Alumni Universitas Ciputra dan Universitas Negeri Surabaya Pencetus Garuda Futsal League (GFL)

10 November 2025

Liga Gratis, Pemain Terbaik Ikut Latihan di Klub Futsal Profesional

LIMA alumnus itu adalah Muhammad Akhva Aulia Nusantara, Muhammad Lazuardi Firdausa, Andhika Putra Firmansyah, Daffa Nushshar Ardhastya dari Universitas Ciputra (UC), dan Muhammad Lukman Hakim dari Unesa. Mereka menyatukan mimpi untuk menghadirkan liga futsal yang tidak hanya kompetitif, tapi juga berkelanjutan, serta berpihak pada pelajar.

“Kami ingin membuat liga yang bukan cuma kompetisi, tapi juga punya value sosial,” ujar Akhva.

Lewat GFL, mereka memutar konsep futsal menjadi wadah pembinaan. Setiap seri pesertanya mencapai 24 sekolah. Semua tim mendapatkan jersey gratis, tak perlu membayar biayapendaftaran, bahkan punya peluang dilirik tim profesional. “Pemain terbaik dari tiap series kami rekomendasikan untuk ikut training camp di klub profesional atau seleksi Pra-PON,” ucap Akhva.

Sejak dihelat kali pertama di Surabaya, lalu berlanjut ke Malang, dan Jogjakarta, GFL berhasil mengantarkan sejumlah pemain muda menjajal pelatihan atau trial di klub Pro Futsal League Indonesia, seperti tim langganan juara Bintang Timur Surabaya (BTS), Unggul FC Malang, hingga tim-tim Porprov. GFL bukan sekadar turnamen, tapi jembatan mimpi bagi anak-anak SMA yang ingin menapak di dunia futsal profesional.

Mereka tak hanya memikirkan jenjang karir pemain. Harga tiket juga dirancang terjangkau agar tak membuat kantong pelajar bolong. Tiket penonton dibanderol hanya Rp 5.000-Rp 10.000.

Di akhir kompetisi, GFL menyuguhkan partai final yang dikonsep sportainment. Mereka memadukan olahraga dengan konser musik sebagai hiburan. Salah satu band bintang tamu yaitu Guyon Waton. “Kami ingin GFL menjadi ajang futsal yang punya hiburan, edukasi, dan ruang tumbuh bersama,” terang Akhva.

Di balik kesuksesan liga futsal itu, ada sosok yang kini berjuang melawan penyakit, yaitu Muhammad Lazuardi Firdausa. Perannya sangat vital. Dia bertugas membuat sistem pertandingan GFL. Meski beraktivitas di atas kursi roda, semangatnya tak pernah padam. “Selama bisa komunikasi, aku tetap bantu ngerjain dari rumah sakit,” ujar Lazuardi lewat pesan singkat pada rekan-rekannya.

Ketika Lazuardi menjalani perawatan, teman-temannya berbagi tugas agar event tetap berjalan. Sementara, setiap pengambilan keputusan, Lazuardi tetap dilibatkan. “Dia selalu bilang kalau lagi kumpul sakitnya tidak terasa,” cerita Akhva.

Lima pemuda itu merancang ide, berjuang mewujudkannya, hingga menikmati keberhasilan bersama. Mereka lebih dari sekedar sahabat. Mereka adalah keluarga yang saling menjaga.

Kini, GFL telah berbadan hukum lewat PT Garuda Nusantara Eventures. Mereka berencana membuat seri berikutnya di Bogor pada Januari 2026.

Selain membina atlet, GFL juga menghidupkan ekonomi kreatif. Mereka menggandeng UMKM di sekitar venue, membuka peluang kerja bagi mahasiswa, dan menampilkan musisi lokal di setiap seri. Dari event futsal, GFL menjelma jadi ruang kolaborasi lintas sektor.
Legenda futsal dunia asal Brasil Falcao pernah menyebut bahwa futsal merupakan olahraga yang harus dinikmati para pemain dan penonton. Lewat GSL, lima pemuda itu membuka lebar pintu gerbang bagi pemain menunjukkan bakatnya serta memberikan kesempatan penonton menikmati permainan. (*/aph)