Ratusan Pemilik Bisnis Belajar Bersama Anak

Jawa Pos.1 Februari 2024. Hal.15

SEMANGAT: Sebanyak 153 pemilik bisnis berkumpul di Universitas Ciputra dalam acara pameran, inspiration session, hingga talkshow untuk mempersiapkan suksesi mereka lewat program family business, Sabtu (17/2).

SURABAYA – Tren perkembangan bisnis keluarga hingga kemarin makin dipahami orang tua dan anak. Itu terlihat dari beberapa bisnis owner yang jumlahnya terus bertambah untuk belajar bersama sang anak lewat program family business di Universitas Ciputra (UC). Bahkan, setiap tahun pendaftar dalam program tersebut terus meningkat.

Tahun lalu jumlah pendaftar program tersebut 120 pemilik bisnis, sedangkan tahun ini meningkat jadi 153. “Angka ini sebenarnya termasuk sangat banyak. Kami cukup bersyukur ini menandakan para pemilik bisnis sudah mulai paham betapa pentingnya untuk melanjutkan usaha mereka pada anak-anaknya,” jelas Direktur UC Center for Family Business Teddy Saputra.

Dia juga menjelaskan bahwa program family business tersebut adalah program untuk anak agar bisa meneruskan usaha keluarga mereka. Namun, program itu baru bisa diambil di semester keempat, setelah para mahasiswa sudah pernah belajar membuat produk sendiri dan mengenal dunia entrepreneur di semester sebelumnya.

Setelah itu, barulah para mahasiswa dihadapkan dalam beberapa pilihan. Dari yang membuka bisnisnya sendiri, meneruskan bisnis keluarga, bisnis sosial, maupun menjadi pekerja profesional. “Nah, bagi mereka yang memilih program family business, yang berbeda itu para orang tua yang punya bisnis ini harus terlibat. Dan mereka juga harus komitmen selama tiga semester,” terangnya.

Meski begitu, Teddy mengungkapkan bahwa tantangan terbesar justru datang daripara mahasiswa. Bukan dari para orang tua mereka. “Karena yang justru mendaftar program ini rata-rata orang tuanya. Nggak sedikit juga yang dipaksa. Anak-anak seringnya banyak yang nggak mau melanjutkan family business mereka,” ceritanya.

Padahal, family business sangat penting untuk per- tumbuhan dan ketahanan ekonomi. Bukan hanya untuk keluarga, melainkan juga Indonesia. Lucky Cahyana Subadi, head teaching and learning center UC, menambahkan bahwa diadakannya program tersebut adalah agar bisnis keluarga di Indonesia itu tidak bubar. “Karena itu adalah pilar utama dari perekonomian di Indonesia, 85 persen bisnis di Indonesia itu bisnis keluarga. Kalau itu sampai nggak berjalan lancar, artinya semua akan mengulang. Bikin dari nol,” terangnya. (ama/c12/may)