
Terlahir dengan keterbatasan fisik sempat membuat Achmad Zulkarnain ( 25 ) mengalami nasib pahlt . Dia dibuang , dikucilkan , dan direndahkan . Namun , pengalaman pahit Itu justru menjadikannya sebagal pribadi yang istimewa dan memotivasi banyak orang .
OLEH ANGGER PUTRANTO / BAMANA PATRIA GUPTA
Terik matahari di Pantai Boom Hanyuwangi . Jawa Timur maut dilewati Zul , panggilan akrab Achmal Zulkarnain , yang baru saja mengabadikan pelepasan tukik segera mencari ternpat berteduh.
Tubuh Zul bergoyang ke kanan dan kue kiri seiring langkahnya bergerak maju Dengan sekuat tenaga dan upaya, pria penyandang disabilitas yang terlahir tanpa tangan dan kaki yang utuh tersebut coba menghindari terik matahari dan pasir yang panas . Monopod dan kamera la pangul di pundak kanannya agar tak mengganggu langkahnya Meski fisiknya tak sempurna , ia tak kalah gesit dibandingkan dengan yang lain.
Ia pun sangat mahir memotret Keterbatasan fisik Zal bukan halangan baginya untuk mengoperasikan kamera , Strap kamera selalu terka- lung di lehernya . Sebuah mopod membantunya menopang kamern dan lensa tele 70-200 milimeter yang cukup berat.
lengan kirinya menopang badan kamera sekaligus mengarahkan demana kamera akan membidik Se mentara lengan kanannya berada di atas lensa . Nebuah gumpalan daging menyerupai jari membantu Zul untuk memutar fokus ataupun zoom . Se telah yukan dengan hasil bidikannya . Eksekusi gambar dengan menekan runa dengan lengan ka nannya.
Saat Kompas menemuinya di Pan Lou Boom , Sabtu ( 21/10 ) , Zulmen ceritakan ketertarikannya dengan dunia fotografi sejak 2014. Saat itu Zul bekena di sebuah warung internet yang juga menyediakan jasa pem buatan pas foto .
Di warung internet itu dia bertugas melayani pembuatan foto KTP . ” Saat itulah saya pertama kali belajar fotografi . Dari sana saya punya niat untuk memiliki kamera sendiri yang waktu itu masih tidak punya uang , ” katanya.
Setelah tak lagi bekerja di warung internet , ketertarikan Zul pada fotogtrafi tetap tumbuh . Zul yang kala itu bekerja di sebuah kantor advokat di Banyuwangi akhirnya membera nikan diri untuk membeli kamera digital single lens nefiert ( DSLR ) se hanya Rp 6 juta dengan cara dicicil selama 1,5 tahun .
Kendati kondisi fisiknya membuat gerak Zal terbatas dan tak selincah yang lain , hal itu tak menghalangi langkahnya untuk mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya . Zul pernah mengabadikan lanskap pegunungan dan kawah Gunung Tjen yang ting ginya mencapai 2.443 meter di atas permukaan laut .
Memiliki kamera sendiri membuat Zu semakin mudah menggumuliho binya itu setiap hari . Hingga akhirnya Zu bergabung bersama komunitas fotografi Anak Osing Singojuruh . ( AOS ) Banyuwangi Zul cukup beruntung memiliki teman – teman di komunitas AOS . Ko- munitas itu yang kerap menemani Zul hunting foto Tak jarang mereka bergantian menggendong atau me- masukkan Zul ke dalam tas currier saat pergi mendaki gunung.
Banyak waktu yang dihabiskan Zul dengan teman – teman komunitasnya . Tak hanya berkomunitas , AOS juga menjadi ladang pekerjaan bagi Zul dan rekan – rekan fotografer lain . Me- reka menyediakan jasa foto untuk pre – wedding , pernikahan , dan doka- mentasi kegiatan .
