2 Februari 2016. Darmawan Utomo Ajak Pengusaha agar Inovatif_Efisiensi dan Ekspansi Jalan Beriringan. Jawa Pos. 2 Februari 2016. Hal.1,11

Untuk mengatasi perlambatan ekonomi dan persaingan di era pasar bebas, dunia usaha saat ini perlu inovasi. Sering pengusaha stuck hanya memproduksi suatu barang yang memang diinginkan banyak konsumen.

Persaingan akan dimenangi mereka yang mampu bertahan. Untuk bisa bertahan, inovasi dari segi produk, desain, kualitas, promosi, hingga harga menjadi wajib dilakukan. “Untuk industri apa pun, kalau pas kondisi begini dia hanya produksi brang yang itu-itu saja, mati,” kata Dirut PT Utomodeck Metal Works Darmawan Utomo.

Pengusaha atap baja tersebut mengatakan, indonesia sebenarnya tidak kalah oleh negara-negara lain dalam memproduksi berbagai kebutuhan. Namun, inovasi menjadi tantangan tersendiri. Sering pebisnis hanya membikin barang yang memang diinginkan banyak konsumen.

Padahal, semestinya pengusaha mampu menciptakan kebutuhan dengan berbagai inovasi produk. Untuk bisa bersaing, kemajuan teknologi dan desain yang kreatif sangatlah penting. Selain itu, pengusaha tidak boleh patah semangat ketika kondisi perekonmian drop.

Dikatakan, industri di Indonesia sebenarnya tidak parah-parah amat, “Memang banyak pabrik yang tutup dan menahan ekspansi. Tapi, kan tidak semua,” ujar pria 65 tahun itu. Menurut dia, masih banyak pengusaha yang mampu menunjukkan kekuatan kala kondisi pasar sedang goyah.

Hal tersebut dibuktikan dengan pembangunan pabrik-pabrik baru di daerah. Artinya, efisiensi dan ekspansi sebenarnya terjadi pada saat yang bersamaan. “Buktinya, saya sendiri dapat bayak pesanan dari pembangunan pabrik-pabrik.”

Rata-rata yang masih melakukan ekspansi adalah perusahaan penanaman modal asing (PMA). Bagaimana cara perusahaan dalam negeri bisa tetap ekspansif seperti itu, kembi lagi ke soal inovasi. Jika mereka berhasil elakukan inovasi, tentu produk yang dihasilkan akan lebih mudah diserap pasar.

Harapan tidak hanya datang dari ekspandi yang dilakukan swasta. Pemerintah pun menggenjot pembangungan infrastruktur tahun ini. Pengusaha harus melihat komitmen pemerintah itu sebagai stimulus. Setidanya, pengusaha bisa berharap bisa ikut berperan dalam pembangunan tersebut, lalu eknomi tumbuh, dan kelesuan pasar akan berkurang sedikit demi sedikit.

Dia mencontohkan, pembangunan jalan, jembatan, tol, serta bandara sebetulnya mengandung harapan besar bagi pengusaha. Dengan dibangunnya akses transportasi, secara tidak langsung pasar akan lebih terbuka. “Seperti saya yang menyokong pembangunan lewat atap bandara yang baru dibangun. Itu membuka pasar sekaligus membuktikan bahwa pengusaha masih pnuya peran,” ujarnya.

Soal faktor eksternal , Indonesia harus mewaspadai kondisi Tiongkok. Di bidang konstruksi, saat ini harga baja itu tidak dibarengi menguatnya rupiah sehingga dampak penurunan harga bajak tidak signifikan. Jika membeli baja dalam negeri pun, harganya juga mahal.

Turunnya harga baja dunia disebabkan melambatnya pembangunan Tiongkok. Pembangunan di Negeri Panda itu tidak segencar dulu sehingga permintaan baja di sana menurun. Belum lagi banyaknya pabrik baja kecil yang menjamur di Tiongkok, semakin membuat harga baja bersaing ketat.

Anak kelima diantara sebelas bersaudara itu mengatakan, banyaknya pabrik kecil di Tiongkok disebabkan ekspansi yang tinggi pada industri baja. Banyak orang dari perusahaan baja besar ingin keluar dan membuat perusahaan baru yang juga bergerak di bidang produksi baja. Akibatnya, persaingan harga tak terbendung. Itu juga berimbas pada kondisi industri properti dan konstruksi di Indonesia.

Selain pengusaha, darmawan merupakan konsul kehormatan Belarus di Surabaya. Pasar Eropa Timur sangat menarik bagi dia. Banyak potensi kerja sama yang bisa digali dari Eropa Timur. Salah satunya di bidang perikanan. Belarus merupakan negara yang tidak punya hasil laut karena memang tidak memiliki laut.

Dia pun mengaku tengah menjajaki kerja sama dengan Kadin di Belarus. Pihaknya berencana memfasilitasi produk-produk asal Indonesia untuk bisa dipamerkan disana. “Jadi, akan didisplai khusus supaya mereka tahu produk kita apa saja. Di sisi lain, mereka juga bisa memamerkan produknya dissini,” tutur lulusan SMP Putera Probolinggo itu. (rin/c10/oki)

Sumber: Jawa-Pos.-2-Februari-2016.-Hal.111