
Ai Nurhidayat mendatangkan sejumlah remaja dari 11 provinsi di Indonesia berlatar belakang budaya dan agama berbeda-beda ke Desa Cintakarya, Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Mereka lalu disekolahkan di SMK Bakti Karya Parigi dalam kelas multikultural dengan beasiswa penuh selama tiga tahun, asrama dan makan gratis, serta bebas biaya tiket pergi pulang.
Ingki Rinaldi
Ai merupakan Ketua Yayasan Darma Bakti Karya, yang menaungi sekolah tersebut. Ia berkeinginan mewujudukan peradaban toleran dan damai lewat pendidikan multikultural. Usianya 28 tahun, dan punya keberanian serta nyali untuk mewujudkan keinginannya itu.
Ini tahun ketiga Ai mewujudkan visinya. Tahun pertama, dia mengundang remaja-remaja korban konflik dari sejumlah daerah, seperti Aceh, Papua, dan Maluku. Tahun kedua, Ai melebarkan cakupan peserta didik berdasarkan sebaran wilayah domisili. Tahun ini, ia bakal fokus pada daerah-daerah pedalaman dengan rencana mengundang pelajar dari 50 kabupaten terpencil di Indonesia.
Konflik yang mengancam peradaban menjadi alasan beroperasinya sekolah itu. “Visi besarnya mewujudkan masyarakat toleran dan damai sebagai wujud (rahmat) bagi semesta alam. Artinya harus ada sistem pendidikan yang menghargai perbedaan, punya toleransi, dan semangat perdamaian,” kata Ai saat dijumpai dalam acara bertajuk “Ngobrol Publik” yang digelar jejaring ratusan komunitas pendidikan Pesta Pendidikan, Kamis (11/1), di Jakarta.
Setelah tiga tahun pertama, Ai menargetkan model sekolah tersebut direplikasi sekurangnya di 500 kabupaten di seluruh Indonesia, dengan pemerintah turut di dalamnya. Dia ingin mewujudkan jejaring pendidikan multikultural di setiap daerah untuk bersama-sama memahami Indonesia.
Tentang pemahaman mengenai Indonesia, Ai punya segudang kisah. Misalnya saja tatkala salah seorang peserta didik dari Papua yang menceritakan kisah dengan dua bahasa, dalam bahasa ibunya dan bahasa Indonesia.
Pada saat kisah itu disampaikan dalam bahasa aslinya, banyak orang-orang yang tertawa-tawa menyusul dialek, intonasi, dan ucapan salam yang dianggap lucu menyusul sejumlah prasangka. Saat kisah itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, semua orang terdiam, bahkan ada yang menangis.
Kisah itu ternyata berisikan harapan terdalam agar tak terjadi lagi konflik antarsuku yang membuat kaum kerabat sang pencerita terhujam anak panah. Apalagi saat mengetahui arti ucapan salam, yang sebelumnya ditertawakan, ternyata merupakan penghormatan tertinggi bagi orang-orang yang hadir. “Wah, itu kayak terapi (kejut) buat yang dengerin,” ujar Ai yang sejak lulus SD langsung mondok di pesantren.
Di SMK Bakti Karya Parigi tidak pernah ada siswa yang diberhentikan. “Kita tidak boleh membuat orang gagal karena metode yang kita buat. Targetnya bukan standarisasi, melainkan agar bisa hidup bareng dan tertawa bareng,” ujar Ai.
Jenjang SMK dipilih karena kaum orangtua dinilai sudah lebih siap melepas anak-anak mereka tinggal berjauhan. “Selain itu, SMK itu, kan, jenjang akhir masa belajar bersama banyak hal. Tinggal kita sisipkan (materi) toleransi aja,” katanya. Selain kelas multikultural dalam sekolah dengan program kejuruan multimedia itu, ada pula kelas profesi.
Hadapi tentangan
Untuk mewujudkan cita-cita itu, Ai menghadapi banyak tentangan. Dia pun berkeliling mengunjungi rumah-rumah tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda untuk menepis sejumlah dugaan negatif.
