Menjawab panggilan nurani untuk bertani. Ahmad Fahrizal (32) menemukan kesuksesan dari pembibitan avokad. Lewat varietas avokad cipedak, warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, ini gigih memanggungkan Jakarta di jagat pertanian.

Johanes Galuh Bimantara

“Perlakuan tanaman seperti dokter mau bedah, kayak mau amputasi tangan manusia,” ucap Fahrizal atau Rizal kepada dua mahasiswi magang IPB University, Bogor, Sabtu (20/2/2021). Ia tengah mengajarkan teknik sambung pucuk untuk memperbanyak bibit avokad cipedak di kebunnya di Kelurahan Ciganjur, Kecamatan Jagakarsa.

Bagi pria yang gemar memakai topi rimba ini, tanaman bukan sekadar makhluk hidup. Tanaman juga punya perasaan. Saat para mahasiswa hendak memotong dan menyayat batang bawah (seedling) serta tunas (entres) yang bakal disambungkan, mereka diminta memohon izin terlebih dahulu pada calon bibit, memberi kata-kata menenangkan karena si tanaman akan merasa sakit sebentar.

Perlakuan Rizal yang manusiawi terbukti membuat avokad cipedak membalas budi. Di saat banyak orang kehilangan mata pencaharian atau pendapatan yang menurun akibat wabah Covid-19, ia malah kebanjiran pesanan bibit. Sepanjang masa pandemi tahun lalu, ia membukukan penjualan 15.000 bibit, naik 150 persen dibandingkan tahun 2019, yakni 6.000 bibit.

Rizal tidak hanya menguasai pasar Jakarta dan sekitarnya. Namanya sudah moncer di kalangan petani bibit dan buah avokad se-Tanah Air. Ia mencontohkan, seorang konsumen dari Padang, Sumatera Barat, membeli 1.000 bibit; dari Karawang, Jawa Barat, 3.000 bibit; dan dari Jambi 1.000 bibit.

Ia enggan membuka berapa harga bibitnya, tetapi yang jelas sepadang untuk menghasilkan buah avokad kelas premium dengan harga Rp 50.000-Rp 70.000 per kilogram. Buah avokad cipedak masuk papan atas karena saat sudah masak, kulit buahnya mudah dikupas layaknya mengupas pisang. Dagingnya berwarna kuning mentega, pulen, agak gurih, tidak pahit, tidak berserat, dan “anti”-ulat.

Kejayaan Rizal seakan di luar nalar di tengah makin tersisihnya lahan pertanian di Ibu Kota. Lahan 1.000 meter persegi yang dijadikan kebun bibit pun bukan miliknya. Ia menyewa tanah itu per lima tahun. Seandainya tidak digunakan Rizal, mungkin lahan itu turut jadi rumah atau gedung.

Sebagai putra asli Jakarta, Rizal tidak rela warisan hayati kampungnya itu bernasib seperti tanaman mascot DKI, salak condet, yang kian tenggelam. Kata “cipedak” merujuk pada Kampung Cipedak di Kecamatan Jagakarsa, asal mula avokad tersebut. Tangan dingin almarhum Nisan Badar alias Pak Nicang melahirkan varietas unggul ini lewat teknik sambung pucuk pada decade 1990-an.

Lalu, avokad itu tersohor dengan nama lain. Seorang warga kampung ini, Jazuri alias Bang Jaxc, tidak ingin identitas geografis avokad itu hilang. Ia berupaya mendaftarkan avokad sebagai varietas asli Jakarta. Nama avokad cipedak pun resmi tercatat tahun 2015.

Namun, Rizal menyadari, penetapan nama resmi tidak lantas bisa melestarikan avokad cipedak. Ia memperkirakan pohon avokad cipedak di Jakarta kurang dari 1.000 pohon. Didorong dengan gerakan menanam avokad cipedak oleh Pemerintah Kota Jakarta Selatan pun jumlahnya baru bertambah 400-an pohon. Karena itu, Rizal ikut terjun memproduksi bibit avokad cipedak mulai 2015.

Cinta makhluk hidup

Jalan hidup bertani merupakan pengejawantahan kecintaan Rizal pada makhluk hidup. Ia semasa kecil hobi memelihara hewan. “Pelihara ayam sampai dibawa tidur, pelihara ikan sampai tidur dekat akuarium,” kata Rizal yang kini masih merawat seekor ular albino.

