Hari Gizi Nasional yang diperingati Senin lalu (25/1) mengangkat tema Remaja Sehat Bebas Anemia. Sepenting apa status gizi anak muda, sehingga sampai harus menjadi perhatian utama tahun ini? Dan remaja mengapa rentan mengalami anemia?
RASANYA, zaman sekarang. sudah jarang kita menemukan Cremaja yang kekurangan gizi. Terutama di kalangan mongenang ke atas di kota besar. Seperti di Jakarta dan Surabaya. Saat ini makanan berlimpah ruah dan sangat mudah didapat. Tinggal pesan di aplikasi delivery, makanan tinggal diantar. Murah dan praktis.
Namun, karena itu, remaja saat ini mungkin mengalami kekurangan gizi. Sebab, umumnya, yang lebih banyak dikonsumsi adalah junk food atau makanan ringan. Tren makanan kokinian silih berganti, dan semua menggiurkan. Mulai dari dessert box, bomboloni, cream cheese garlic bread ala Korea, hingga yang saat ini lagi populer, corn dog. Alias sosis yang dibungkus tepung dan digoreng.
“Umum, makanan-makanan tersebut tinggi garam, gula, dan lemak saja. Zat gizi lainnya nggak ada,” kata Mochamad Rizal, S.Gz, ahli gizi, dalam sesi Instagram live Hari Gizi Nasional Senin lalu. “Padahal, remaja membutuhkan gizi optimal agar perkembangan dan fungsi-fungsi tubuh berjalan optimal juga,” imbuhnya.
Penuhi Gizi Optimal Rizal kemudian menjelaskan makna gizi optimal. Simpelnya, kebutuhan gizi tercukupi. Tidak kurang dan tidak lebih. Optimal bisa dibagi menjadi dua. Yaitu secara kuantitas dan kualitas. Optimal secara kuantitas bisa dibagi lagi. Menjadi kuantitas fisik dan kuantitas psikis.
Kuantitas fisik, kata Rizal, berhubungan erat dengan kebutuhan energi kita sehari-hari. Setiap orang dengan berat badan dan kegiatan normal, rata-rata membutuhkan 1.800 kilo kalori. Beda ceritanya kalau dia atlet, atau harus helakukan kegiatan fisik yang banyak. ebutuhan kalorinya tentu lebih besar.
Nah, kalau kita, biasanya butuh supan sekitar 1.500 sampai 1.800,” alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga itu. Jah, kuantitas secara psikis, itu terkait dengan banyak kita sudah merasa ukup makan. Biasanya ditandai dengan perut kenyang. Menurut Rizal, lambung idak boleh disi full makanan., sanya 1/3 saja yang berisi makanan. Lalu yang 1/3 lagi air, dan sisanya adalah dara. “Jadi kalau dibilang, 80 persen kenyang aja, cukup. Soalnya kalau sekennyangan ngantuk,” ujarnya.
Sedangkan secara optimal, lebih simpel lagi. Jika seluruh zat gizi secara makro maupun mikro terpenuhi. Zat gizi makro berperan dalam pertumbuhan, perkembangan, dan memastikan fungsi ubuh berjalan normal. Yaitu karbodrat, protein, dan mineral Zat gizi mikro, di sisi ain, berfungsi mencegah penyakit. Dan adi pendukung proses produksi maupun metabolisme. Yang termasuk zat aizi mikro adalah vitamin dan mineral. Mengapa gizi optimal membuat remaja sangat penting? Pertama, kata Rizal, dari segi kuantitas. Jumlah kalori yang tepat akan menentukan status gizi Kalau status gizi oke, maka akan berefek ke banyak hal.
“Berat badan pas. Badan juga rasanya lebih berenergi. Efeknya, kita bisa menjalankan berbagai aktivitas dengan lancar dan segar,” tutur Rizal. “Apalagi generasi milenial ini kan banyak kegiatan. Kita ini menghasilkan kerja. Terpenuhinya kebutuhan gizi bikin kita produktif. Tidak mager (malas gerak, Red),” lanjut dia.
Yang kedua, tentang kualitas. Ini sangat terkait dengan kesehatan dasar kita. Terpenuhinya zat-zat mikronutrien seperti vitamin dan mineral ternyata besar. Rizal contoh memberi zat besi. Kalau tubuh kekurangan jenis mineral yang satu ini, kita bakal mengalami anemia. Gejalanya, lemah, letih, lesu, daya tahan tubuh menurun.