Tuduhan menyelenggarakan aliran sesat hingga simpatisan gerakan fundamentalis adalah sebagian di antaranya. Bahkan, dia pernah diminta memberikan klarifikasi di hadapan pemimpin dan pejabat pemerintah kabupaten dengan masa yang hadir bersama tuduhan menyebabkan keresahan masyarakat.
Tuduhan itu dipatahkan. Sejumlah warga desa, berikut kepala desa tempat sekolah itu beroperasi, bersaksi hanya kegiatan positing yang diselenggarakan Ai dan rekan-rekannya. Dia juga menepis tuduhan soal pendanaan yang sebenarnya berasal dari sumbangan public lewat beragam mekanisme crowd funding.
Selain itu, setidaknya tiga kali terjadi upaya pemindahan aktivitas belajar oleh pihak yang diduga karena tidak menyetujui praktik keragaman di sekolah tersebut. Upaya-upaya itu bisa digagalkan.
Dukungan keluarga
Keberanian Ai mewujudkan pendidikan multikultural pada satu titik juga memengaruhi keluarganya. “Bapak saya seumur hidup tidak pernah ngeluh, cuma suatu kali saat mau jemput siswa angkatan kedua, Bapak pernah mengeluh,” sebut Ai. Dia baru saja mundur dari pekerjaan terakhirnya untuk fokus pada pengelolaan sekolah.
Pihak keluarga malah memutuskan untuk mewakafkan tanah seluas 3.669 meter persegi sebagai pusat aktivitas sekolah, yang sebelumnya hanya sekedar dipinjamkan. Orang tuanya membiarkan rumah mereka menjadi asrama putri. Sementara mereka sendiri malah tinggal di Gudang bekas penyimpanan mesin pengolah tepung beras dan jagung milik keluarga.
Sosok bapak, bagi Ai, merupakan orang yang selalu memancing untuk mempertanyakan sesuatu sejak usia dini. Ai didorong sejak kecil untuk mengaji dengan metode sorogan. Metode itu merupakan bimbingan khusus secara individual atau kitab literatir dan referensi dalam bahasa Arab klasik mengenai berbagai bidang studi Islam.
Dalam fase berikutnya, Ai banyak bergumul dengan karya-karya ilmiah di dunia kampus. Ia adalah kutu buku yang tidur bersama buku-buku dan bersemangat mewujudkan ide-ide di dalamnya.
Hampir seluruh spektrum keilmuan dan pemikiran dibacanya. Pemikiran-pemikiran Nurcholish Madjid, HOS Tjokoraminoto, Soekarno, Tan Malaka, Adam Smith, Theodor Adorno, Jurgen Habermas, Francis Fukuyama, dan Samuel Huntington adalah beberapa di antara banyak pemikiran yang dijelajahinya.
Semasa tokoh pendidikan Utomo Dananjaya hidup, Ai bahkan kerap berinteraksi dan bertukar gagasan secara langsung, Ai menyebut salah seorang pendiri Universitas Paramadina itu sebagai guru ideologisnya.
Ai Nurhidayat
Lahir: Ciamis, 22 Juli 1989
Istri: Harumi Diah Wijayanti
Ibu: Yuhanan
Bapak: Dayat
Pendidikan:
- SDN 1 Cintaratu (2001)
- MTs Darussalam Ciamis (2004)
- SMA Plus Darussalam Ciamis (2007)
- Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah Jakarta (2007-2008)
- Universitas Paramadina (2012)
- Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (2013)
Pekerjaan, antara lain:
- Kepala Program Multimedia SMK Bakti Karya
- Ketua Yayasan Darma Bakti Karya
Penghargaan:
- Film Terpuji pada Ajang Gotrasawala Ethnographic Film Festival 2014
- OKP Terbaik Jawa Barat Kategori Lingkungan Hidup 2015
- Juara 1 OKP berbasis komunitas tingkat nasional 2015
Sumber: Kompas, 18 Januari 2018
