SURABAYA – Limbah produksi bidang fashion terus menjadi perhatian. Bahan-bahan berukuran kecil menjadi bahan yang tak terpakai lagi hingga menumpuk Hal tersebut menggerakkan Yoanita Tahalele membentuk Center of Sustainability (COS).
“Kita bekerja sama dengan pabrik untuk mengolah limbah yang ada,” ucap dosen School of Creative Industry Universitas Ciputra itu. Selama ini pabrik kesulitan untuk mengolah kembali sisa potongan. Yoanita mengatakan, CoS bakal berperan menyediakan desain untuk pengolahan limbah tersebut. Limbah yang dihasilkan harus dilihat terlebih dahulu. Dicek jenisnya, ukurannya, dan ketahanannya. “Baru ditentukan akan diolah dengan teknik apa supaya jadi produk yang bernilai,” jelas Yoanita kemarin (19/12).
Yoanita dan mahasiswa yang tergabung dalam CoS kemudian membuat blueprint desain yang bisa menyerap limbah tersebut. “Produk yang sudah ada saat ini berupa tas” ujarnya. Bentuk anyaman cukup dominan dalam karya tas yang diproduksi. Anyaman tersebut dibentuk dari potongan-potongan kecil yang banyak tersisa dari produksi massal produk utama.
Saat ini mereka bekerja sama dengan pabrik sepatu dan tas. Jadi, produk olahan yang dibuat lebih banyak menggunakan bahan kulit. “Desain yang sudah jadi kemudian diadopsi pabrik supaya bisa menjadi produk massal,” paparnya. Selanjutnya, mereka bakal menjajaki kerja sama dengan pabrikyang memiliki limbah bahan denim dan bungkus makanan. (dya/c7/ady)