Saat di sekolah, ia menggemari pelajaran Biologi, terutama menghafal nama Latin berbagai jenis tanaman. Ia pun menyampaikan kepada keluarganya hendak bersekolah di sekolah menengah pertanian.

Orang-orang terdekat mempertanyakan kehendaknya. Namun, Rizal tetap kukuh sehingga mendapat restu kedua orangtuanya masuk Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Negeri DKI Jakarta (sekarang SMK Negeri 63 Jakarta) tahun 2003. Ia membuktikan kegigihannya sehingga selama tiga tahun di sana tidak membayar biaya pendidikan sepeser pun karena menerima beasiswa.

Tahun 2007, Rizal melanjutkan pendidikan ke Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Islam 45 (Unisma), Bekasi. Ia mendapat beasiswa selama berkuliah.

Rizal berkuliah sambil bekerja sebagai penyuluh pertanian Jakarta, dengan area kerja di Jakarta Utara. Berkarya sebagai penyuluh selama empat tahun membuat ia berpeluang besar menjadi calon aparatur sipil negara (ASN) DKI.

Namun, Rizal tidak puas jika ilmunya sejak sekolah menengah sekadar dimanfaatkan untuk mendapat pekerjaan nyaman. Tahun 2011, ia mengundurkan diri, lalu merintis bisnis pertanian.

Jalan terjal jadi menu pembuka bagi Rizal berwirausaha pertanian dalam kurun 2012-2012. Ia mengawali usahanya dengan menanam sayur-sayuran, seperti kangkung dan sawi. Namun, ia tidak mampu memasarkannya sehingga sayur hasil keringatnya terpaksa dijadikan kompos. “Ternyata, usaha saya saat itu baru tahap hobi, bukan bisnis,” ucapnya.

Kemudian, Rizal beralih mengajar kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah, termasuk mengajar Pramuka. Didi Muhadi, ayah Rizal, prihatin sehingga menantangnya. Jika Rizal masih punya hati untuk pertanian, Didi akan berhenti sebagai pegawai usaha mebel dan membantu Rizal bertanam. Niat ayahnya membuat Rizal makin tertantang dengan pertanian. Kini, dia membuktikan bahwa pengorbanan ayahnya tidak sia-sia.

Keberhasilan Rizal bertani di Jakarta tidak hanya membuat jumlah pelanggannya bertambah, tetapi juga makin banyak yang penasaran dengan kunci suksesnya. Ia sering jadi pembicara dalam diskusi atau pelatihan yang dihelat berbagai lembaga.

Mahasiswa yang praktik kerja lapangan (PKL) pun bukan hanya dari IPB University. Sejak wabah korona mulai menghantan, mahasiswa dari 13 universitas magang di kebun kecilnya. Ia membatasi paling banyak lima mahasiswa dalam satu waktu yang bisa PKL.

Rizal juga kerap mengadakan pelatihan sambung pucuk untuk memperbanyak bibit avokad di kebunnya. Selain itu, ia membagi beragam ilmu perbanyakan bibit avokad lewat kanal Youtube Insinyurtani TV.

Rizal tidak takut keterbukaannya itu meramaikan persaingan dalam bisnis bibit avokad. Sebab, peluang laten dari bisnis avokad masih besar. Ia mencontohkan, saat ini, satu orang Indonesia rata-rata baru mengonsumsi avokad sebanyak empat buah per tahun.

Kesenjangan itu jadi kesempatan untuk terus memopulerkan avokad cipedak. Tanpa perlu jadi pegawai negeri, Rizal mempersembahkan baktinya bagi Ibu Kota dengan berkutat di kebun.

Ahmad Fahrizal

Lahir: Jakarta, 5 November 1988

Pendidikan:

  • Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Negeri DKI Jakarta (2003-2005)
  • S-1 Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Islam 45, Bekasi (2007-2011)

Penghargaan, antara lain:

  • Pemenang IV Lomba Temu Karya Penas 2017 Aceh
  • Calon Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan 2021 Kementerian Pertanian

 

Sumber: Kompas, 27 Februari 2021