Rumah sakit yang awalnya bernama Nieuwe Centrale Burgerlijke Zienkenhuis (CBZ) bertujuan untuk merawat korban perang dan masyarakat yang menderita berbagai penyakit. Pasalnya, Rumah Sakit Simpang tak mampu menampung para pasien yang harus dirawat.
“Namun pembangunan rumah sakit sempat terhenti pada 1942 ketika Jepang menguasai Surabaya. meskipun sempat terhenti, pembangunan rumah sakit kembali dilanjutkan Jepang pada 1943. Setelah selesai, bangunan itu dijadikan Rumah Sakit Angkatan Laut Bela Tentara Jepang atau Kaigun.” jelas Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika kepada Radar Surabaya. Pergolakan belum berhenti, pada 1943 juga, Nieuwe CBZ kembali dikuasai Belanda dan dijadikan rumah sakit marinir atau marine hospital Surabaya. “Karena pentingnya rumah sakit ini, meskipun sempat dikuasai Jepang, Belanda berusaha kembali merebutnya. “Intervensi Belanda pun terlihat jelas dalam desain bangunan serta penataan ruangan yang dipakai di rumah sakit,” katanya.
Pada masa penjajahan Keberadaan rumah sakit memang menjadi suatu hal yang vital. Apalagi pada masa perebutan kekuasaan antar penjajah, pertempuran dan serangan senjata tak dapat dihindari. “Oleh karenanya mereka membutuhkan rumah sakit untuk perawatan prajuritnya,” imbuhnya.
Pada 1950, ketika Indonesia sudah menyatakan diri merdeka, sejarah baru tercipta. pada 7 Agustus Rumah Sakit Marine Hospital diserahkan kepada Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (ALRIS). Pada tahun itu pula berubah lagi namanya menjadi Rumah Sakit Umum (RSU) pusat.
Baru pada 1951 hingga 1954 aktivitas RS Simpang mulai dipindah ke RS Karang Menjangan. Namun pelayanan bedah akut tetap dilakukan di Rumah Sakit Simpang. Segala pelayanan kesehatan pun dilakukan dengan baik (bersambung/nur)

