Pohon Natal dan Replika Baju Keluarga Kudus Habiskan Empat Karung Limbah Konveksi

SAMBIKEREP – Pembuatan ornamen Natal bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti yang dilakukan Tabita Citra dan Elisabeth Stevany. Keduanya membuat replika baju untuk keluarga kudus dan pohon Natal dari denim (kain jeans).

Kedua ornamen Natal itu dipajang di Corepreneur lantai 1 Universitas Ciputra (UC) Surabaya, Senin (18/12). Meski berhias denim yang dominasi warna biru gelap, namun ditangan keduanya ada kombinasi warna sehingga mencerminkan keharmonisan.

Menurut Tabita Citra, pembuatan replika baju keluarga kudus dan pohon Natal setinggi 2,5 meter itu menggunakan limbah kain denim. Tak hanya itu, ia juga menambahkan kain kancing, dan kain bekas almamateri yang tidak terpakai.

“Untuk kerudung bunda Maria dari furing dan dikombinasikan dengan jas almamater UC. Kita juga kombinasi dengan warna abu-abu dari kain denim juga,” tutur Tabita.

Untuk pembuatan tersebut membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Butuh empat karung kain denim untuk membuat kedua ornamen tersebut. Selain itu ia juga membuat anyaman dari kain-kain itu sebagai tambahan  ornamen pada pohon Natal.

“Kita buat anyaman cutting untuk kombinasi di pohon Natal dan baju yang dibuat oleh keluarga Kudus,” tutur alumni UC itu.

Meski demikian, ada kesulitan dalam pembuatannya. Menurut Elisabeth Stevany, kesulitan pada perpaduan warna, pemotongan kain hingga menjahit.

“Untuk kendala dalam pengelolaannya kainnya memerlukan waktu lima hari. Kesulitannya membuat kain itu menjadi kecil-kecil. Kalau yang besar biasanya kita potong lagi,” terang Elisabeth.

Ia mengaku, pembuatan dua ornamen Natal itu untuk merayakan Natal sekaligus untuk meng-explore kemampuannya dalam mendesain project Natal tersebut.

Bahkan, Elisabeth menyebut warna kombinasi seperti abu-abu menjadi warna harmonis yang bermakna pada menghargai dan menghormati perbedaan agama dan pendapat.

“Karena yang bikin ornamen ini juga ada yang beragama muslim. Jadi kami maknai dengan warna kombinasi agar terlihat saling menghormati dan menghargai sesama manusia,”pungkasnya. (rmt/nur)