Sumber:https://radarsurabaya.jawapos.com/surabaya/775886240/dosen-universitas-ciputra-surabaya-angkat-budaya-cap-go-meh-ke-novel-fantasi-gara-gara-rumah-dekat-kelenteng

Dosen Universitas Ciputra Surabaya Angkat Budaya Cap Go Meh ke Novel Fantasi gara-gara Rumah Dekat Kelenteng

16 April 2025

RADAR SURABAYA – Tradisi dan budaya memang menyimpan banyak cerita yang menarik. Sehingga menulis tentang budaya berarti menggali lapisan-lapisan sejarah, dengan memahami nilai-nilai yang ada dibalik cerita tersebut.

Membutuhkan penelitian dengan waktu yang cukup untuk memahami cerita serta nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi dan budaya tersebut.

Hal ini menarik minat Shienny Megawati Sutanto, yang merupakan dosen Visual Communication Design (VCD) di Universitas Ciputra (UC) Surabaya, untuk mengangkat salah satu tradisi Tionghoa.

Yakni perayaan cap go meh untuk dijadikan dalam sebuah cerita novel yang ia tulis.

Awalnya Shienny hanya mengikuti saja ajakan orang tuanya untuk menikmati lontong cap go meh, dalam setiap perayaannya digelar dua minggu setelah Tahun Baru Imlek.

Hingga akhirnya, perempuan yang merupakan novelis dengan genre fantasi ini membuat sebuah novel tentang cap go meh yang juga dijadikan sebagai bahan disertasinya.

Ia memulai penelitian tentang novelnya pada tahun 2022, tepatnya pada semester ketiga studinya di program doktoral.

Hingga akhirnya rampung pada bulan Juli 2024, dan melaunching novel yang diberi judul “Warisan Dua Dunia” tersebut, bertepatan dengan perayaan cap go meh tahun 2025.

“Saya tertarik mengangkat tradisi perayaan cap go meh ini, karena hanya di Indonesia perayaan ini menggunakan lontong,” kata Shienny saat ditemui di kampus UC Surabaya, Selasa (15/4).

Ia mengaku, penulisan novel ini terinspirasi masa kecilnya yang sering berkunjung ke kelenteng Hok An Kiong di Jalan Coklat Surabaya, karena kelenteng itu dekat dengan tempat tinggalnya.

Serta menjadikan tempat ibadah tersebut sebagai setting tempat cerita, dan juga tokoh utama dalam novelnya.

Menurut Shienny, tantangan dalam membuat novel adalah membuat unsur budaya Tionghoa terasa menyatu dan alami, tidak hanya sekedar menempel.

“Menulis budaya membutuhkan waktu, tidak bisa cepat. Karena kita harus melakukan riset yang dalam, agar penyajiannya terasa menyatu tidak terkesan menggurui,” jelasnya.

Yang menarik dalam novel Warisan Dua Dunia ini, dilengkapi dengan 18 gambar ilustrasi yang ia buat sendiri.

Yakni terdiri dari 16 ilustrasi yang mengisi tiap bab dalam novel, serta dua yang dijadikan sebagai cover depan dan belakang.

Dan yang paling susah menurutnya adalah menggambarkan 12 shio dijadikan satu.

“Ilustrasi bangunan klenteng juga rumit, karena harus mendetail. Seperti ornamen-ornamennya. Selaras dengan genre fantasi yang merupakan gaya saya, jadi harus ada dalam novel yang saya buat,” ungkap dosen yang telah menulis sebanyak 10 novel sejak tahun 2010 ini.

Dengan hadirnya novel tentang budaya Tionghoa ini, Shienny berkeinginan untuk kembali menulis novel lain yang mengangkat tema budaya-budaya yang lain.

Namun tidak dalam waktu dekat, karena dalam proses pembuatannya membutuhkan riset dengan waktu yang tidak pendek. (sam/opi)