SURABAYA – Pencegahan stunting harus terus dilakukan demi menjaga masa depan generasi penerus. Pencegahan kegagalan tumbuh kembang akibat kekurangan gizi itu bisa dilakukan sejak ibu baru mengandung. Bukan hanya saat anak sudah dilahirkan.

’’Jadi, memang harus dari hulu ke hilir. Bukan hanya saat hilir,’’ ucap Kepala Puskesmas Made Endang Susilowati.

Kemarin (14/9) ibu-ibu hamil muda diundang untuk memeriksakan kondisi mereka ke Puskesmas Made, Kecamatan Sambikerep. Sebanyak 20 ibu hamil (bumil) hadir untuk diperiksa kondisi awalnya. Dinilai dari berat badan dan lingkar lengan. Perbandingan perubahan berat badan dengan usia kehamilan juga harus rutin dipantau. ’’Untuk pemeriksaan awal, kami lihat dari ukuran lengan. Kalau kurang dari 23,5 sentimeter (cm), perlu waspada ibu hamil terlalu kurus,’’ tutur dr Charles Salmon Siahaan SpOG.

Jika kurang dari angka tersebut, ibu hamil diambil darahnya untuk diperiksa kondisinya lebih dalam. Apakah mengalami anemia atau tidak. Pemeriksaan tersebut kemudian diikuti dengan pemberian asupan multivitamin, susu, dan makanan tambahan. Hal tersebut dilakukan supaya stunting bisa dicegah sejak ibu masih mengandung.

Sementara itu, untuk anak yang mengalami stunting, penanganannya berbeda. Mereka dilihat berat dan tinggi tubuhnya. Sejak pandemi, memang pemeriksaan langsung jadi menurun. Pelayanan yang dilakukan door-to-door tak semaksimal jika posyandu dibuka terus-menerus. ’’Jika dilihat, sebenarnya tidak ada anak stunting. Hanya, yang menuju stunting ini yang perlu kita waspadai,’’ tutur Endang.

Selain pemeriksaan awal, penanganan selanjutnya adalah pendampingan hingga 3–5 bulan ke depan. Di dalamnya bisa dilihat juga kemampuan motorik dan bicara. ’’Ini termasuk program Dinkes Surabaya menggandeng civitas academica dengan jurusan kedokteran,’’ jelas Endang.

Dekan FK Universitas Ciputra Hudi Winarso dr SpAnd menyatakan bahwa pihaknya membantu edukasi dan pemeriksaan berkelanjutan sesuai dengan kasus warga yang ditangani. ’’Sebab, dinamika stunting ini beragam. Ada yang karena tidak tahu atau ada yang karena kondisi ekonomi,’’ paparnya. Oleh karena itu, edukasi harus jadi tombak utama untuk menyelamatkan generasi penerus.

 

Sumber: Jawa Pos. 15 September 2021.