini.
Namun, di balik kebanggaan itu juga terselip kegelisahan: adakah yang boleh dibanggakan di antara karya – karya ciptaan generasi baru? Bisakah kita menggubah karya seperti itu?
Setelah membaca Tanah Air Bahasa Indonesia, sang munsyi sampai pada satu pernyataan “Masyarakat kepulauan Riau beruntung karena kiprah budayawan Abdul Kadir Ibrahim.” Dia adalah anak Melayu dari abad ke-20 dan 21, periode yang bersambungan ke masyarakat Indonesia modern, yang merupakan pewaris langsung masyarakat Melayu-Riau
“Karya – karya dalam buku ini membuktikan bahwa Abdul Kadir Ibrahim menjalankan peranannya sebagai eksponen kedua periode kebudayaan itu.”
Jiwa Yang Kasmaran
Terlahir dengan nama Abdul Kadir Ibrahim, ia lebih dikenal dengan panggilan akib. Bahkan, di lingkungan kerjanya sebagai birokrat- entah guru, staff, dan pejabat teras di kota Tanjung Pinang, dan saat ini sekrestaris DPRD – nama Akib lebih kerap disebut ketimbang nama aslinya.
“Akib itu singkatan dari Abdul Kadir Ibrahim, diberikan oleh penyair Syahruddin Saleh ketika membahas puisi – puisi saya di sebuah radio swasta di Pekanbaru tahun 1986. Sejak itu, saya pakai nama tersebut, untuk pergaulan sehari – hari” kata Akib pada satu senja dalam perbincangan ringan di kedai kopi di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, awal Oktober lalu.
Datang dari Natuna, Pulau yang berhadapan langsung dengan Laut Tiongkok Selatan, Akib sudah merantau ke Riau daratan ketika melanjutkan ke Madrasah Alyah Negeri (MAN) Pekanbaru. Di sinilah, kepengarangan nya mulai tumbuh merekah.
Dalam periode awal ini, Akib remaja sempat terombang – ambing. Semula, ia ingin jadi anak “anak band” yang jadi idola remaja. Terlebih vokalisnya, sebagaimana posisi yang dirangkap Akib di kelompok bandnya.
Pada satu ketika, Akib dipanggil Ibu Rosniar, guru pengampu pelajaran Bahasa Indonesia. Lalu, ia disodori puisi – puisi Sutardji Calzoum Bachri. “Ternyata saya diminta ikut lomba baca puisi di Universita Riau. Itu tahun 1985,” kenangnya
Pihak sekolah pun mengundang penyair Ibrahim Sattah guna melatih Vocal dan gaya panggung Akib. Walaupun penampilan Akib gagal menarik perhatian juri lomba, sejak itu satu pilihan lagi di jalan hidupnya ia pancangkan lagi menjadi penyair!
Dalam gelegak jiwa yang kasmaran pada penciptakan karya, puisi – puisi mantra mengalir dari tangan Akib. Sebagai anak Pulau, ia begitu akrab dengan idiom – idiom tentang laut,ombak, pantai, gelombang, dan angin. Seperti halnya Sutardji dan Ibrahim Sattah, permainan bentuk juga menjadi bagian dari kekhasan puisi – puisi Akib.
Hingga menyelesaikan pendidikan di MAN Pekanbaru, bermusik dan berpuisi masih jalan seiring. Baru ketika Akib berniat kuliah ke Yogyakarta, dan terlebih dahulu mesti pulang ke Natuna untuk meminta restu orang tuanya, cita – cita sebagai anak band akhirnya ia tanggalkan.
Restu ke Yogyakarta di dapat, tetapi cita – cita nya jadi “anak band” ditolah dengan keras. Akib pun pasrah dan kembali ke tanah rantau di Pekanbaru. Terbayang sudah, Yogyakarta akan jadi tujuan perantauan berikutnya.
Namun, akibat cuaca buruk, sesampai di Pekanbaru ternyata pendaftaran masuk perguruan tinggi lewat sistem penerimaan mahasiswa baru (sipenmaru) sudah ditutup. Satu – satunya yang masih menerima pendaftaran itu pun sudah gelombang kedua – adalah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Qasim, Pekanbaru. Disanalah kemudian ia tercatat sebagai mahasiswa hingga rampung sambil terus mengasah baka kepengarangannya di jagat tanah Melayu.
