Ahdia Sunarya Ganda (61) dan rekan-rekannya sesama pehobi renang membentuk Krakatau Fin Swimming. Mereka berenang sambil membersihkan sampah Pulau Merak Kecil dan laut sekitarnya. Wisatawan, pemancing, dan warga setempat yang beraktivitas di pulau itu pun diajak untuk menjaga kebersihan.

Sekitar 20 orang melakukan pemanasan di Pantai Merak Beach Hotel, Kota Cilegon, Banten, pertengahan November 2017. Seusai peregangan selama 5 menit, mereka yang tergabung dalam Krakatau Fin Swimming (KFS) itu berkumpul membentuk lingkaran. Pada pagi yang cerah itu, mereka beranjak menuju pantai dan berenang menuju Pulau Merak Kecil dengan jarak 1,5 kilometer.

Mereka memasukan sampah ke dalam kantong plastik yang tersambung dengan pelampung. Setibanya di Pulau Merak Kecil, mereka kembali memungut sampah. Dedaunan, kertas bekas, dan kemasan makanan dikumpulkan di bak semen, lalu dibakar. Sementara itu, sampah plastik dan kaca dibawa kembali ke Cilegon.

“Kami membawa sampah kaca karena khawatir melukai pengunjung pulau itu. Sampah plastik juga dibawa karena membutuhkan waktu lama untuk terurai,” kata Ahdia. Mereka yang berminat memungut sampah-sampah itu untuk dijual dipersilakan untuk memanfaatkannya.

“Yang pasti, kalau sudah di Cilegon ada petugas kebersihan sehingga sampah bisa dibuang dengan benar,” ujar Ahdia. Setelah membakar sampah, para anggota KFS mengaso sambil menyantap penganan dan bersendan gurau.

Di Pulau Merak Kecil terlihat 10 tempat sampah sumbangan KFS dan para pendukungnya. Di pulau itu juga terdapat papan dengan tulisan yang mengingatkan pengunjung untuk tidak membuang sampah sembarangan. Berkat KFS, Pulau Merak Kecil kain berish dan rapi.

Wisatawan pun semakin ramai. Penyewa perahu dan ban untuk wisatawan yang berenang berdatangan, penggila renang dengan bermacam profesi bergabung dengan KFS, seperti mahasiswa, pelajar sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, pengusaha, dan pegawai negeri sipil.

“Kami berenang dan memungut sampah secara sukarela. Hanya ingin sehat dan menjaga kebersihan bersama-sama,” ucap Ahdia. Bersama sekitar 10 rekannya, Ahdia yang saat ini menjabat sebagai ketua KFS membentuk komunitas yang berdiri pada 15 September 2011 tersebut. Kini, KFS beranggotakan sekitar 70 orang.

Berbagai sampah yang mereka dapatkan, seperti botol kaca, pohon, kaleng, gelas plastik, pamper, kursi, dan kasur kapuk. “Kami juga pernah menemukan pohon ketapang yang hanyut,” kata Ahdia.

Para anggota KFS harus menyeret pohon dengan tinggi 5 meter dan diameter 70 sentimeter itu beramai-ramai ke Pulau Merak Kecil. Selain membersihkan sampah, mereka juga mengimbau warga setempat, pemancing, dan wisatawan untuk menjaga kelestarian terumbu karang di sekitar Pulau Merak Kecil.

“Terumbu karang yang patah perlu waktu lama untuk tumbuh. Kami meminta pengunjung untuk tak mendekati terumbu karang tersebut,”kata Ahdia. Terjaganya kebersihan lingkungan juga ditunjang edukasi kepada warga setempat yang mencari nafkah di Pulau Merak Kecil. “Kami minta penyewa perahu menugmpulkan sampah dan membawanya saat pulang sehingga kebersihan Pulau Merak Kecil terjaga,” kata Ahdia.

Saat ombak cukup besar pun, KFS tetap beraktivitas, tentu sambil tetap berpegang pada asas kehati-hatian. Anggota KFS wajib memakai pelampung, kacamata, dan pakaian renang. “Tetapi, kalau cuaca benar-benar ekstrem dan berbahaya, kami tidak berenang dulu hingga situasi aman,” ucapnya.

Mereka yang bergabung dengan KFS dilatih dulu di kolam renang. Biasanya, latihan diadakan di Krakatau Sport Club, Cilegon. “Latihan paling ramai ialah setiap Selasa dan Kamis. Sejak pukul 16:30 sudah ada anggota KFS yang datang,” ucapnya.

Mereka mulai masuk kolam renang sekitar pukul 17:00 dan berlatih selama 1,5 jam hingga 3 jam. “Anggota KFS tidak datang bersamaan. Kalau masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, bisa datang belakangan,” katanya.

Sejak dini

Disiplin menjaga kebersihan yang mendorong Ahdia membentuk KFS sudah tertanam dalam benaknya sejak usia dini. Semasa kecil di Bandung, Jawa Barat, Ahdia sudah dibiasakan orangtuanya untuk membersihkan rumput di pekarangan, menyapu, dan mengepel.

Dia sungguh-sungguh mengimplementasikan prinsip kebersihan sebagian dari iman, Ahdia diterima sebagai karyawan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan bermukim di Cilegon sejak tahun 1976. Ketertarikan Ahdia terhadap renang tumbuh saat melihat keindahan beberapa pantai di Banten.

Pada tahun 2000, saat cek kesehatan, Ahdia disarankan berenang secara teratur. Ahdia kemudian rutin datang ke kolam renang. “Lalu, ada anggota Marinir yang mendorong saya untuk berenang di laut. Sejak itu, berenang sudah menjadi hobi saya,” ucapnya.

Ahdia dan beberapa kawannya pun berekreasi untuk menyalurkan hobi mereka dengan berenang di sekitar pembangkit listrik tenaga uap di Cilegon. “Lama-lama, saya pikir, kalau sekadar berenang, tidak ada kebersamaan. Kurang mantap. Maka, kami membentuk KFS. Kesempatan bersama saja,” ucap Ahdia.

Bertukar pikiran menimbulkan kesadaran mereka untuk berenang tak hanya sebagai hobi, tetapi juga berbuat lebih demi kebersihan lingkungan. “Selain sehat, Pulau Merak Kecil dan laut sektiarnya juga bersih. Banyak anggota KFS berasal dari luar kota Cilegon, bahkan provinsi lain,” katanya.

Rani Acoen (40), misalnya, anggota KFS, bersama sang suami, M Subur (40), datang setiap dua pekan ke Cilegon. Pasang itu rela menempuh jarak sekitar 150 km dari rumahnya di Desa Cirimekar, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ke Cilegon.

“Kami menginap di Cilegon. Tetapi, bisa juga pergi pulang,” ucapnya, Rani dan suaminya hobi berenang. Mereka lebih semangat menjadi anggota KFS karena komunitas itu juga membersihkan sampah.

Ketertarikan mereka bergabung dengan KFS berawal saat menginap di hotel berpantai di Cilegon pada 2015. “Kami tanya, ‘apakah bisa bergabung’ dan dibolehkan. Minggu selanjutnya, kami bawa peralatan dan menjadi anggota KFS,” kata Rani.

Kini, Ahdia dan rekan-rekannya masih memiliki impian untuk membeli perahu bermesin agar mereka kian aman berenang. Rencana itu diharapkan terrealisasi pada tahun 2018. “Kalau kami punya perahu, tentu berenang semakin aman, terutama bagi anggota-anggota baru,” katanya.

Sumber: Kompas/28 Desember 2017/Hal 16