
Tak Sekedar Skill
MENGUPAS bawang hampir dilakukan Alesya Firmawan Panghegar (21) setiap hari. Meski sebenarnya ia tidak diperbolehkan mamanya membantu di dapur.
“Mama itu nggak tega melihat saya bantu ngupasin bawang soalnya sampe nangis gitu, tetapi saya tau mama sebenarnya seneng karena support sekali anaknya suka memasak,” katanya.
Perempuan yang akrab disapa Echa itu menganggap, memasak tidak hanya sekadar skill dan teknik tetapi bercerita dengan hasil makanan yang dimasak. “Seperti apa filosofinya dan kenapa memilih untuk masak makanan itu,” ujar perempuan asal Surabaya ini.
Tak hanya gemar masak, ia juga punya jiwa bisnis sejak kecil. Saat duduk dibangku SD maupun SMP di Santa Maria Surabaya. Echa membual berbagai jenis minuman dan makanan di sekolah secara diam-diam.
“Saya berjualan es doger, sate babi, dan lain-lain tetapi diem-diem di kelas.
Tak Sekedar
gara-gara peraturan sekolah yang sebenernya siswa tidak boleh jualan,” kata perempuan berzodiak Aquarius ini.
Sampai akhirnya, ia benar-benar harus berhenti jualan karena ada yang lapor. “Hal itu yang membuat saya masuk ke ruangan BK,” imbuhnya.
Merasa enjoy
Terlahir di keluarga yang mempunyai bisnis kuliner bernama Poenya Nyonya Anina, mengharuskan diri untuk dapat meneruskan bisnis keluarganya. Itu karena dia satu-satunya harapan keluarga.
Echa merasa enjoy berkuliah di Culinary Business Universitas Ciputra Surabaya, karena studinya ini mampu membantunya dalam mengembangkan bisnis keluarga.
“Saya sekarang bisa mengelola operasional dan manajemen, kebetulan banyak terbantu dengan kuliah. Saya sering mendapat solusi dari situ,” imbuhnya.
Menurutnya, yang paling penting pada bisnis kuliner adalah membangun fondasi yang kuat dulu. “Kalau fondasi sudah kokoh, baru pakai sistem ‘copy paste’ hingga mempunyai cabang di luar Surabaya. Intinya menguasai area Surabaya dulu baru ke kota lain,” tandas Echa (zia)
