
Sejak bertahun-tahun lalu, Amak Abdul Halim alias Meh (72) memimpikan bisa menanam padi. Guna mewujudkan mimpinya, ia menggalang warga untuk membangun yang menjadi sumber air sawah di dusunnya. Impian Meh akhirnya terwujud. Dusunnya kini memiliki embung yang bisa mengairi 35 hektar sawah milik warga. Mimpinya untuk menanam padi bisa jadi barang jadi.
Khaerul Anwar
Meh tengah sibuk ketika ditemui akhir Februari lalu di Dusun Lendang Batu, Desa Sukamulia Timur, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Ila sedang membersihkan embung dari eceng gondok, sampah plastik, daun kering, potongan batang pohon, dan ranting yang dibawa arus sungai. Limbah yang mengotori saluran irigasi, dekat pintu masuk air ke dalam embung, pun ia bersihkan.
la tidak ingin limbah itu menyumbat saluran air dan banjir seperti yang terjadi pada awal Februari 2018. Akibat banjir itu, beberapa titik saluran irigasi teknis dekat embung itu kini dindingnya bergeser.
Meh mengelola embung itu nyaris sendirian. Tugas rutinnya adalah mengatur volume udara, membersihkan kolam embung dari kotoran, dan membantu distribusi udara. “Saya juga jadi pekasih (petugas pengatur air) • embung ini. Jadi, kalau ada yang butuh udara, harus menemui saya ka- rena saya yang pegang kunci pintu air embung,” tutur Meh.
Tidak ada upah yang didapat dari pekerjaan itu. Namun, Meh sama tidak setuju. Sejak awal, ia memang merekomendasikan “mengabdikan diri” untuk air embung ter- arti.
Buat Meh, embung itu sangat ber- tahun. la menceritakan, dulu sebelum ada embung, petani di dusunnya ha- nya bisa menanam tebu, singkong. dan jagung Hasil penjualan dari tiap komoditas itu hanya Rp 1,5 juta yang bisa menjadikan lahan pertanian sebagai reka menjadi sawah karena sarana dan prasarana tidak memadai. Sebenarnya, di dusun itu ada sungai yang sebut demi kepentingan bersama.
Meh dan warga dusunnya tidak sepanjang tahun, Namun, udara milik warga lantaran bentang alamnya kurang menguntungkan. kondisi itu. Meh yang pernah 22 tahun menjadi Kepala Dusun Lenairnya nyaris tidak pernah kering itu tidak bisa dialirkan ke lahan-lahan.
Meh sejak lama prihatin dengan dang Batu telah melakukan banyak cara untuk membelokkan air sungai ke lahan warga. Hal itu setidaknya ia lakukan sejak tahun 2000-an. Namun, usahanya tidak juga berhasil.
Setelah mengetahui kondisi alam di dusunnya, ia berkesimpulan, perlu dibangun sebuah embung yang bisa mengisi aliran air sungai. Air yang ditampung di dalam embung nantinya bisa mengalirkan ke air sawah milik warga lewat saluran irigasi.
Menyumbang tanah Meh berusaha mewujudkan mimpinya membangun embung. Karena wah letak sungai dekat dengan lahannya, ia bersedia menyumbangkan sebagian tanahnya untuk pem- bangunan embung. “Sudah lama saya merekomendasikan menyumbang tanah untuk bikin embung yang bisa bermanfaat bagi orang banyak, sekaligus menjadi amal-jariah saya kepada masyarakat,” ujar Meh, Minggu (18/2).
Namun, donasi saja tidak cukup. Untuk membangun emisi dan irigasi diperlukan biaya yang sangat besar, yang tanggung jawab oleh Meh dan warga. Be untung, pada Agustus 2017, ia mendengar Kementerian Pertanian se dang menjalankan program cetak sawah baru. Dusun Lendang Batu yang disasar. tanah saya untuk dibangun embung. “ujarnya. Ia menghibahkan 150 meter ditinggali Meh termasuk wilayah” .
Mendengar Program ini ada di dusun kami, saya langsung menawarkan persegi tanah dari apartemen. la juga membujuk warga hektar lahan agar menghibahkan tanah untuk bung.
Tidak lama kemudian, Kementerian Pertanian melalui dana APBN 2012 235 juta, antara lain, untuk dana pembangunan fasilitas penampung udara. Pengerjaan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dan nberikan subsidi sebesar.
Proyek itu menghasilkan embung pembangunannya rencana selama dua bulan. yang diimpikan Meh dan warga Dusun Lendang Batu. Embung berukur- an panjang 55 meter, lebar 33 meter, dan dalam 2,75 meter itu mampu menahan udara hampir 5.000 meter kubik.
Berkat embung itu, kini 35 hektar sawah milik 50 petani bisa dialiri udara. Dengan aliran udara itu, Meh dan sambil menunjuk tanaman padinya yang subur dan batangnya mulai lengkapi saluran irigasi sehingga berapa petani Dusun Lendang Batu bisa menanam padi untuk pertama kali tahun ini. “Mudah-mudah sebulan lagi saya panen,” ucap Meh tumbuh bulir.
Kendati begitu, Meh mengaku be- lum puas. Ia berharap embung dimanfaatnya bisa dirasakan lebih dasar dari petani di Dusun Lendang Batu dan beberapa dusun tetangga. Ukurannya, kapasitas air embung itu sebenarnya bisa mengaliri 150 hektar sawah.
Bangun jalan
Selain soal embung, Meh juga me melopori pembangunan jalan dan emperlebar membujuk warga agar menghibahkan secuil lahan mereka untuk jalan. Awalnya, Meh mengalami masalah mengingat sawah dan kebun di dusun cang di sawah. Ia itu dikelola oleh penggarap, pemiliknya tinggal di daerah lain.
Karena penggarap tidak bisa memberikan keputusan, Meh kemudian menghubungi pemilik la- han dan mengutarakan maksudnya. Lewat pendekatan Meh, pemilik tanah tidak setuju dengan tanahnya dipangkas sedikit untuk pelebaran ja- lan.
Selama dua tahun terakhir, terbangun dua jalan di dua lokasi, masing-masing sepanjang 1 kilometer dan 50 meter dengan lebar 4 meter. Jalan yang dibangun secara gotong royong itu memperlancar mobilitas alat dan mesin pertanian serta mudahkan kendaraan roda empat mengangkut sarana produksi dan pengangkutan hasil produk perta nian menuju areal sawah petani.
Kepedulian Meh pada kehidupan sosial masyarakat boleh jadi tumbuh berkat pengalamannya menjadi Pala Dusun Lendang Batu selama 22. tahun-record terlama kepala dusun dalam sejarah pemerintahan Desa Sukamulia Timur. Setelah mundur sebagai kepala dusun tahun 1999, ia tetap mencoba merealisasikan ga- gasannya untuk membangun dusun, antara lain membangun embung dan jalan. Gagasannya relatif mudah di- terima warga karena mengasuh je- las. Dusun jahteraan, ia tidak setuju bahwa
Meh berkata akan terus ikut membangun dusunnya. Demi kese- untuk menyumbangkan tanah, pi- kiran, dan tenaganya. Ia hanya minta tolong, “Sisakan sepetak tanah dekat embung itu untuk makam saya bila meninggal kelak.”
Sumber: Kompas.20-Maret-2018.Hal_.16