Menjadi Guru
Sempat mengisi acara puisid dan lagu setiap Sabtu di RRI stasiun Pekanbaru (1987-1989), Akib juga mulai terlibat dalam dunia jurnalistik. Semula ia bergabung dengan Mingguan Genta (1989) , sebelum akhirnya pindah ke surat kabar harian milik grup Riau Pos (1989 – 1995).
Saat itu, Akib merasa profesi wartawan adalah jalan hidup yang ideal. Pas dengan jiwa kepengarangannya. Namun, profesi yang penuh risiko itu justru membuat orang tuanya di Natuna selalu waswas. Tak sekali-duakali mereka mendengar kabar ada wartawan yang diculik, disiksa, bahkan dibunuh hanya karena urusan pemberitaan.
Satu malam, sepulang kerja, ia mendapati sang bapak tiba – tiba sudah ada dikamar kosnya. Jauh – jauh datang dari Natuna hanya untuk meminta Akib agar berhenti jadi wartawan. “Tak dapat saya menolak permintaan itu,” kata Akib.
Alhasil, SK pengangkatan dirinya sebagai guru di SMP Negeri Midai di Pulau Natuna-yang lama dibiarkan “mengendap” di Kantor Wilayah Depdikbud Riau-akhirnya ia urus. Lalu jadilah Akib seorang guru yang mengampu sekaligus empat mata pelajaran; Agama, Bahasa Arab, Biologi, dan PPKN.
Kurang dari empat tahun di Natuna, Akib dipindahkan ke SMP Negeri 4 Tanjung Pinang di Pulau Bintan, sebelum ditunjuk sebagai Kasubdin Kebudayaan pada Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang. Sejak itu, sejumlah jabatan di Pemerintahan Kota Tanjung Pinang sudah ia duduki. Namun, tak selintaspun terpikir olehnya untuk istirahat dari dunia kepengarangan yang telah ia tapaki lebih dari separuh hidupnya.
“Jabatan itu sementara. Umurnya pendek. Beda dengan penulis, meski telah meninggal, ‘umurnya’ panjang. Contohnya Raja Ali Haji,” kata Akib
Akib mengatakan, karya – karya Raja Ali Haji memang menjdi roh kepengarangannya. Entah itu dalam bentuk cerpen, novel, puisi, esai, ataupun tulisan – tulisan lepas. Stuardji dan Ibrahim? “Mereka hanya semacam spirit, tetapi roh krpengarangannya mengacu kepada Raja Ali Haji,” ujarnya.
Roh yang ia maksud terutama pada pesan bahwa dalam berkarya tetap perlu mengusung konsep Melayu: Menggembirakan dan(menjadi) rahmat bagi orang lain. Karena itu, dalam menghadapi perubahan pun, karya – karya harus berangkat dari budaya tempatan. Budaya lokal! Karena itu pula, tidak aneh apabila Akib banyak menyerap unsur – unsur Hikayat, Dongeng, dan Mantra dalam karyanya.
Nama : Abdul Kadir Ibraham
TTL : Natuna, Kepulauan Riau, 4 Juni 1966
Riwayat Pendidikan :
- Sekolah Dasar Kelarik Natuna (1982)
- Sedanau-Natuna (1984)
- Madrasah Tsanawiyah
- Madrasah Aliyah Negeri (MAN), Pekanbaru (1987)
- Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Qasim (SUSQA), Pekanbaru (1991)
- Sarjana Pendidikan Agama Islam (S-1), Fakultas Tarbiyah
- Magister Teknik (S-2) Program Magister Pembangun Wilayah dan Kota. Universitas Diponegoro, Semarang (2008)
Istri : Ermita Thaib, S. Ag
Anak : Tiara Ayu Karmita (26 September 1999), Safril Rahmat (22 April 2002), dan Sasqia Nurhasanah (29 Juni 2006)
Karya : 66 Menguak, Menggantang Warta Nasib, “kerikil” dalam Sagang ’96, Pancang-pancang Universitas Riau, Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu , Cakap Rampai Orang Patut-patut, Menjual Natuna, Harta Karun, Aisyah Sulaiman Riau Pengarang dan Pejuang Perempuan, Sejarah Perjuang Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia Negeri Airmata, Rampai Islam: Dari Syahadat Sampai Lahat, Hj. Suryatati A. Manan: Revitalisasi Sastra Melayu, Penafsiran dan Penjelasan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji, Nadi Hang Tuah, Tanjungpinang Punya Cerita, dan Dermaga Sastra Indonesia
Sumber : Kompas, Rabu 26 Oktober 2016

