3K Trio Pulau Buton. Surya. 21 Oktober 2014.Hal.6

KASUAMI, Kambuse, dan kambewe atau biasa disingkat 3k. Ini adalah singkatan untuk nama makanan khas dari Pulau Buton, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Kasuami misalnya, sangat mudah ditemukan berbagai tempat, seperti di pasar, terminal, atau ada juga yang dibawa oleh penjual keliling di rumah-rumah penduduk.

Sedangkan kambuse dan kambewe biasanya paling banyak dibuat dan ditemukan pada hari-hari tertentu saja, khususnya pada musim panen jagung, karena kedua jenis makanan ini terbuat dari jagung yang merupakan bahan dasar utama pembuatannya.

Cara pembuatan masing-masing makanan tradisional itu pun cukup sederhana. Kasuami adalah makanan tradisional masyarakat di Pulau Button yang biasa dimanfaatkan sebagai pengganti nasi, menjadi makanan sehari-hari mereka.

Berbeda dengan kambuse dan kambewe, kasuami terbuat dari parutan singkong (ubi kayu dalam bahasa Buton). Parutan singkong itu lalu dijemur selasa satu hari, sesudah dijemur parutan singkong itu dimasukkan dalam cetakan berbentuk segitiga sama kaki, baru kemudian di kukus hingga matang. Cetakan itu terbuat dari daun kelapa yang dianyam menjadi bentuk segitiga sama kaki.

Sementara kambuse dan kambewe berbahan dasar jagung. Kambuse menggunakan jagung yang sudah tua lalu direbus. Kambewe dibuat dari jagung muda yang diparut halus dan dicampuri gula merah, lalu dibuat adonan dan dibungkus menggunakan daun jagung kemudian dikukus hingga matang.

Ketiga jenis makanan ini memang merupakan makanan tradisional khas Buton, karena proses pembuatannya juga menggunakan alat-alat tradisional. Makanan ini merupakan warisan nusantara secara turun-temurun warga Pulau Buton.

Memang sepertinya primitif. Namun apabila sudah mencicipinya, rasanya sangat lezat dan membuat orang ketagihan. Kambuse dan kambewe sangat cocok disajikan kepada pecinta jagung. Oleh karena itu, bagi pecinta jagung yang sedang berlibur atau merencanakan liburan di Pulau Buton, jangan lupa sempatkan diri sejenak menikmati manisnya jagung ala pulau penghasil aspal ini.

Sumber :  Surya. 21 Oktober 2014. Hal. 6.