Oleh: I Dewa Gde Satrya

Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya

Pada 26 Januari, Garuda Indonesia berulng tahun yang ke-70. Maskapai kebanggaan Indonesia ini kian bertumbuh dan berperan penting bagi peradaban bangsa. Garuda Indonesia Grup, yang terdiri dari Citilink, Sriwijaya Airn dan NAM Air, berperan penting menjadi duta bangsa di kancah dunia.

Jika slogan pemasaran ASEAN yang telah ditetapkan pada saat pembukaan ASEAN Tourism Meeting di Brunei Darussalam adalah “ Southeast Asia: Feel the Warmth”, maka kehangatan dan keramahan menjadi keunggulan dan keutamaan bagi Indonesia.

Bersama negara ASEAN lainnya, Indonesia menjadi rangkaian destinasi wisata ASEAN, tidak sekadar satu negara anggota ASEAN. Idealnya, komitmen itu haruslah memberikan benefit seluas-luasnya bagi Indonesia, dibanding justru semakin merugikan kita. Kehadiran Garuda Indonesia menjadi etalase bagi Indonesia untuk menempatkan diri di posisi terhormat di kancah pergaulan bangsa-bangsa dunia.

Beberapa tahun lalu Indonesia dipusingkan dengan kebijakan ASEAN Open Sky Policy, menjadi kesepakatan yang tertuang dalam The ASEAN Air Transport Working Group: The Roadmap for Intergration of ASEAN: Competitive Air Service Policy. Secara bertahap negara-negara ASEAN membuka wilayah udaranya mulai tahun 2010 hingga tahun 2015 saat ASEAN Aviation Single Market berlaku. Gol terakhir adalah terbentuknya ASEAN Economic Single Market pada 2020, dimana transportasi udara merupakan salah satu dari 12 sektor integrasi yang diprioritaskan.

Usulan menarik datang dari Sekjen Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia ( Indonesia National Air Carries Association/ INACA), Tengku Burhanuddin. Menurutnya, Open Sky Policy bisa menguntungkan Indonesia kalau maskapai asing disyaratkan harus mengangkut penumpang asing minimal 50 persen. Dengan kata lain, asas reciprocal perlu tetap dijalankan di masa pemberlakuan open Sky Policy. Jumlah warga Indonesia yang keluar negeri sebanding dengan kedatangan wisatawan asing ke sini.

Dalam open sky policy ini, Singapura dan Malaysia hanya menawarkan satu bandara, sedangkan Indonesia yang memiliki 26 bandara internasional membuka tiga bandara khusus kargo dan lima bandara yang akan melayani kargo sekaligus penumpang. Tiga bandara yang khusus melayani kargo itu adalah Bandara Sam Ratulangi Manado, Bandara Frans Kaisepo Biak, dan Bandara Hang nadim Batam. Sementara lima bandara yang akan melayani kargo sekaligus penumpang adalah Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Bandara Kualanamu Medan, Bandara Juanda Surabaya, Bandara Ngurah Rai Denpasar, dan Bandara Hasanuddin Makassar. Perbandingan tidak seimbang itu berpotensi besar hanya menguntungkan negara lain.

Total Diplomasi

Garuda Indonesia di usianya yang ke-70 tahun ini membawa Indonesia pada globalitas, yang memungkinkan pembentukan image positif maupun negatif bagi Indonesia sebagai destinasi. Garuda Indonesia menjalankan kolaborasi dengan Sky Team, Star Alliance, juga KSO dengan Sriwijaya Group. Melalui ini, Garuda Indonesia memiliki pangsa pasar yang makin besar.

Perengkuhan image atau citra positif Indonesia di tingkat dunia salah satunya diraih melalui prestasi gilang gemilang yang dilakukan oleh brand Indonesia seperti Garuda Indonesia. Di ranah inilah kita bisa memaknai betapa diplomasi kepariwisataan itu bisa dilakukan oleh Garuda Indonesia, juga oleh setiap insan bangsa melalui karya-karya yang berprestasi di kancah internasional. Semakin banyak prestasi internasional, semakin berkontribusi atas pembentukan persepsi masyarakat internasional terhadap Indonesia.

Jurus total diplomasi kepariwisataan dengan mendorong segenap insan bangsa untuk berprestasi inilah yang selama ini yang mungkin terlupakan oleh otoritas kepariwisataan Indonesia dalam rangka percepatan pembentukan image positif Indonesia di luar negeri yang selanjutnya berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan asing dan devisa luar negeri. Garuda Indonesia juga tercatat konsisten dan berprestasi menghadirkan Indonesian Hospitality yang tercermin melalui layanan cabin crew, contact person, bahkan dalam layanan aplikasi mobile.

Dari sisi teknis Garuda Indonesia diharapkan mempertahankan layanan pesawat terbang sebagai moda transportasi yang aman dan nyaman karena dibuat dengan memperhitungkan tingkat resiko yang paling kecil dan memiliki standar pengawasan yang cukup ketat sebelum dilakukan penerbangan. Pilot, armada pesawat, dan kondisi pesawat mengalami berbagai assurance check dari segi teknis maupun non-teknis untuk melakukan kelayakan terbang, layak angkut, layak tinggal landas, serta layak mencapai tujuan denga rute dan jam terbang tertentu.

Dari sudut pandang konsumen Indonesia, menjadi bagian terpenting untuk semakin memiliki awareness akan potensi kerugian yang akan dilanda Indonesia. Di sisi lain, kesadaran itu akan menumbuhkan dan menggerakkan nasionalisme di sektor kepariwisataan. Unsur nasionalisme kepariwisataan ini menjadi pendukung perbaikan terus-menerus aspek teknis penerbangan dalam negeri kita. Di samping itu, juga semakin diperkuat dengan keadaan diplomasi dan efektivitas kinerja kepariwisataan lainnya, mulai peningkatan   kualitas obyek dan daya tarik wisata, penyelenggaraan event, hingga implementasi nilai Sapta Pesona Wisata.

Selagi kinerja kepariwisataan semakin ditingkatkan untuk memulihkan dan memperkuat citra Indonesia di mata asing, dukungan wisatawan domestik untuk semakin banyak dan intens menjelajahi destinasi wisata dalam negeri semakin diperlukan. Kegiatan berwisata WNI di negaranya sendiri perlu menjadi perhatian khusus bagi Garuda Indonesia agar semakin banyak wisatawan domestik yang diangkut di area Indonesia. Selamat ulang tahun ke-70 Garuda Indonesia.

Sumber: Venue. Februari 2019. Hal.30-31