Pengembangan agrobisnis berbasis teknologi dapat menjadi unggulan Indonesia. Selain mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya hayati, bioteknologi juga bisa memberi nilai tambah sumber daya alam agar bernilai ekonomi tinggi.

JAKARTA, KOMPAS – Bioteknologi harus menjadi prioritas utama penguasaan teknologi di Indonesia. Dengan basis bioteknologi yang kuat, maka pemanfaatan sumber daya hayati di sektor agrobisnis, pangan, dan farmasi dapat dioptimalkan.

Kontribusi agrobisnis bagi perekonomian nasional mencapai 27 persen dari produk domestik bruto (PBD) tahun 2015. Porsi ini diperkirakan meningkat menjadi 30 persen pada tahun depan.

Menurut Bayu Krisnamurthi, pakar ekonomi pertanian dari Institut Pertanian Bogor, Senin (26/2), di Jakarta, nilai tambah agrobisnis diperoleh dari antara lain, aktivitas hilirnya yang mencapai 15 persen dari PDB. Pencapaian niali tambah ini karena kontribusi teknologi.

Untuk itu, harus ada sinergi riset dalam konsorsium pengembangan dan penerapan teknologi di sektor tersebut. “Jika sendiri-sendiri, hasilnya kecil dan kuran gmemberi dampak,” kata Bayu.

Selama ini Indonesia yang memilii keanekaragaman hayati melimpah cenderung mengekspor bahan mentah produk pertanian. Padahal dengan memberi muatan teknologi, terutama bioteknologi untuk, terutama bioteknolgi untuk mengolah sumber daya alamnya, maka nilai tambah produk akan besar.

Indonesia dinilai dapat menjadi negara yang maju dalam menghasilkan produk bioteknologi berbasis sumber daya alam tropika. “Daya saing kita terutama bidang agrobisnis dan biotek,” kata Bayu yang juga mantan Wakil Menteri Perdagangan.

Terkait hal itu, di masa depan Indonesia dapat jadi nomor satu dunia dalam bidang bioteknologi yang cakupannya amat luas. Penerapan bioteknolgi perlu difokuskan pada pengolahan jamu, rumput laut, tanaman hias terutama anggrek, dan hortikutura.

Kelapa sawit

Saat ini salah satu penerapan bioteknologi paling canggih di dunia ada di industri kelapa sawit. Dengan teknologi yang dikembangkan, maka semua bagian kelappa sawit dapat diolah dan menghasilkan berbagai produk turunan, termasuk biogas, biofuel, dan biomassa. Hingga kini, belum ada industri Indonesia yang sebanyak itu menghasilkan produk.

Bayu menabahkan, Indonesia jadi produsen dan eksportir terbesar rumput laut. Padahal produk hilir dari rumput laut amat banyak. “kalau fokus mengembangkannya, kita akan unggul. Rumput laut kita baru menghasilakn bahan mentahnya. Jamu dan herbal Indonesia kini jadi salah satu yang termaju memanaatkan zat aktif.

Antidiabetes

Menanggapi hal itu, kepala Balai Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agung Eru Wibowo mengatakan, pihaknya menghasilkan produk riset inovasi unggulan di bidang pangan dan kesehatan. Contohnya, pengambangan produk benih tanaman kentang dan lada demi mencapai kemandirian benih nasional.

Untuk kentang pengembangan produk benih dilakukan di Wonosobo, Jawa Tengah, dan Batu, Jawa Timur. Tanaman Lada di pusat lada di Bangka sejak dulu dan kini mulai turun. Teknologi dikenalkan untuk memproduksi lada dan benih tanaman.

BPPT juga mengembangkan produk herbal yang berpotensi ekonomi tinggi dan kebutuhan pasar tinggi. Contohnya, obat herbal antidiabetes memakai tanaman binahong dan sambiloto. Kini formulanya dalam proses paten dan akan diproduksi mitra industrinya. Pembibitan dan budidaya tanaman tersebut dirintis di Lampung. Selain itu, dengan memanfaatkan isolate mikroba spesifik, obat antibiotik dikembangkan bekerja sama dengan Jepang.  “Saat ini pengembangan prosesnya memasuki tahap inkubasi teknologi,” kata Agung

Sumber: Kompas.27-Februari-2018.Hal_.12