Tangisan Sunyi Gen Z Dibongkar di Panggung! Bagong Crying Soul Gegerkan Surabaya dengan Pesan Kesehatan Mental
14 Juni 2025
PR SURABAYA – Sebuah pertunjukan teater yang menggugah hati berjudul “Bagong Crying Soul” sukses menyita perhatian publik pada 13 Juni 2025 malam di Dian Auditorium, Surabaya.
Lebih dari sekadar tontonan seni, pagelaran ini menjadi jeritan sunyi dari generasi muda, khususnya Gen Z yang selama ini memendam luka dalam diam.
Dibalik produksi ambisius ini adalah Henry Susanto Pranoto, Ph.D., dosen International Business Management Universitas Ciputra yang juga dikenal sebagai seniman dan komponis.
Bersama para mahasiswa Universitas Ciputra dan siswa Sekolah Citra Berkat Surabaya, Henry menghadirkan pertunjukan teatrikal yang menelanjangi realitas kelam: depresi, kecemasan, bullying, hingga tekanan sosial yang menghantui generasi muda masa kini.
“Anak muda sekarang terlihat aktif dan ceria, tapi banyak dari mereka menyimpan luka yang tidak terlihat. Melalui seni, mereka bisa belajar untuk jujur pada diri sendiri dan berani bersuara,” ujar Henry.
Tokoh Bagong Jadi Cermin Luka Batin Remaja
Mengangkat karakter legendaris pewayangan Bagong, yang dikenal kocak namun menyimpan emosi mendalam, pertunjukan ini menyuguhkan ironi yang menyentuh.
Bagong dalam versi ini tampil penuh tawa di luar, namun menyimpan trauma dan kesedihan akibat bullying dan ketidakadilan, sebuah metafora yang kuat untuk menggambarkan banyak Gen Z hari ini.
Kolaborasi Musik Manusia dan AI: Emosi vs Teknologi
Salah satu elemen unik yang mencuri perhatian adalah penggunaan musik orisinal karya Henry Pranoto yang dipadukan dengan komposisi hasil kolaborasi dengan Artificial Intelligence (AI).
Penonton diajak menyelami perbedaan nuansa emosional dari keduanya, sebuah eksplorasi menarik tentang bagaimana teknologi bisa mendampingi manusia, bukan menggantikannya.
Panggung Interaktif yang Menghancurkan Batas
Dengan desain panggung yang menjangkau hingga ke tengah audiens, pengalaman menonton berubah menjadi pengalaman emosional.
Salah satu adegan paling menyentuh adalah kisah nyata seorang mahasiswa yang pernah menjadi korban kekerasan rumah tangga, dibawakan secara langsung dengan intensitas akting yang mengguncang.
“Jika ruang aman tidak diciptakan, para remaja ini akan terus memendam luka hingga pada titik terburuk: menyakiti diri sendiri,” tegas Henry.
Seni Pertunjukan sebagai Terapi Kolektif
Pertunjukan ini hadir di tengah lonjakan angka gangguan mental di Indonesia.
Berdasarkan data WHO, 1 dari 7 remaja mengalami gangguan mental, dan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 mencatat lonjakan 25% kasus depresi pada remaja hanya dalam dua tahun terakhir.
Melalui “Bagong Crying Soul”, seni terbukti menjadi medium penyembuhan alternatif yang ampuh.
Pertunjukan ini bukan hanya terapi bagi para pemainnya, namun juga menjadi cermin bagi para penonton untuk lebih peka dan peduli pada kesehatan mental generasi muda.
Pesan Moral: Saatnya Dengarkan Gen Z
“Bagong Crying Soul” bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah manifesto sunyi dari generasi yang butuh ruang untuk bersuara.
Ini adalah ajakan bagi orang tua, guru, dan masyarakat luas untuk berhenti mengabaikan, dan mulai mendengarkan lebih dalam.
Dengan harapan besar, Henry Pranoto menyebut bahwa pertunjukan ini akan menjadi awal dari gerakan seni yang lebih luas: menyatukan pendidikan, empati, dan teknologi untuk menyelamatkan masa depan mental generasi bangsa.***

