Dia mencontohkan brasil,rusia dan Venezuela yang terus bersusah payah menghadapi terpaan turbulensi. Meski demikian,tentu tetap ada pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi jika ingin meraih apa yang pernah menjadi perkiraan itu. Indonesia pernah terlena dengn rata rata pertumbuhan ekonomi diatas 6%. Prestasi tersebut berhasil diraih karena ada berkah pertumbuhan komoditas yang merupakan bagian dari kekayaan alam negara ini sehingga ekspor terbilang kuat. Saat harga komoditas global lesu,ekonomi pun mulai melambat. Pria kelahiran Jakarta 31 desember 1968 itu mengatakan bahwa komoditas memang tetap bagian dari kekayaan Indonesia yang perlu dioptimalkan. Namun dalam konteks penguatan ekonomi secara jangka panjang,ia akan menjadi sektor yang perlu diwaspadai. Sebab Indonesia tak akan selamanya bergantung pada komoditas. “Ambil pelajaran dari masa lalu pertumbuhan komoditas kita sangat bergantung tiongkok,yang sekarang pertumbuhannya sedang melambat,tadinya bisa double digit,bahkan sekarang berpotensi dibawah 7%” katanya. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi tinggi yang diraih karena berkah komoditas tidak berada digenggaman tangan sendiri. Untuk itu,lanjut dia,mulai sekarang perlu dibangun fondasi kuat agar pertumbuhan ekonomi benar benar berada dicengkraman sendiri. “memang tidak akan 100% ditangan kita sendiri. Itu tidak realistisjuga. Tapi setidaknya pengaruh global itu jangan lagi signifikan” tegas peraih gelar sarjana bisnis Oklahoma state university tersebut. Dalam rangka berdikari secara ekonomi itu,rosan berharap Indonesia segera mengoptialkan barang modal yang ada di dalam negeri untuk memperkuat produksi. Itu dilakukan agar industri manufaktur lebih kuat lagi. Untuk mewujudkan itu semua,investasi perlu terus ditingkatkan. Menarik modal ke Indonesia smestinya bukan hal sulit jika regulasi mendukung. Sebab potensi pasar yang amat luas dengan jumlah penduduk yang cukup banyak semestinya menjadi salah satu modal besar pertumbuhan pada masa mendatang. “ke depan,pertumbuhan kita itu,selain domestic consumption tinggi,investasi tinggi,juga berkesinambungan” ujar perai gelar master international finance dari Antwerp European university,belgia pada 1995 tersebut. Sektor manufaktur sebaiknya juga ditopang dari industri yng bahan dasarnya bisa disediakan didalam negri. Dari investasi itulah transfer pengetahuan dan sdm dilakukan sehingga perlahan bisa menciptakan ketersediaan bahan baku yang mencukupi. Yang terpenting,industri yang dibangun merupakan sektor padatkarya sehingga ada transfer kemajuan tehnologi dan penyerapan banyak tenaga kerja. Dengan begitu,berkesinambungan seperti yang diharapkan bisa terwujud. “lama lama jadi mandiri” yakin dia. Selagi itu berjalan,menurut suami ayu manik mulyaheni tersebut,Indonesia juga sudah mengoptimalkan sektor kemaritiman dan pariwisata “karena pariwisata sekarang kan menyumbang nomor empat devisa negara kita” tuturnya. Sekarang memang jumlah wisatawan asing diindonesia masih kalah jika dibandingkan dngan Malaysia dan Thailand. Salah satu penyebabnya kalah promosi. Bukan sekedar promosi langsung melalui iklan dilevel international,tetapi juga lewat kebijakan. Dia mencontohkan Malaysia memiliki program pemerintah yang cukup menarik untuk promosi pariwisata secara tidak langsung. “misalnya ada produser film asing mau syuting di Malaysia,palingtidak diberikan insentif oleh pemerintah sana.dikembalikan 30% dari dana yang dieluarkan selama di Malaysia.” Ujarnya. Ayah raisa 12; razan 8:dan ranisnya 7; tersebut melihat hal hal yang terkesan sepele seperti itulah yang belum dilakukan oleh pemerintah. Padahal dampak positifnya sangat besar. “jadi perlu lah kebijakan yang probisnis dan pariwisata. Sarana promosi bisa dilakukan dalam beberapa hal.” Tegasnya.
Rosan juga memperkirakan sektor consumer atau barang konsumsi semakin melejit serta menjadi bidang degan peertumbuhan stabil dalam negeri dan global yang akan semakin bertambah menjadi pertimbangan utama serta sederhana. Tinggal bersaing pada kualitas dan kreatifitas inovasi saja. Tidak ketinggalan rosan melihat potensi besar dari industri kreatif di Indonesia. Terutama e-commerce dan perusahaan rinntisan. “di kita memang masih kecil nilainya mungkin sekitar usd 2 miliar. Tapi bandingkan,tiongkok sudah usd 460 miliar” ulasnya. Itu semua adalah industri yang mengkreasi tenaga kerja baru terutama anak muda.
Sumber: JAWA POS, SENIN 11 JANUARI TAHUN 2016

