Classy dalam Gaya Smart Casual. Jawa Pos.30 Agustus 2014.Hal.44

Surabaya – Tidak boleh takut bergaya smart casual. Anda tidak lantas akan menjadi sangat formal dan kolot. Sebaliknya, busana itu justru membuat Anda lebih stylish, cerdas, dan dinamis. Bahkan, saat ini gaya tersebut mulai menjadi alternatif pilihan fashion bagi anak muda.

Abraham Setiawan dan Alexander Evan misalnya. Mereka mulai asyik dengan busana smart casual  sebagai gaya hidup. Meski tidak setiap hari memakai style tersebut, keduanya kerap mengaplikasikan smart casual sebagai gaya hidup. Meski tidak setiap hari memakai style tersebut, keduanya kerap mengaplikasikan smart casual dalam kegiatan santai maupun jalan-jalan. “Lebih keren dilihat,” ujar Setiawan.

Selain terlihat lebih keren, busana smart casual memberi nilai pretise yang tinggi. Dengan demikian, si pemakai terlihat lebih berkelas. Gaya smart casual di Surabaya belum terlalu eksis. Sebab, masih banyak orang bergaya smart casual yang takut dikatakan terlalu formal.

“Di negara Barat, smart casual sudah menjadi lifestyle. Di Indonesia masih sedikit yang mengikuti tren tersebut. Banyak yang belum percaya diri,” ungkap pria yang juga berprofesi sebagai fashion designer spesialis jas sekaligus founder Bie Hin tersebut.

Menurut Setiawan, saat ini masih banyak orang yang salah kaprah dalam memahami antara blazer dan jas. Menurut Setiawan, ada 3 jenis busana dengan menggunakan jas. Yaitu, suit, tuksedo, dan smart casual.

Suit adalah setelan jas yang sering digunakan untuk busana formal kerja. Modelnya lebih terlihat tua dan kurang modis. Tuksedo digunakan untuk ke pesta. Cara membedakan busana tuksedo adalah berkancing satu dan dibungkus kain serta berbahan wool kelas tinggi. Warna hitam di kerah lebih mengkilap sehingga terkesan gagah dan tegap. Kemeja yang digunakan juga khusus dengan kerah yang memiliki tempat untuk dasi kupu-kupu. “Tuksedo terkesan klasik dan mewah,” ujarnya.

smart casual lebih luwes dan bisa dikobinasi dengan style modern lainnya. Untuk gaya busana tersebut, yang digunakan bukanlah jas, melainkan blazer. Bentuknya memang serupa, tetapi bukan merupakan setelan jas.

Salah satu contoh gaya smart casual adalah memadupadankan blazer dengan kemeja dan celana jins panjang atau pendek. Jika ingin menggunakan celana kain, yang perlu diperhatikan adalah warna yang berbeda dengan blazer. Tujuannya memberi kesan santai dan tidak terlalu kaku.

Selain itu, blazer bisa dipadukan dengan T-shirt biasa, T-shirt model V neck, atau kemeja dengan kardigan yang dihiasi dasi di dalamnya. Sepatu yang digunakan pun lebih kasual, bisa sepatu sporty maupun loafer. “fokusnya adalah blazer,” imbuhnya.

Setiawan menyatakan, intinya dalam berbusana smart casual, dibutuhkan keberanian dan percaya diri. Namun, saat ini gaya busana tersebut mulai banyak digunakan sebagai dresscode setiap acara kumpul bersama teman-teman di kalangan menengah ke atas. “Kesannya jadi lebih eksklusif,” tambahnya. (ayu/c6/dos)

Jurus – jurus smart casual

Jas atau Blazer :

  • Smart casual

Pilih blazer dengan cutting yang slim agar terlihat lebih trendi. Risikonya, ruang gerak sedikit terbatas. Pilih yang ada dua belahan di belakang blazer. Hindari blazer yang banyak bling-bling. Model simpel lebih terkesan mewah.

  • Tuxedo

Pilih bahan wool berkualitas tinggi. Model satu belahan di belakang jas. Warna klasik putih atau hitam.

Aksesoris :

  • smart casual

gunakan sabuk agak mencolok agar terlihat lebih stylist.

  • tuxedo

pilih sabuk yang lebih formal

Sepatu :

  • smart casual

pilih sepatu yang lebih kasual seperti kets. Jika ingin terkesan lebih eksklusif, pakai sepatu model loafer.

  • tuxedo

pilih sepatu pantofel hitam dengan bagian depan runcing agar terlihat mewah. Hindari sepatu dengan ujung kotak.

Merawat Jas :

  • Pencucian harus dengan dry cleaning. Upayakan pencucian dilakukan satu setel agar warna setelan jas tetap senada
  • Pencucian jas jangan dilakukan terlalu sering. Jika berbahan wool, lakukan pencucian setiap 4-5 kali pakai, bahan biasa setelah 2-3 kali pakai.
  • Simpan jas di tempat khusus dengan suhu ruangan yang tidak terlalu dingin dan lembab. Itu dilakukan untuk menghindari jamur menempel di jas.

Sumber : Jawa Pos (30 Agustus 2014)