Kiat menjalankan usaha camilan, karena pasarnya besar namun kompetisi didalamnya sengit. Belum lagi, tren yang gampang berubah.
Camilan rupa keripik sudah jadi bagian dari masyarakat Indonesia. Langgengnya permintaan produk keripik ini jadi pendorong lahimnya pelaku pelaku usaha di bidang olahan keripik.
Selain itu, tren di pasar keripik ini gampang berubah. Sekitar sepuluh tahun lalu, sempat booming keripik dengan variasi pedas. Produk keripik singkong dari Bandung bermerek Maicih menggebrak pasar. Melalui akun Twitter dan Blackberry Messenger, Maicih dipasarkan dan diperbincangkan karena keripik singkong ini tampil berbeda.
Maicih mampu bertahan hingga sekarang. Keripik singkong dan bakso gorengnya, dengan variasi pedas hingga kini bertengger di rak minimarket.
Bisa diduga, banyak yang ingin mengekor sukses Maicih, hingga sekarang. Karena keripik pedas, banyak penggemarnya. Belum lama ini viral di Tik Tok, Nadin Fathia yang sukses berbisnis cemilan pedas.
Nadin, pemilik Raja Ngemil ini menjual baso goreng, tempe goreng, cilok goreng, macaroni, dan kerupuk seblak goreng yang semuanya bercitarasa pedas dengan aroma daun jeruk. Melalui akun Tik Tok, Nadin membeberkan omzetnya pada 11.11 di akun Shopee bisa mencapai Rp 300 juta.
Kesuksesan berbisnis keripik pedas ini juga dirasakan Ailip Apipah, pemilik usaha Beledag Jagara. Perempuan 23 tahun ini dalam sehari bisa menjual 2 ton aneka keripik pedas.
“Sekarang memang lagi ramai lagi permintaan keripik. Sudah mulai seperti sebelum pandemi,” terang Ai yang mulai menjajakan keripik kaca buatan ibunya sejak SMA. Ai bilang, saat banyak pembatasan karena pandemi, permintaan hanya di kisaran 5 kuintal sampai 7 kuintal sehari.
“Sekarang sekolah sudah mulai masuk, di online lagi banyak gebyar belanja, dan sudah mau tutup tahun. Permintaan melonjak lagi,” kata Ai yang pembelinya kebanyakan distributor. Saking tingginya permintaan, hampir setiap hari ada distributor yang menginap di sekitar pabrik keripik Ai demi mendapatkan barang.
Ai memproduksi keripiknya di Ciamis, Jawa Barat. Pabriknya berkapasitas produksi 2 ton per hari seluas 1700 meter persegi. “Ada distributor yang bisa beli 1 ton,” jelas Ai.
Ai menjual keripiknya seharga Rp 45.000 per 1 kilogram (kg). Keripiknya dikemas dalam karung 12 kg.
Kriuknya bisnis keripik ini juga dirasakan oleh Sofyani Mirah, pemilik usaha keripik pisang Bananania asal Yogyakarta. Meski bukan menjual keripik pedas, tetapi Sofyani mampu merebut hati pasar dalam waktu singkat dengan keripik pisang olahannya.
Dalam sebulan Sofyani mampu menjual 6.000 bungkus keripik pisang kemasan 125 gram. Padahal perempuan berkerudung ini baru mendirikan Bananania di pertengahan tahun 2019. “Baru enam bulan merintis usaha malah ada Covid. Untungnya hanya beberapa bulan saja permintaan menurun,” kata Sofyani.
Jalur distribusi Sofyani dalam memasarkan Bananania terus bertambah. Sekarang dia memasarkan di 400 gerai, termasuk minimarket, swalayan, dan toko oleh-oleh di seputar Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Sofyani juga rutin mendapatkan order dari Australia, Jepang, Malaysia, dan Singapura. “Waktu pandemi, saya mulai pasarkan melalui Instagram, dari situlah ada order dari luar negeri. Kebanyakan adalah seller,” jelas Sofyani.
Sofyani bilang bisnis keripik sangat menjanjikan. “Semua orang Indonesia suka ngemil, terutama keripik atau kerupuk,” kata Sofyani. Itulah alasan Sofyani masuk dalam bisnis keripik pisang yang sudah banyak pemainnya.
“Penduduk kita banyak, jadi saya yakin tak akan kekurangan market,” jelasnya. Sofyani mampu membuktikan perhitungan market dan bisnisnya. Hanya dalam waktu tiga bulan, modal awal senilai Rp 15 juta sudah kembali.
Ai yang mengawali usaha sejak di bangku SMA, juga mampu mengembangkan dan mempertahankan bisnisnya. Dari hanya mengandalkan keripik olahan ibunya di dapur mungil, kini punya pabrik yang luas.
Saat ini, ia mempekerjakan 50 karyawan dan menggandeng 300 orang warga sekitar untuk membantu produksi keripik.
Ai mengaku sempat dengar jika bisnis makanan itu paling lama bertahan hanya 5 tahun. “Saya bersyukur Jagara mau masuk tahun ke 9,” kata Ai.
Rasa enak
Memang, tidak sedikit pengusaha keripik yang gulung tikar. Tapi, pebisnis keripik yang mengawali usaha bukan dari pabrikan besar seperti Maicih, Karuhun, dan Jagara ternyata mampu bertahan dan masih eksis hingga sekarang.
