Arjuna Wayang Orang RRI Solo. Kompas.2 Mei 2015.Hal.16

Penulis            : Erwin Edhi Prasetya

Sosok Arjuna seketika dirasakannya meresap dalam diri saat kaki mulai melangkah di atas panggung. Semangat hidupnya menyala-nyala. Inilah yang dirasakan Ali Marsudi (48), “Arjuna” Wayang Orang Radio Republik Indonesia Surakarta setiap kali pentas wayang orang.

                 Ali merupakan seniman wayang orang senior di kelompok Wayang Orang RRI Surakarta. Selain pemain, ia juga sutradara, dan aktif memotori geliat pertunjukan wayang orang di Solo. Hidupnya didedikasikan untuk wayang orang.

Ali mengaku meraskan gairah hidup yang sesungguhnya ketika pentas, entah memerankan Arjuna, Karna, Abimanyu, ataupun Kresna. “Ketika mulai manggung langsung merasa mantap dan kepercayaan diri naik. Ada kontemplasi kepada Sang Pencipta. Bagi saya itulah hidup yang sesungguhnya,” katanya.

Di jagat wayang orang, Ali lebih dikenal sebagai pemain alusan, karena ia spesialis pemeran Arjuma, tokoh wayang yang dikenal alus  (halus) ucapan dan perilakunya. Tapi, sesekali ia juga memerankan Kresna, Abimanyu, dan Karna.

Arjuna adalah tokoh wayang idola Ali. Dalam pewayangan, Arjuna merupakan sosok ksatria sempurna secara fisik, sakti, dan memiliki ilmu kebatinan yang paripurna. Karena itulah, ayah dua anak ini begitu menjiwai Arjuna. “Arjuna itu wong yang tanpa cacat. Kebetulan sering memerankan Arjuna dan rasanya paling pas memerankannya,” katanya.

Memerankan tokoh berbeda dirasakannya tetap memiliki daya tarik sendiri. Paling menantang ketika ia memerankan tokoh antagonis, seperti Karna. “Memerankan Kresna bisa lebih ekspresif. Tapi tokoh antagonis lebih asyik,” ujarnya.

Ali teguh bergelut dalam dunia wayang orang, bukan semata-mata untuk kepuasan batinnya, tetapi juga demi menjaga kelestarian dan eksistensi seni ini di masa depan. Untuk menjaga kesenian ini tetap hidup, menurut Ali, pentas wayang orang jarus rutin digelar dengan wadah pertunjukan apapun. Baginya akan lebih istimewa jika pentas wayang orang dibuat meriah, megah, dan melibatkan banyak pemain.

Pada November 2014 lalu, Ali memimpin rekan-rekannya di RRI Surakarta menggelar perhelatan akbar wayang orang bertajuk Wayang Orang Seribu Bintang (Wosbi) II. Wosbi II digelar setelah sukses menyelenggarakan Wosbi I 2011.

Ali menjadi ketua panitia ajang Wosbi II yang diikuti 18 sanggar atau kelompok wayang orang dari berbagai daerah. Gelaran Wosbi II di auditorium RRI Solo, ternyata sukses digelar. Ribuan penggemar berbondong menyaksikan pergelaran itu.

“Wosbi bukan semata pergelaran yang menampilkan banyak seniman dari berbagai sanggar seni. Wosbi diharapkan akan bisa mencetak ribuan bintang wayang orang berikutnya. Karena itulah dinamakan wayang orang seribu binatang,” tuturnya.

Untuk tujuan itu, Ali bertekad kembali menggelar Wosbi-Wosbi berikut bersama rekan-rekannya. Menjadikan Wosbi sebagai pemantik regenerasi pemain wayang orang. Cara ini dinilainya mulai membuahkan hasil. Buktinya, puluhan anak dan remaja dari sejumlah sanggar seni turut unjuk gigi bermain wayang orang.

Pergulatan hidup di dunia wayang orang ditapakinya serius selepas lulus dari Jurusan Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta (sekarang Institut Seni Indonesia Surakarta). Ia ikut tampil dalam pementasan kelompok wayang orang di Solo, diantaranya Wayang Orang Sriwedari.

