
Pertengahan Desember lalu, Abdul Nasir menjadi selebritas dadakan. Teman-temannya di kelompok tani, tetangga desa, dan kelompok binaannya di sejumlah wilayah “nobar” alias nonton bareng. Rupanya, acara bincang-bincang di Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di mana ia menjadi salah satu narasumber ditayangkan di televise. Bupati Probolinggo pun turut mengapresiasi.
“Ini teman-teman di Probolinggo. Ini dari Sulawesi Selatan,” katanya menunjukkan foto dan komentar yang dikirim via Whatsapp sehari setelah tayang. Kalau dalam acara bincang-bincang ia berpakaian adat Madura, siang itu ia santai berkaus dan berjaket. Siap pulang ke kampung halaman.
Dalam bahasa anak milenial, Nasir adlaah petani zaman now. Ketika orang ramai-ramai kembali ke alam, menjauhi hal-hal yang bersifat artifisial, ia mengembangkan pertanian organik dan menjadi tokoh lintas wilayah. Padahal, awalnya cuma membahas kelangkaan pupuk dalam kelompok shalawatan.
Kala itu, sebenarnya Nasir sudah mapan. Penghasilannya sebagai pengelas di proyek sudah Rp 1,5 juta per bulan, sementara harga sepiring nasi dengan lauknya tidak sampai Rp 10.000. Sebelumnya, ia pernah menjadi petugas pengairan dengan gaji Rp 25.000, penggiling di pabrik gula Rp 75.000, dan asisten pengelas Rp 700.000.
Demo petani terjadi di pelbagai daerah, bahkan di desa sebelah, petani mencegat truk pengangkut pupuk dan menyerbu gudang pupuk. Banyak petani dililit utang karena harga eceran tertinggi pupuk urea Rp 60.000 per zak melambung menjadi Rp 135.000. Belum lagi pupuk NPK dan ZA. “Saya bilang kepada teman-teman, jangan demolah. Kita cari jalan lain,” ceritanya mengenang.
Ternyata mereka malah minta Nasir menjadi ketua. Kebetulan cuman dia yang lulusan STM, sementara lainnya berpendidikan SD dan SMP. Penunjukan itu seperti menjawab kegelisahannya selama ini. Sudah menjalani berabgai pekerjaan, ketemu rezeki, mengapa hatinya belum juga tenang?
Membulatkan tkad, Nasir mengundurkan diri dari perusahaan. Uang pesangon ia belikan lahan 0,15 hektar di Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Resmilah kelompok shalawatan menjadi Kelompok Suka Tani dengan delapan anggota, tahun 2008.
Untuk pengganti pupuk, mereka berburu kotoran ternak, jerami, arang sekam, juga buah busuk dan air cucian beras. Tanpa sengaja, mereka beralih ke sistem pertanian organik.
Pertanian organik
Pelan-pelan, pertanian organik ini berkembang. Selain menggunakan pupuk cair hasil fermentasi kotoran ternak dan limbah dapur, kelompok ini kembali ke ajaran leluhur: menanam dengan pola tanam jajar legowo. Dari kata bahasa Jawa lego yang berarti luas dan dowo berarti panjang, jajar legowo mengatur jarak tanam agar semua tanaman cukup disinari matahari. Berdasarkan pengalaman, tanaman padi di pinggir memproduksi padi lebih tinggi dengan kualitas gabah lebih baik karena sinar matahi dan sirkulasi udaha lebih banyak.
Kombinasi pertanian organik dengan pola tanam jajar legowo meningkatkan produktivitas padi dari 6 ton menjadi 10-11 ton per hektar. Kelompok Suka Tani berkembang menjadi Kelompok Tri Karya Jadi yang lebih terorganisasi. Tri Karya Jadi kini mendampingi empat kelompok masyarakat di enam desa. Keanggotaan menjadi 68 orang dengan 224 orang penerima manfaat. Selain itu, 645 orang sudah dilatih sistem pertanian organik, termasuk di Sulawesi Selatan.
“Sekarang, kami punya tim pupuk, pengendali hama penyakit, dan panen,” ujarnya bangga.
Perjumpaan dengan PT Pembangkitan Paiton – dikenal sebagai PJB Paiton – makin mengukuhkan Kelompok Tri Karya Jadi. Selain membangunkan tempat berkumpul, menyediakan kendaraan pengangkut kotoran ternak, dan mengirim Nasir belajar ke IPB, PJB Paiton juga memfasilitasi saran pengomposan.
“Kalau dulu fermentasi pupuk organik ‘beratap langit beralas bumi’, sekarang enggak kepanasan dan kehujanan,” katanya mengutip lirik lagu “Gelandangan”.
Nasir memang hobi menyanyi. Ketika masih mencari jati diri, ia ikut lomba nyanyi di radio dengan nama Alex. Istrinya tak tahu karena baju ganti ia selundupkan di helm proyek. Masuk semifinal, sang istri kebetulan mendengarkan radio dan mengenali suaranya. “Istri enggak setuju, gagal saya menjadi juara, ha-ha-ha,” katanya.
Namun, istrinya sangat mendukung ia menjadi petani. Di awal-awal perjuangan, istri Nasir rela begadang memarut temulawak dan menumbuh sereh untuk pestisida alami. Ia juga bantu mengumpulkan air kelapa dan air cucian beras tetangga. Berkat dukungan itu, lahan meluas menjadi 1,2 hektar dengan aneka tanaman, yaitu padi, jagung, cabai, dan tembakau.
Ekonomi berkembangan
Kehadiran sarana belajar membuat Nasir dan kawan-kawan giat membagi ilmu. Murid-muridnya tidak hanya petani yang ingin beralih ke pertanian organik, tetapi juga guru, pelajar, bahkan mahasiswa. Kehadiran mereka, kadang sampai puluhan orang, ternyata menumbuhkan ekonomi baru. Tak hanya urusan makan, tetapi juga tempat menginap.
Rumah penduduk yang semula berlantai tanah kini berplester semen. Dinding kumuh dicat rapi, beberapa bahkan memasang tenda. “Mereka malu rumahnya tak pantas kalau ada yang menginap lagi,” kata Nasir.
Menurut penelitian Sodiq, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya, kehadiran Nasir berpengaruh positif dalam proses pemilihan kepala desa. Taruhan calon pemenang yang biasanya meramaikan proses pemilihan, hilang ketika Nasir merestui salah satu calon. Ternyata mereka sungkan kalau bertaruh untuk calon lain.
Namun, Nasir masih menyimpan mimpi. Ia ingin meregenerasi petani yang mulai menua. Pernah 60 siswa sekolah menengah ikut pelatihan, saat ditanya tidak satu pun bercita-cita menjadi petani. Maka, anak sulungnya, Yulianto, sering ia ajak ke sawah meski sekarang sedang menulis skripsi administrasi bisnis di Universitas Brawijaya.
“Ia boleh menjadi apa saja. Pegawai, pedagang, terserah takdir Yang Mahakuasa. Namun, pertanian tidak boleh ditinggalkan,” ujarnya.
Si bungsu, Febrianto, ingin menjadi pesepak bola dunia. Berkat bakatnya, ia sering diundang ke mana-mana. Pernah Nasir deg-degan saat mengambil rapor, mengira nilai anaknya jelek karena dipanggil paling akhir. Ternyata gurunya mau berterima kasih karena tim sekolah jadi juara.
“Saya mati-matian di pertanian organik. Semoga hasil dan harga panen yang baik bisa membuat orang tertarik kembali bertani,” katanya.
Sumber: Kompas.22-Desember-2017.Hal_.16