Untuk mobilitasnya , Zul biasa menggunakan kendaraan bermotor menyerupai gokar . Kendaraan ter sebut ia rancang sendiri . Namun , untuk perakitannya , Zul dibantu oleh ayahnyn . Dibutuhkan waktu sembilan bulan hingga akhirnya gokcar tersebut dapat digunakan .
Tak cukup sampai di situ . Zul juga tertarik untuk terus menguji kemam puan fotografinya Salah satu caranya ialah dengan mengikuti sejumlah lomba foto . Hingga suatu hari , Zul mengikuti lomba foto khusus difabel yang mempertemukannya dengan fotografer senior Darwis Triadi . Zul pun diberi kesempatan belajar di sekolah fotografi milik Darwis Triadi secara cuma – cuma .
Berkat pengalaman dan ilmu fotografi yang ia miliki , Zul kini kerap diundang oleh sejumlah komunitas untuk memberikan workshop foto grafi . Tak hanya menyampaikan ilmu fotografi , Zul juga menyisipkan ma teri – materi motivasi Kebangkitan Zul menghadapi ke terbatasan fisiknya merupakan ma teri motivasi yang biasa ia sampai kan . ”
Memang banyak kesulitan yang saya hadapi karena fisik saya . Kamera yang berat , susahnya menekan tom bol shutter menjadi tantangan bagi saya . Namun , perlahan itu bisa saya atasi karena saya mau berusaha untuk menyesuaikan , ” ujarnya .
Pergulatan diri
Zul kini sudah bisa menerima ke terbatasan dirinya Dia kini percaya diri dengan kundasi fisik yang berbeda dengan orang kebanyakan .
Saat masih bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatul Mubtacliin , pernah diolok – olok teman seperma- inannya . Hal itu membuat Zul ter- pukul dan enggan bersosialisasi de- ngan orang lain .
” Sehari – hari saya hanya di kamar Sampai pada suatu titik , saya me- renung tentang masa depan saya . Sa- ya berpikir , apa dampaknya kalau saya terus – terusan malu dengan kondisi fisik saya dan apa dampaknya kalau saya memilih bangkit dan menerima kekurangan saya , ” tuturnya .
Tak hanya dikucilkan , Zul bahkan pernah dibuang Beberapa hari setelah lahir , Zul sempat dibuang oleh orangtuanya . Zul yang masih bayi sudah dimasukkan ke dalam tas ke resek dan dibuang ke tempat sampah Beruntung salah satu kerabat orang tua Zul mengetahui hal itu dan lang sung mengambil dan merawat Zul .
Hingga kini Zul tidak pernah me maatkan peristiwa itu . Karena ba ginya peristiwa tersebut bukanlah se buah kesalahan . ” Itu tindakan ma nusiawi saat seseorang berharap ke sempurnaan , tetapi yang didapatkan justru sebuah ketidaksempurnaan . ” kata Zul.
la mengakui , peristiwa tersebut ki ni menjadi bagian terpenting bagi dirinya . Pengalaman pernah dibuang selalu ia ceritakan untuk memotivasi orang lain . Melalui kisah itu , Zul ingin menyampaikan bahwa menerima ke lebihan sama pentingnya dengan menerima kekurangan .
Berbagai perlakuan diskriminatif yang pernah ia alami kini justru mem buat ia bangkit . Zul tidak ambil pusing dengan olok – olokan teman – teman nya . Kini Zul bahkan terbiasa me nertawakan kondisi fisiknya sendiri Bagi Zul , keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya selama dirinya mau berusaha.
Salah satu pedoman hidup yang Zul pestang hingta saat ini adalah Surat Ar – Ra’d ayat ke – ll Al Quran yang berbunyi . ” Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum , kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri ” .
” Dari ayat itu , saya semakin yakin , semua keberhasilan tergantung dari bagaimana saya menata hidup saya ke depan . Kalau saya mau sukses , saya harus mulai membuat perubahan kecil hingga besar , ” ujarnya .
Sumber: Kompas. 14 Desember 2017. Hal. 16