Pada November 2000, Ali diangkat menjadi PNS di bawah Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata dan di tugaskan di RRI Surakarta di bagian kesenian. Sejak itu, kiprahnya dalam aktivitas berkesenian wayang orang semakin mendalam. “Saya betul-betul aktif bermain wayang pada 2000 itu karena memang pekerjaan saya bermain wayang,” katanya.

Tahun 2012, Ali bergabung pada paguyuban seni wayang orang Sekar Budaya Nusantara yang dipimpin Nani Soedarsono. Di sekar Budaya Nusantara, ia sering didapuk memerankan sosok Arjuna. Ali merasa Sekar Budaya Nusantara telah membesarkannya.

Lebih kurang 50-an lakon wayang orang berbagai episode seperti Ramayana, Mahabaratha, dan Bharatayudha, telah diproduksi Sekar Budaya Nusantara untuk siaran TVRI. Ia terlibat aktif dalam setiap pementasan di setiap tahunnya hingga tahun 2010.

Kecintaan pada wayang orang mendorongnya mendirikan Sanggar Nareswari tahun 2002. Sanggar ini menjadi Griya Budaya Titah Nareswari tahun 2007 yang menguatkan kontribusinya pada dunia seni wayang orang. Tidak hanya wayang orang, Ali juga tampil rutin dalam pementasan ketoprak yang digelar di RRI Surakarta. Ali juga rutin diminta manggung bersama sanggar-sanggar wayang orang di luar Solo.

Sejak 2007, ia tergabung dalam tim sutradara di LPP RRI Surakarta, baik menyutradarai wayang orang maupun ketoprak. Pemerintah Kota Solo juga memberi kepercayaan kepadanya. Saat HUT Kota Solo 2014, Ali menyutradarai pergelaran wayang orang di jalanan “Solo Carnival” dengan lakon “Darmaning Satria”. Saat itu Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo turut tampil.

Ali mengatakan, wayang orang harus terus dikenalkan kepada generasi muda, sejak dari anak-anak untuk menjaga kelestarian seni tradisi ini. Selain pentingnya regenerasi pemain, penting pula regenerasi penonton. Tanpa penonton, wayang orang perlahan tapi pasti akan mati. “Untuk bisa tetap bertahan, wayang orang harus mendekat kepada publik,” ujarnya.

Guna mendekatkan wayang orang kepada masyarakat, bersama Kelompok Wayang Orang RRI, Ali menjadi ketua panitia menyelenggarakan kegiatan “Njajah Desa Milang Kori”. Ini merupakan kegiatan pentas wayang orang ke desa-desa. Pentas antara lain diadakan di Desa Kemuning, Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, dan Desa Pengging, Boyolali, Jawa Tengah.

“Wayang itu tidak hanya tontonan tapi juga tuntunan. Ada pelajaran hidup yang bisa dipetik karena wayang adalah cermin kehidupan nyata. Wayang mencerminkan tentang peperangan, percintaan, konflik antara baik dan buruk,” katanya.

 

Ali Marsudi

Lahir                      : Blora, Jawa Tengah, 5 April 1967

Isrti                        : Hendawati (45)

Anak                      : Jlamprong Sujiwangga Widagdo (17)

Prajwalita Nareswari Titah Ramadhani (14)

Pendidikan         : –  1980 SD Negeri Tutup 1, Tunjungan, Blora, Jawa Tengah

  • 1983 SMP Adi Sucipto Blora, Jawa Tengah
  • 1986 SMA Negeri 1 Blora, Jawa Tengah
  • 1997 Jurusan Tari (S-1) STSI Surakarta – Jawa Tengah (ISI Surakarta). Mendapat penghargaan sebagai lulusan terbaik untuk jurusan Tari Tahun 1997

Pekerjaan`          : PNS bertugas di RRI Surakarta

Duta Seni             : –  Perancis – bersama Wayang Orang Indonesia Pusaka (2012)

  • Thailand – Ramayana Internasional Festival – bersama Sekar Budaya Nusantara (2011)
  • Singapura – bersama Puro Mangkunegaraan Surakarta (2011)
  • Australia – bersama Wayang Orang Indonesia Pusaka di Sydney Opera House, Australia (2010)
  • India – bersama Sekar Budaya Nusantara (2005)
  • Inggris – bersama Sunarno Purwalelana, Surakarta (2002)
  • Belanda – bersama Deddy Dance Company Jakarta (2001)

Sumber: Kompas, Sabtu, 2 Mei 2015