Kampus UCJ Dukung Mahasiswa Melek AI Lewat Beasiswa Multiple Intelligence
15 Oktober 2025
Sonora.ID – Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan (AI) yang mengubah wajah dunia kerja dan pendidikan tinggi, Universitas Ciputra Jakarta (UCJ) memperkenalkan pendekatan baru dalam menyiapkan generasi muda agar tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga berkreasi bersama teknologi.
Melalui peluncuran Beasiswa Multiple Intelligence, UCJ menegaskan komitmennya melahirkan mahasiswa yang unggul secara intelektual, emosional, dan digital di era Generative AI (Gen-AI).
Menurut Prof. Dr. Ir. Denny Bernardus, M.M., Director, Board of Executive Yayasan Ciputra Pendidikan, pendidikan tinggi kini tidak bisa hanya mengandalkan penguasaan akademik semata.
“Kami ingin mencetak mahasiswa yang tidak hanya pintar menggunakan AI, tetapi juga memahami nilai kemanusiaan di balik teknologi,” ujarnya dalam peresmian gedung kampus UC Jakarta sekaligus peluncuran program beasiswa tersebut.
Beasiswa Multiple Intelligence yang digagas UCJ berpijak pada teori Multiple Intelligences dari Howard Gardner (Harvard University). Program ini mengakui beragam bentuk kecerdasan, mulai dari logika matematis hingga interpersonal yang dinilai relevan dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif di era AI.
Berbeda dari beasiswa konvensional, skema ini memberi ruang bagi siswa dengan potensi unik, termasuk mereka yang kreatif secara digital, inovatif dalam pemanfaatan teknologi, atau mampu menciptakan solusi sosial berbasis AI. Para penerima beasiswa diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang menekankan kolaborasi manusia dan mesin secara etis dan produktif.
“Generative AI membuka peluang tanpa batas, tetapi hanya mereka yang memahami dirinya dan nilai kemanusiaannya yang bisa memanfaatkannya secara bijak,” tambah Prof. Denny.
Pendekatan UC Jakarta dalam proses seleksi dan pembelajaran berangkat dari konsep co-creation — kolaborasi aktif antara mahasiswa, dosen, dan dunia industri. Dalam praktiknya, mahasiswa tidak sekadar pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi yang memadukan kreativitas, kecerdasan sosial, dan literasi digital.
Kurikulum UC Jakarta telah mengintegrasikan penggunaan Gen-AI untuk mendukung pengembangan kewirausahaan, desain bisnis, hingga proyek inovasi sosial mahasiswa. Dengan cara ini, kampus berupaya menumbuhkan kecakapan berpikir adaptif, kemampuan analisis data, dan kepekaan etis terhadap penggunaan teknologi.
“Kami ingin mahasiswa UC Jakarta menjadi generasi yang tidak hanya tech-savvy, tetapi juga human-centered innovators,” ungkap Prof. Denny.
Peresmian gedung baru UC Jakarta bukan sekadar simbol kemajuan fisik, tetapi penegasan arah pendidikan yang berpihak pada masa depan digital. Kampus ini diharapkan menjadi “rumah bagi semua mimpi,” tempat di mana berbagai kecerdasan — baik manusia maupun buatan — dapat bertemu dan menciptakan masa depan yang lebih berdaya guna.
“AI tidak menggantikan manusia, tetapi menuntut manusia untuk menjadi lebih manusiawi. Itulah semangat yang ingin kami tanamkan,” tutup Prof. Denny.

