Pabrik bir di Jalan Ratna, Ngagel atau dulu masih bernama Keper Straat I 21-22 dahulu berada di kawasan Industri Ngagel. Gedung pabrik itu memiliki arsitektur berbentuk langgam. Karena Belanda menyesuaikan keadaan Surabaya yang panas(tropis).
Namun pasca pabrik berpindah ke Mojokerto, beberapa sudut bangunan sempat mengalami perubahan. Menurut pustakawan sejarah Chrisyandi Tri Kartika perubahan bangunan dengan menambah bentuk balok yang tinggi. Sedangkan beberapa gedung dilakukan peleburan menjadi dua dari bentuk dasar gedung. “Gerbang utama yang dulunya botanic solid, ada perubahan juga,” kata Chrisyandi kepala Radar Surabaya.
Jika melihat bangunan asli bagian atapnya berbentuk kubus kemudian diubah.”Bahkan bentuk kubus bagian atap dikurangi.” ujarnya.
Perubahan juga terjadi di dalam kompleks gedung, corak bangunan dikatakannya mengalami perubahan, berbeda dengan saat awal di bangun. “Khusunya bangunan yang menempel di bagian luar utara, sisi timur pintu masuk,” terangnya. Dulu kawasan pabrik bir merupakan kawasan Surabaya pinggiran tepatnya pada 1950. Selain merupakan kompleks industri di kawasan Ngagel. Bahkan Chrisyandi menjelaskan, saat terjadi peperangan di Surabaya, kawasan industri Ngagel tidak digunakan ajang pertempuran, namun anehnya beberapa pabrik terkena peluru nyasar, sedangkan pabrik bir tidak terkena. “Karena lokasi pabrik bir terlindungi dari pabrik-pabrik lainnya,” pungkasnya (bersambung/nur)