“Saya yakin bisnis keripik bukan bisnis musiman. Bisa eksis dan bertahan,” jelas Sofyani.
Bagaimana kiatnya? Menurut Ai, produk keripik yang dibuat, harus bercitarasa dan berkualitas. harus bercitarasa dan berkualitas. “Jangan tanggung-tanggung pilih bahan baku,” tukasnya. Sebagai contoh, Ai pilih pakai bumbu yang diolah sendiri, bukan bumbu bubuk yang ada di pasar.
Selain itu, Anda juga harus melengkapinya dengan izin seperti PIRT. Selanjutnya, garap kemasan secara serius, jika Anda berniat membidik end user. Jadi, Anda harus memikirkan kemasan semenarik mungkin.
“Karena jalur distribusi offline yaitu nitip di toko-toko maka saya harus membuat kemasan yang mencolok tapi berkelas supaya produk saya lebih terlihat dibanding produk lain toko tersebut,” Sofyani yang membuat kemasan warna-warna pada keripik pisangnya.
Dengan kemasan yang mencolok tersebut, pembeli akan mendekat dan mencoba, bahkan mencicipi.
Ai juga membuat desain khusus dan menarik untuk aneka cemilan buatannya. “Sekalipun market utama kami distributor yang beli karungan, tapi kami juga perlu memperkenalkan brand,” jelas Ai yang juga membebaskan distributornya untuk membuat merek sendiri bermodal keripiknya.
Selanjutnya, terkait dengan marketing. Sebagai pemain yang sudah lebih dulu eksis, Ai mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. “Kami aktif di IG, dua tahun terakhir. Sedangkan yang di marketplace itu adalah distributor,” ujarnya.
Awal usaha, Ai hanya mengandalkan kenalan atau relasinya. Dari situlah kenikmatan produknya tersebar langsung. Dan bermunculan reseller dan distributor.
Sama seperti Ai, Sofyani yang baru memulai usaha keripik dua tahun terakhir juga mengandalkan pemasaran secara of fline. “Saya gaptek, tidak mengerti pemasaran online. Jadi dari awal usaha target saya adalah toko-toko yang memiliki jaringan,” jelasnya.
Menurut Sofyani, jika produk sudah berizin dan kemasan baik, biasanya akan mudah di terima oleh pihak swalayan atau toko oleh-oleh.
Selanjutnya, ia mencoba mengajukan penjualan melalui minimarket berjejaring.
“Untuk mitra yang lama saya masih pakai sistem konsinysi tapi mitra baru pakai sistem beli putus bayar mundur,” jelas Sofyani.
Maksudnya, mitra membeli langsung sesuai jumlah yang diinginkan tapi pembayarannya tidak saat barang diambil, melainkan ada jeda 15 hari atau dua minggu. Dengan cara ini, Sofyani bisa mempertahankan cashflownya. Jika ada yang mitra yang lalai bayar sesuai tanggal yang dijanjikan, sebaiknya langsung diputus saja kerjasamanya.
Sofyani menitipkan ke toko oleh-oleh dan swalayan di Yog akarta. Dia bilang satu toko oleh-oleh biasanya punya lebih dari 3 cabang.
Perang Harga
Keripik tergolong jenis usaha yang mudah ditiru. Jadi tak heran ketika permintaan pasar tinggi, banyak lahir emain baru. Pelaku usaha keripik ini sudah menjamur. Menurut Ai lip Apipah, pemilik usaha Beledag Jagara, makin banyaknya pemain justru akan membuat produk keripik akan terangkat terus. Sehingga konsumen akan memiliki banyak pilihan..
“Memang secara marketing justru akan membantu, tapi di sisi lain, mau tidak mau harga menjadi bersaing,” jelas Ai. Hal itu juga diamini oleh Sofyani Mirah, pemilik usaha Bananania. Ramainya pemainnya tidak membuat khawatir karena pasar bisnis ini masih besar.
“Tapi, tak dipungkiri adanya perang harga,” jelasnya. Sofyani bilang, usaha makanan memang pada umumnya bisa untung 50%. Tapi karena persaingan harga di bisnis keripik ketat dia hanya mengambil margin 35%.
Selain harus pintar menyusun harga, menurut Sofyani pelaku usaha juga harus berinovasi.
“Saya dari awal sudah memiliki 5 varian keripik pisang, tapi saat ini saya coba produk lain yaitu granola dari pisang,” kata Sofyani yang baru saja mendapatkan order dari salah satu hotel di Yogyakarta untuk membuat keripik pisang asin yang disajikan di kamar-kamar hotel.
Dengan adanya inovasinya bertujuan untuk memberikan konsumen banyak pilihan. Ai pun juga melakukan banyak inovasi. Dari awalnya hanya keripik kaca dan baso goreng dia kini memiliki banyak pilihan keripik.
“Bahkan kami terus membuka aneka olahan singkong yang memang bahan bakunya muda untuk dibuat makanan yang memang bisa dibuat dengan citarasa pedas,” jelas Ai yang konsisten memasarkan produk keripik bercitarasa pedas ini.
Sumber: Kontan Mingguan 20-26 Desember 2021. Hal. 14

