RUMAH sakit ini sempat direvonasi pada tahun 1923 hingga 1929.
Menurutnya Pemerhati Sejarah Kota Surabaya, Chrisyandi Tri Kartika, dulunya bangunan rumah sakit ini kebanyakan terlalu berkedekatan dan ruang perawatan yang terbatas.
“Misalnya ruang perawatan penderita tuberkulosis jadi satu dengan pasien non-tuberkulosis. Selain itu, sebagian tempat tinggal tenaga perawat dirumah kontrakan dan rumah mantri yang tersebar di kota, sebagian lagi di kampung, sebagian dirumah-rumah tua, ” jelasnya.
Chrisyandi menuturkan, drainase di sepanjang selokan yang tidak tertutup ke sungai yang mengalir dibelakangnya, sehingga bangunan tersebut terlihat dipenuhi tikus, bahkan di siang hari. Dengan kondisi tersebut akhirnya dilakukan renovasi.
“Jumlah rawat jalan telah meningkat dari 11.000 pada tahun 1921 menjadi 112.000 pada 1929, 187.000 pada tahun 1935, dan 222.000 pada tahun 1937, membuat ketidakefisienan gedung klinik rawat jalan yang tersedia,” terangnya.
Pada 29 Oktober 1938 renovasi besar-besaran dilakukan, yakni pembelian dan pembersihan beberapa kuburan maupun bangunan.
“Pada awal 1938 sebuah draf dengan perkiraan biaya hingga 1,9 juta gulden disampaikan kepada pemerintah,” katanya.
Rencana pembangunan paviliun yang termasuk dalam proposal kepada pemerintah, yang kapasitasnya telah dikurangi dari 80 tempat tidur menjadi 46 tempat tidur.
“Pemusatan konstruksi pada arah vertikal (paviliun rumah sakit besar dua lantai, paviliun tifus satu lantai dan paviliun kelas). Kemudian terdapat taman-taman luas untuk lay out bangunan. Selain itu sepanjang sisi selatan untuk pembangunan rumah sakit jiwa,” katanya. (bersambung/nur)