Kadang disertai daya konsentrasi yang monurun. “Malah dampak jangka panjangnya, kalau cewek, saat hamil dan melahirkan bisa mongalami perdarahan. Dampaknya, angka kematian ibu tinggi. Anaknya kalau lahir juga kurang sehat,” papar Rizal. “Kalau mau bicara skala yang lebih besar, anemia ini bisa mempengaruhi kualitas manusia Indonesia,” tambah penulis buku Diet Garis Lurus itu.
Awas Diet Ketat Saat ini, ada tiga fenomena yang terjadi pada anak muda. Pertama, terlalu banyak disajikan sajian kekinian. “Lagi nugas, pesen pentol, pesen fast food. Apalagi sekolah online di rumah. Tambah kenceng ngemilnya,” kata Rizal. Penumpukan gula, garam, dan lemak berlebih akan memicu obesitas. Dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Kedua, kalau merasa kelebihan berat badan, bakal mengatasinya dengan diet ketat. Harapannya instan pula. Ingin turun 10 kg, misalnya, dalam sebulan. Akhirya, mencoba metode ekstrem. Seperti, tidak makan karbohidrat sama sekali, tidak makan gula dan garam, sampai mengonsumsi pil diet. Yang tidak jelas apa kandungannya. Hasilnya, kurang gizi lagi.
Ada dua dampak yang mengancam pelaku diet yang tidak tepat. Yakni, akut dan kronis. Yang akut bisa langsung dirasakan dalam waktu dekat. Gizi tidak optimal menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, antara lain, lemas dan keram otot. “Tidur malem tiba-tiba kebangun jam 3 pagi, gara-gara kaki kram. Ternyata kurang kalium dan natrium,” Rizal memberi contoh.
Efek lain yang bisa dirasakan, antara lain, dehidrasi, pusing, lapar berlebihan, serta mudah sakit karena imun turun. Kadang-kadang juga disertai efek samping akibat kurang serat, serta rambut rontok yang disebabkan oleh kurangnya asupan zinc dan protein. Untuk perempuan, ada kalanya siklus menstruasi menjadi tidak lancar.
Sedangkan dampak kronis lebih berbahaya. Gizi tidak optimal, jika dibiarkan akan menyebabkan gagal ginjal, gangguan hati, dan Problem ketiga, kurang aktivitas fisik. Harus diakui, generasi saat ini adalah generasi rebahan. Internet cepat, berlimpah berlimpah, klop sudah. Kalau tugas atau pekerjaan kelar, yang dilakukan adalah maraton drakor atau main game online. Mau ke mana-mana naik kendaraan. Semakin sedikit lah gerak badan kita.
Aktivitas Fisik Tugas orang tua lah yang mengawasi asupan makanan buah hati. Jika memang sangat suka jajan, pastikan uinbangi dengan serat berupa sayur dan semak. Juga protein. Rizal mengatakan, protein yang dibutuhkan remaja, sedilutnya dua sampai tiga potong per makan. Ini tidak terbatas pada daging. Tahu tempe pun bisa jadi sumber protein. Sedangkan sayur antara tiga sampai lima porsi sehari. “Jadi, pastikan itu tersedia di rumah,” ucapnya.
Ingatkan juga mereka untuk melakukan aktivitas fisik. Sebab, meski pola makan sudah benar, tapi jika kurang gerak badan, tubuh jadi tidak bugar. Bugar adalah kondisi di mana kita bisa melakukan aktivitas sehari2 tanpa merasa lelah secara berlebihan. Nah, latihan erat dengan kebugaran. Olahraga membuat tubuh kita kuat dan berenergi.
Apakah ada hubungannya dengan gizi yang optimal? Tentu. Olahraga akan membuat fungsi-fungsi tubuh berjalan lancar. Termasuk fungsi kardiovaskular atau jantung. Organ ini bortugas seluruh darah dan zat-zat gizi ke tubuh.
“Misalnya, makanan kita sudah bagus. Sudah komplet. Mengandung serat, ada protein, dan mineral. Tapi jantung, sebagai selang untuk mengedarkan zat makanan ini mampet, ya sama aja. Zat gizi tidak terdistribusi dengan baik,” papar Rizal. “Nah untuk bikin selang itu berfungsi dengan baik, perlu dibantu olahraga,” (Retna Christa)
Sumber: DI’S Way.27 Januari 2021.Hal.42-43

